Papa selalu berujar, dia sangat menyukai mata biruku. Senada dengan warna laut. Mata yang menyimpan kedamaian. Warna yang menyiratkan kelembutan. Sama seperti milik Mama.
Dahulu, sepuluh tahun yang lalu, Papa dan Mama sering melihat laut. Menghirup aroma laut yang asin bercampur amis. Merasakan dera ombak yang menghantam kulit hingga menusuk tulang. Bagi mereka, laut adalah tempat di mana pertemuan dan perpisahan saling berikatan. Jika cinta harus ada saksi, maka laut adalah saksi pertama saat pertama kali Papa memutuskan untuk mencintai Mama.
Aku tidak tahu banyak tentang Mama. Aku hanya mengenal sosoknya dari kisah-kisah yang diceritakan Papa. Aku hanya merangkai bayangannya dari kata-kata Papa. Aku tidak pernah benar-benar melihat wajahnya. Wajah jelita yang membuat Papa sungguh mencintainya. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang darinya. Kasih sayang yang menghantarkan Papa kepada cinta yang mengakui sisi luar dan dalam manusia. Mama seperti tokoh fiksi yang hadir di setiap buku yang kubaca di waktu luang.
Mama meninggal beberapa bulan setelah melahirkanku. Diriku di masa kecil, yang belum bisa merekam citra Mama, adalah sebuah kesalahan karena terlahir ke dunia ini. Aku seperti singgah di sebuah ruang kosong tak berpenghuni, tidak memiliki perabotan, dan tidak memiliki warna. Lalu ketika aku hendak keluar, kutemukan diriku terkurung, tanpa ada celah yang bisa kugunakan untuk lepas dari dinding yang memerangkapku.
Jika aku tidak ingin merindukan Mama, maka aku memiliki alasan kuat. Aku tidak pernah bertemu dengannya, maka aku tak perlu merasa kehilangan dirinya. Kehilangan hanya timbul jika sesuatu terampas dari dalam diri manusia.
Papa adalah satu-satunya orang yang kehilangan Mama. Telah banyak kenangan yang mereka buat bersama. Dan semua itu pudar. Punah. Pupus. Hilang dari kehidupan Papa. Mama menjadi tokoh sejarah di dalam hidupnya. Hanya tersisa cerita-cerita manis untuk dikenang, tanpa bisa diulang kembali. Menyisakan kisah manis, namun menggurat luka yang diiris kerinduan.
Selain laut, kopi adalah pemicu lain yang bisa membuat kenangan Papa kepada Mama tersulut kembali. Kopi adalah satu-satunya wadah yang mengisi kesamaan di keluarga kecil kami. Kami adalah keluarga yang memfavoritkan kopi.
Papa membuat kebun kecil di halaman rumah, berisi pohon-pohon kopi yang rutin disiramnya setiap hari. Katanya, jika menyiram pohon-pohon kopi itu, dia jadi teringat Mama yang dulu sering melakukan hal yang sama.
Kalau pagi, sebelum aku berangkat sekolah, Papa pasti menyiapkan secangkir kopi hangat di atas meja. Ada tiga cangkir kopi yang tersaji, untuk dua orang. Papa menganggap ada orang ketiga yang hadir di meja itu. Tiga cangkir untuk tiga orang, katanya. Dan Mama adalah orang ketiga itu. Walaupun raganya sudah tidak ada, tetapi sosoknya selalu muncul ketika kami minum kopi bersama. Awalnya, aku tidak percaya. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku percaya, orang yang telah tiada akan hadir dalam bentuk kenangan yang membungkus kesadaran untuk bisa berada di antara orang yang disayanginya.
“Kopi tidak terlalu bagus untuk anak kecil. Papa bikinin teh aja, ya?” ujar Papa, mengulang pertanyaan yang sama seperti hari-hari lalu. Pertanyaan yang sebetulnya telah dia ketahui jawabannya. Seperti formalitas saja.
“Aku lebih menyukai kopi, Pa,” sahutku menolak.
Papa tersenyum. Di seduhnya kopi itu, lalu dihidangkannya ke hadapanku.
Hubunganku dan Papa sebenarnya tidak terlalu baik. Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Hampir larut malam barulah dia pulang. Di hari normal, aku berani berkata bahwa kami nyaris tak pernah bertemu. Hanya hari liburlah kami baru benar-benar bertatap muka dan bercerita. Aku sudah terlanjur enggan untuk bercerita dengannya. Aku sampai menyimpulkan bahwa Papa tidak peduli denganku. Namun Papa tidak menghiraukan anggapanku tersebut, dia tetap bercerita, tentang masa lalu, tentang Mama.
Katanya, Mama adalah wanita yang cuek dan pendiam. Mendekati wanita seperti Mama adalah kemustahilan bagi Papa. Berpuluh kali penolakan telah dia dapati. Namun Papa tidak pernah menyerah. Dia tahu, Mama tidak pernah benar-benar menolaknya. Mata birunya terlalu lembut untuk menyiratkan ketidaksukaan apalagi kebencian. Sorot matanya seakan meminta pertolongan, menunggu seseorang untuk menyelamatkannya dari jurang kesepian.
Masa lalu, jauh sebelum aku lahir, sebelum pertemuan Papa dan Mama, adalah sumber dari kesepian Mama. Mama di masa kecil tidak lebih baik daripada diriku di masa kini. Mama mengarungi kehidupan tanpa sosok orangtua. Nenek meninggal saat dia kecil. Kakek bunuh diri tak lama setelah nenek meninggal. Dia tinggal dengan pamannya. Namun Mama sudah terlanjur tahu bahwa dirinya tidak akan pernah mengerti arti dari keluarga sebenarnya. Masa kecilnya digerogoti kesepian dan kehampaan. Sebuah jurang menjeratnya. Dia mengharapkan pertolongan, namun harapan adalah sesuatu yang tidak dia miliki.
Papa adalah jawaban dari harapan yang akhirnya tumbuh. Perlahan, Mama mulai merasa terselamatkan oleh kehadiran Papa. Papa adalah sosok yang bercahaya. Mendung di dalam hati Mama sirna. Senyumnya berpendar kembali. Kehangatan dan kedamaian lahir di dalam diri Mama, untuk Papa, walau hanya sejenak, sebelum perpisahan menjemput Mama.
Daripada membeli kopi bubuk yang tinggal diseduh, Mama lebih memilih membeli biji-biji kopi yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru, kemudian digiling sendiri, dan dinikmati bersama.
Mama menghargai proses. Menggiling biji kopi bersama Papa akan menghadirkan kenangan baginya. Walaupun sebenarnya kenangan itu bukan untuk dirinya, melainkan bagi Papa yang sudah lebih dulu ditinggalkannya. Tangan Mama kecil dan lemah. Dia tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Selalu hadir sosok Papa.
Belakangan Papa tahu ada alasan mengapa fisik Mama lemah dan rentan terkena penyakit. Faktor keturunan, ada penyakit turun temurun dari keluarganya yang menyebabkan kekebalan tubuh mereka tidak terlalu baik. Alasan mengapa nenek meninggal adalah penyakit turun temurun ini. Dan sayangnya, Mama pun mewarisi ketidakberuntungan itu.
Jika mendengar dari cerita Papa tentang perlakuannya terhadap Mama, maka aku yakin caranya memandangku sangat mirip dengan caranya memandang Mama. Sosokku adalah refleksi Mama.
Sayangnya, baru belakangan aku menyadari betapa Papa mencintai dan menyayangiku. Selama ini aku menganggap Papa sebagai seorang yang tak pengertian dan selalu mengabaikanku, mementingkan pekerjaan daripada anaknya sendiri.
Tapi, tenanglah, Papa. Aku kini sudah paham. Papa mencintai aku dan Mama. Telah banyak rasa sakit yang Papa dapatkan karena mencintai orang-orang yang akhirnya meninggalkan Papa sendirian. Kehadiranku dan Mama meninggalkan kutukan berupa rasa rindu yang bergejolak. Kutukan yang tidak bisa disembuhkan. Namun Papa tetap kuat. Papa tidak pernah menyerah meniti kehidupan sendirian. Papa berusaha tegar dan menganggap kami masih berada di sisi Papa.
Setiap pagi, belum sempat matahari menjenguk langitt, Papa sudah bangun dan setia menyirami pohon kopi di halaman rumah. Sebelum berangkat kerja, selama lima belas menit, diletakannya tiga cangkir kopi di atas meja. Yang terlihat adalah tiga cangkir untuk satu orang. Namun bagi Papa, tiga cangkir untuk tiga orang. Dua orang yang berarti di dalam hidupnya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Aku dan Mama duduk mengitari meja kecil di ruang makan kami, menemani Papa.
Saat usiaku menginjak delapan tahun, tiba-tiba fisikku melemah. Kondisi tubuhku menurun drastis. Berbagai penyakit mendera tubuhku. Kematian semakin dekat, seakan mati adalah sosok karib yang kapan saja bisa menghampiriku. Setahun digerogoti penyakit, akhirnya aku mencurangi Papa dan pergi lebih dahulu dari dunia ini. Menyusul mama.
Dua orang wanita yang dicintainya pergi. Sosok kami hilang dari keseharian Papa. Tidak ada lagi mata biru langit yang menyejukkan hari-hari Papa. Bola mata yang menenangkan seakan berkata “semua akan baik-baik saja,” kepada Papa, sirna sudah dimakan waktu.
Papa tidak pernah absen menghidangkan tiga cangkir kopi di atas meja. Hanya itu cara Papa merasakan pelukan kami. Pelukan yang menguatkan dan menenangkan Papa. Walaupun Papa tidak bisa melihat senyum kami, namun dengan percaya diri, Papa membalas senyum kami sambil mengangkat cangkir kopi, lalu meminumnya. Kemudian Papa berangkat kerja, menunggu hari esok di mana Papa membuatkan tiga cangkir kopi lagi.



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

            Gadis itu berjalan di atas tanah lembab dan becek, sisa guyuran hujan semalam. Anak matanya berkeliaran kian kemari, mengeksplorasi lingkungan yang telah lama tak dia kunjungi. Terakhir kali dia mengunjungi kampung halaman keluarga ibunya itu adalah ketika masih berusia lima tahun. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saat kakeknya meninggal. Dia benar-benar bahagia ketika berkeliling dan melihat suasana perkampungan yang tenteram.
            Burung-burung berkicau, mengetuk dinding langit yang sepi. Bebunyian jangkrik menggetarkan pepohonan yang melambai-lambai diterpa angin sepoi. Cakrawala terlihat bersih, tak ada sisa mendung yang mengakar di sayap-sayapnya. Felisa meresapi setiap denyut yang didentumkan kehidupan yang bersemayam di rusuk malam yang perlahan menjelma menjadi pagi. Kakinya terus melangkah. Hingga, berhentilah dia di depan sebuah rumah kosong. Rumah itu terlihat tua. Dinding-dinding kayunya tampak kusam, namun kelihatan masih kokoh.
            Felisa memasuki rumah itu. Ketika dia masuk, dia mendapati dirinya berada di ruangan yang besar. Hanya ada dua kamar berukuran kecil yang terdapat di sana. Dari dalam, tempat itu kelihatan seperti gudang raksasa. Namun di dalamnya tak ada apa pun, kecuali sebuah piano berdebu yang terletak di tengah-tengah ruangan, dan beberapa kursi kecil yang diam membisu.
            Gadis itu mendekati piano itu. Disingkirkannya debu yang menumpuk di atas penutupnya. Piano tua itu tampaknya telah lama tertidur dan tak mengaum. Dia buka penutupnya, lalu dia duduk di kursi kecil yang mematung di hadapan piano itu. Walapun agak berdebu, namun tuts yang berjajar masih sanggup menggema dengan gagah.
            Felisa menutup mata. Dia berusaha memanggil kembali roh-roh yang terkubur di dalam alat musik tua itu. Jemarinya mulai merangkai melodi-melodi yang menggetarkan bangunan tua itu. Seakan piano itu mengisi kekosongan dan memberikan kehidupan yang telah lama direnggut dari gudang tua itu.
            Instrumen yang dirapalkan tuts demi tuts seolah membentuk sihir yang menelusup ke pepohonan di hutan belakang gudang itu. Mentari mulai berpendar, mengiringi gema suara piano yang menerjang langit. Melodi terakhir disudahi dengan nada yang panjang. Saat suara piano itu tak lagi berbunyi, suara tepuk tangan menggantikannya, seolah menyambut performa seorang maestro.
            “Permainan yang bagus. Sudah lama saya tidak mendengar permainan penuh penghayatan seperti ini.” Seorang pria tua tengah menatap ke arah Felisa dari bibir pintu. Rambutnya didominasi warna putih menua, hanya ada beberapa helai warna hitam. Kulitnya keriput, namun masih tampak sehat dan gagah.
            Felisa segera berdiri dan menunduk. “Maafkan saya, Kek. Saya telah lancang memainkan piano ini tanpa seizin Kakek.”
            Pria tua itu hanya tersenyum sembari melangkahkan kakinya mendekati Felisa. Diraihnya kursi kecil yang tergeletak tak jauh dari Felisa. Lalu diletakkannya kursi itu berhadapan dengan Felisa. “Aku belum pernah mendengar lagu tadi. Kamukah yang menciptakannya?”
            “Iya, Kek. Saya baru mencoba menciptakan lagu saya sendiri. Judulnya A Wish From The Sky. Bagaimana pendapat kakek tentang lagu saya tersebut?”
            “Lagu yang indah disertai permainan memukau. Bahkan langit tersenyum mendengar melodi indah barusan,” puji Pria Tua itu.
            Felisa tersipu. “Kenalin, Kek, saya Felisha Kartika.”
            “Saya Brata Adiwarman,” jawabnya.
            Felisa terkejut, bagaikan disambar petir selama sepersekian detik. “Kakek adalah Brata Adiwarman, pianis terkenal yang namanya tenar beberapa puluh tahun lalu itu?”
            Brata tergelak. Dia tak menyangka seseorang yang hidup sesudah masa keemasannya bisa mengenal dirinya. “Ya, itu aku. Tapi tak usah dibesar-besarkan. Aku bukan pianis sehebat itu.”
            “Saya telah membaca sejarah musisi-musisi terkenal di seluruh dunia, termasuk musisi tanah air. Tidak ada penikmat musik yang tidak mengenal anda. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan legenda hidup di sini,” ungkap Felisa dengan penuh takjub. Bibirnya tak berhenti mengoceh ketika mendengar nama Brata Adiwarman.
            “Ya, itu masa lalu. Sekarang saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang pria tua yang menikmati masa tuanya sambil menyeruput teh yang diracik langsung oleh tangan sendiri.”
            “Tapi,” Felisa tampak kebingungan,” mengapa Kakek menghilang tiba-tiba ketika karier Kakek tengah melejit dan berada di puncak?”
            “Ah, saya hanya merasa bosan saja. Saya bermain musik karena ada gairah yang bergejolak ketika saya terhanyut ke dalam permainan saya sendiri. Karena sudah lama bergelut di bidang itu, dan umur saya pun tak muda lagi, saya memutuskan untuk mengakhiri karier saya. Sesimpel itu,” tukas Brata.
            “Apakah kamu berasal dari keluarga musisi? Kalau saya boleh tau, siapa nama ibumu? Atau barangkali ayahmu? Atau kakek dan nenekmu? Atau, siapa pun di keluargamu yang berkecimpung di dunia musik,” Brata kembali bersuara. “Barangkali saya kenal mereka.”
            “Tidak ada musisi profesional di keluarga saya. Saya belajar bermain piano dari Ibu saya, Ranjani Lituhayu. Ketika berumur tiga tahun, Ibu kehilangan nenek. Ibu mulai belajar bermain piano karena alat musik itu adalah kesukaan nenek. Kata Kakek, Nenek cukup piawai memainkan alat musik itu. Namun mereka hanya sekadar menyenangi bermain musik saja. Mereka tidak pernah memasuki dunia profesional.”
            Brata tersenyum sembari menangguk-angguk. “Apakah kamu ingin menjadi pianis profesional?”
            “Tentu saja, Kek. Saya benar-benar menyukai bermain piano,” jawab Felisa tanpa keraguan. Tegas.
            “Saya melihat masa lalu saya di dalam dirimu. Ketika saya kecil, saya amat menyukai piano. Bagi saya, tak bisa hidup tanpa memainkan tuts yang selalu menggoda saya untuk merangkai melodi-melodi yang memuji alam semesta. Tapi perjalanan saya menjadi seorang pianis tidaklah mudah.” Brata menyudahi kalimatnya dengan nada yang menggantung. Seakan ingin melanjutkan, namun tersangkut oleh sesuatu. Cukup lama jeda yang bertaut. Felisa memandang wajah Brata, meminta kelanjutan dari perkataanya. “Apakah kamu ingin mendengar kisah hidup saya? Tetapi ini akan memakan waktu yang cukup lama?”
            Felisa mengangguk. “Dengan senang hati, Kek.”
            Maka, gudang tua beserta isinya terlempar ke masa lalu. Ruh mereka terbawa ke masa ketika Brata masih berumur belasan tahun.
            Brata kecil adalah anak yatim. Ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya. Dia anak semata wayang. Ayahnya adalah seorang pemain musik keliling yang bermain dari satu desa ke desa lain. Hanya pemain musik yang berpenghasilan sedikit, bukan orang tersohor. Brata mengagumi ayahnya. Dia bercita-cita untuk mengikuti jejak sang Ayah.
            Setiap hari di rumah kecilnya, Brata memainkan piano yang dibeli ayahnya setelah menabung selama beberapa tahun. Piano itu bagaikan jantung yang berdenyut dan membuat darah bergejolak setiap kali dimainkan. Brata mewarisi bakat ayahnya. Dia sungguh menguasai tuts demi tuts. Melodi yang bergetar dari pianonya seakan menyambut mentari pagi. Sonata yang dirangkainya seolah melepas perpisahan langit dan senja.
            Matanya terpejam. Brata hanyut bersama penghayatannya yang menembus langit. Ketika bait terakhir dari lagu perdana yang dia ciptakan itu usai, dia membuka mata. Brata terkejut. Ada seorang gadis yang mematutnya, hanya berjarak satu meter dari posisi Brata duduk di depan piano. Gadis itu telah berdiri di sana semenjak Brata mulai memainkan pianonya.
            “Bisakah kamu mengajariku bermain piano?” tukasnya tanpa menyapa terlebih dahulu.
            “Hei, siapa kamu? Tiba-tiba saja masuk ke rumah orang,” ucap Brata kaget.
            “Aku Sarah Tarasari. Salam kenal, ya. Kamu siapa?” tanya gadis itu.
            “Brata Adiwarman. Aku pianis paling hebat di kampung ini,” jawabnya memamerkan diri.
            Gadis itu tertawa. “Mustahil kalau yang terhebat. Tapi permainanmu sungguh indah. Aku seperti terbawa ke dunia yang kamu ciptakan. Benar-benar menelusup ke sanubari, sungguh.”
            Brata tak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, pipinya merona. Dia tersipu. Belum pernah dia dipuji seperti itu. Hanya ayahnya saja yang pernah mendengar permainannya. Dan ayahnya tak pernah memujinya. Hanya sekadar, “tingkatkan lagi permainanmu,” yang keluar dari mulutnya.
            “Kamu bisa memainkan piano?” tanya Brata.
            “Belum, tapi akan segera bisa setelah kamu bimbing,” ucap gadis itu yakin.
            Sejak itu, mereka berdua menjadi akrab. Hampir setiap hari mereka bertemu dan bermain bersama. Seiring berjalannya waktu, Sarah pun mulai menguasai permainan piano dengan baik. Brata benar-benar mengajarinya dengan bersungguh-sungguh. Sarah pun, dengan bakat yang entah dari mana, dan dengan keinginan yang kuat, menjelma menjadi pianis jelita yang perlahan permainannya mampu menyamai Brata.
            Sawah telah berpuluh-puluh kali berganti bibit. Kerbau yang biasa dilihat Brata telah melahirkan anak, cucu, hingga generasi yang tak bisa diidentifikasikan lagi sebagai generasi ke berapa. Telah beribu putaran yang dilalui jarum jam yang bersandar di dinding rumah. Kini Brata dan Sarah bukanlah anak-anak yang bisa bermain sekehendak hati mereka. Mereka telah remaja. Banyak tanggung jawab dan tuntutan masa depan yang harus ditempuh. Brata setamat SMA tak melanjutkan kuliah karena pada saat itu bangku perkuliahan hanya berlaku bagi orang-orang berduit. Lagi pula, dia menguasai permainan piano. Itu sudah cukup sebagai modalnya untuk merengkuh kehidupan yang lebih cerah. Sementara Sarah, tampaknya dia tak akan sering lagi datang ke rumah ini dan bermain piano bersama Brata.
            “Aku akan mengikuti jejak Ayah. Aku akan menjadi pianis terkenal hingga dikenal banyak orang,” ucap Brata menjelaskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. “Bagaimana denganmu?”
            “Aku akan kuliah ke Jawa. Orangtuaku ingin aku menjadi sarjana. Berhubung di kampung ini masih sedikit orang-orang yang menimba ilmu hingga ke perguruan tinggi,” kata Sarah.
            Brata cukup mafhum dengan rencana Sarah. Keluarga Sarah merupakan keluarga terpandang di kampung ini. Mereka adalah orang kaya yang memiliki hampir setengah dari total sawah yang ada di sini. Saudara-saudara Sarah pun bukan sembarang orang. Ada yang menjadi dokter, insinyur, dan pengusaha kaya raya. Sarah adalah anak bungsu.
            “Jadi, kita tidak akan pernah bertemu lagi ya?” ucap Brata. Kalimatnya seperti luka bekas irisan bilah tajam.
            “Brata, kita adalah sahabat sejak kecil. Walaupun kita tidak bisa seperti dulu lagi, namun aku berjanji akan pulang tiap tahun dan mengunjungimu. Kita tidak akan sering bertemu, namun ketika aku memiliki kesempatan, aku akan mengunjungimu. Aku janji,” tutur Sarah berusaha tenang. Padahal, di lubuk hatinya, Sarah menyimpan kesedihan dan rasa sepi akan kehilangan sosok Brata. Orang yang dikaguminya. Sekaligus orang yang secara diam-diam ia cintai.
            “Saat kamu berhasil membawa gelar sarjana nanti, aku akan memperlihatkan padamu sosok seorang pianis terkenal. Aku janji,” tegas Brata.
            Sarah mengangguk. “Aku percaya.”
            Mereka duduk di tengah persawahan, di atas dangau. Anginnya begitu sepoi. Gemerisik pepadian yang saling bergesekan menawarkan melodi yang tak kalah indah dengan gema piano yang biasa Brata bawakan. Tiba-tiba, Brata ingin mengungkapkan isi hati yang telah lama dia pendam.
            “Sarah. Aku ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini aku pendam. Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah. Namun aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”
            “Kamu ingin mengatakan apa? Ucapkan saja,” ujar Sarah penasaran.
            Brata ragu. Dia mengalihkan pandangan ke arah kerbau yang tengah melindas lumpur-lumpur lembek.
            “Brata?” Sarah meminta penegasan.
            “Sarah. Aku suka kamu. Maksudku, bukan perasaan suka sebagai teman.”
            “Maksudmu?” Sarah meminta penjelasan lebih. Ada harapan yang menggantung di hatinya.
            “Aku mencintaimu. Seperti langit yang ingin selalu bersama mentari. Layaknya laut dan pesisir yang saling bersahutan. Aku tidak tahu lagi harus mengungkapkannya seperti apa. Sepertinya sudah lama. Yang jelas, saat ini aku benar-benar mencintaimu, dan aku ingin perasaan ini bertahan untuk selamanya.” Brata menuntaskan tanda tanya di antara mereka selama ini.
            Air mata mulai menumpuk di kelopak mata Sarah. Brata menjadi panik. “Ma, maafkan aku. Lupakan saja apa yang kukatakan.”
            “Tidak. Aku justru sangat senang. Tahukah kamu, aku telah lama memiliki perasaan kepadamu. Dan aku bahagia karena ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan,” ungkap Sarah sembari menyeka punggung tangannya ke air mata yang mulai mengalir.
            Brata tersenyum. Dia bahagia karena dia memiliki kesempatan untuk bisa bersama Sarah di sepanjang hidupnya. Walaupun dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang jelas dia telah menemukan pintu itu. Pintu menuju kebahagiaan.
            “Tapi, kita tidak bisa larut dalam perasaan ini selamanya. Ada masa depan yang menanti kita. Ada cita-cita yang harus kita rengkuh. Hingga cita-cita kita tercapai, bisakah kamu menungguku dan fokus ke impian kita masing-masing?” tanya Sarah.
            “Ya, kamu benar. Untuk saat ini, kita harus menahan perasaan ini. Suatu saat nanti, aku akan kembali lagi kepadamu dan menungkapkan perasaanku kembali. Pada saat itu, aku akan mewujudkan impian kita yang lain, yaitu hidup bersama selamanya.”
            Sore itu adalah hari terakhir percakapan panjang di antara mereka sebelum Sarah pergi menuju pulau lain.
            Esoknya, Sarah berpamitan dengan Brata dan Ayahnya. Hanya sebentar, tak sampai lima menit, karena Sarah harus buru-buru berangkat. Dalam percakapan itu, mereka tidak menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan perasaan mereka. Hanya kalimat saling menyemangati satu sama lain.

**

            Empat tahun berlalu. Dunia berputar begitu cepat. Harapan menjadi cikal semangat untuk merengkuh impian. Sarah telah menyelesaikan pendidikannya di Jawa, dan kini telah kembali ke kampung halamannya. Brata pun mulai menempuh impiannya walaupun masih banyak yang harus digapainya. Brata saat ini sudah menjadi pianis yang lumayan dikenal di beberapa kampung. Namun dirinya masih jauh dari sosok pianis terkenal dan tersohor.
            Brata dan Sarah bertemu kembali setelah dua tahun semenjak terakhir kali mereka bertemu. Selama kuliah, Sarah hanya pulang satu kali. Dalam kurun waktu itu, mereka hanya bertukar kabar melalui surat sekali sebulan. Ketika bersua kembali, Brata merasa grogi. Sarah tumbuh menjadi gadis yang kian jelita.
            “Sarah, ini kamu?” Brata gugup.
            “Kamu sudah lupa denganku? Tega sekali,” ucap Sarah dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
            “Bu, bukan. Kamu sudah jauh berubah. Maksudku, sekarang kamu semakin cantik,” puji Brata.
            Wajah Sarah merona. Gadis mana pun yang dipuji oleh lelaki yang dicintainya pastilah akan bereaksi seperti Sarah.
            “Ah, bohong. Aku masih seperti dulu, kok. Ya waktu dulu aku memang sudah cantik, sekarang juga masih cantik,” cibir Sarah.
            Brata senang, gadis yang dia cintai kini telah kembali. Dia tak ingin berpisah lagi dari Sarah. Dia ingin selamanya bersama Sarah. Kali ini, dia harus benar-benar mewujudkannya.
            “Sarah, buka ini,” ucap Brata sembari menyodorkan sebuah kotak merah kecil.
            “Apa ini?” tanya Sarah. Brata tak menjawab. Matanya mengisyaratkan Sarah untuk membukanya.
            Sarah terkejut ketika membuka kotak itu dan di dalamnya berisi cincin emas berkilau.  Mata Sarah berkaca-kaca. Perasaannya bercampur aduk. Bahagia, terkejut, gugup, semuanya membaur dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
            “Pertama, aku ingin bertanya tentang kesediaanmu. Jika kamu bersedia menikah denganku, aku akan menemui keluargamu. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu. Dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu,” ungap Brata. Tekad dan kesungguhannya dikumpulkan di dalam kotak cincin itu.
            Sarah mengangguk, berusaha melepaskan sebuah kalimat, “Ya, aku sangat bersedia.”
            Siang itu, di hadapan piano yang telah lama tak mereka mainkan berdua, sebuah kesepakatan hati terbentuk. Namun tidak dengan jawaban yang diberikan oleh harapan. Harapan tak mutlak memberikan jawaban yang manusia inginkan.
            Malamnya, Brata pergi menemui orangtua Sarah.  Suasana kaku menyelimuti percakapan itu. Brata telah menyampaikan  keinginannya. Orangtua Sarah tampak tak cukup senang, terutama sang Ayah.
            “Saya pernah mendengar namamu. Kamu pemain musik keliling kan?” tanya Ayah Sarah.
            “Iya, Pak. Saya baru beberapa tahun memulai karier sebagai pianis. Tapi saya yakin kedepannya saya bisa menjadi pianis profesional yang sukses,” tukas Brata meyakinkan pria paruh baya di hadapannya.
            “Dengan segala hormat, saya tak bisa mengizinkan kamu untuk menikahi putri saya.” Jawaban Ayah Sarah cukup tegas. Suaranya bergetar, berat.
            Malam yang dingin kala itu perlahan mulai terasa seperti ditutupi salju tebal. Berat, beku dan dingin. Sarah merasa gelisah, sekaligus kecewa dengan jawaban ayahnya. Brata tak putus semangat. Sepucuk kekesalan tertaut di wajahnya.
            “Pak, apa yang salah dengan pekerjaan saya? Saya memiliki potensi, dan saya yakin tak lama lagi saya bisa menjadi orang yang sangat pantas meminang putri bapak.” Kali ini, nada bicara Brata mulai meninggi. Bukan bentuk dari kelancangan, namun penekanan dan penegasan serta keberanian.
            “Saya tak bisa menunggu lebih lama. Lagi pula, tak ada jaminan bahwa kamu bisa meraih kesuksesan dengan cepat. Saat ini kamu bukan apa-apa. Saya tidak bisa menerima kamu,” tegas Ayah Sarah. Sebentuk keegoisan melintas. Keegoisan yang melukai hati Sarah, dan memukul tekad Brata.
            “Oh, iya, sekalian saya ingin mengumumkan sesuatu,” imbuh ayah Sarah kembali. “Tak lama lagi Sarah akan saya nikahkan dengan anak dari seorang kawan lama. Pria yang satu ini masa depannya jelas. Dia dulu adalah kakak tingkatnya Sarah di perguruan tinggi.”
            Harga diri Brata benar-benar diluluh lantahkan saat itu. Perasaannya hancur seperti tembikar yang dihempas dan menjadi kepingan-kepingan kecil. Pada titik itu, dia tahu tak ada tempat untuknya. Kesempatan tak pernah ada baginya.
            “Ayah tidak pernah bilang tentang pernikahan itu. Lagi pula Sarah tidak ingin dijodohkan. Sarah ingin menjalani hidup sendiri. Sarah yang akan memilih tujuan Sarah. Ayah tidak bisa mengatur,” pekik Sarah. Suaranya pecah. Tangis mulai membuncah. Malam itu terasa begitu perih. Serpihan kaca seakan menusuk-nusuk hati.
            “Nak Brata, sebaiknya kamu pulang saja. Suasana sudah tak enak lagi,” ucap sang Ayah.
            Brata bangkit dari kursi, menunduk hormat ke arah ayah dan ibu Sarah. “Saya permisi, Pak, Bu.” Kemudian sebelum dia menuju pintu, dikirimkannya seulas senyum ke arah Sarah yang sedang menangis. Dia berharap semoga senyum sederhana itu mampu menenangkan hati Sarah. Walaupun dia sadar, saat ini hatinya sama sekali tak tenang. Banyak harapan yang hancur lebur. Brata tahu pintu menuju hubungannya bersama Sarah tak lagi terbuka. Telah tertutup rapat.
           
**

            Beberapa bulan berlalu semenjak penolakan Ayah Sarah terhadap Brata. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Sarah masih sering berkunjung ke rumah Brata. Namun Brata tak cukup senang akan hal itu. Dia masih mencintai Sarah, namun dia sadar cinta bukanlah hal sesederhana itu. Manusia tak bisa saling mencintai jika tujuan mencintai itu sudah tak ada lagi.
            “Sarah, mulai detik ini, tampaknya kita harus berpisah. Kita telah dewasa, tidak bisa bermain dengan perasaan. Kita tidak mungkin bersama, dan jalan masing-masing sudah menunggu kita. Mungkin Ayahmu benar, ada laki-laki lain yang lebih baik daripada aku. Ini bukan masalah saling mencintai lagi, melainkan saling memiliki. Kita bisa saling mencintai, namun mustahil untuk saling memiliki. Ya, aku rasa, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi,” Brata berucap. Dia berusaha terlihat tegar dan yakin dengan kalimatnya. Walaupun sebenarnya hatinya ngilu seperti disayat sembilu.
            “Kamu yakin?” tanya Sarah, tak percaya.
            Brata mengangguk. Sarah mulai terisak.
            Kini Sarah sadar, mereka berada di dunia yang tak bisa dicampur adukkan dengan khayalan dan angan-angan. Mereka hidup di dalam fakta dan keterikatan yang tak bisa dilepas hanya dengan impian semata. Manusia tidak bisa bertindak sesuai keinginan.
            Sarah membalikkan badannya, bersiap untuk meninggalkan Brata, mungkin untuk selamanya.
            “Sarah, perasaanku kepadamu tidak akan pernah berubah,” Brata berusaha melepas perpisahan itu dengan senyuman. Senyum yang sangat dipaksakan.
            “Aku akan mencintaimu selamanya,” ujar Sarah masih terisak. “Walaupun tidak bisa saling memiliki, bukankah tidak ada yang melarang perasaan cinta? Terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku, Brata. Aku tak akan pernah melupakanmu, semua kenangan yang pernah kita lalui.
            Pandangan yang saling bertabrakan untuk terakhir kalinya itu diiringi kesedihan, namun mereka saling merelakan satu sama lain. Merelakan adalah komponen termujarab untuk saling melepaskan ikatan yang telah dibangun sejak lama.
            Semenjak itu, Brata tak pernah bertemu dengan Sarah lagi. Dia hanya fokus kepada kariernya. Dia ingin menjadi pemain pianis terkenal yang karya-karyanya didengarkan oleh seluruh orang di Indonesia. Satu dari dua impiannya telah gugur. Impian yang tersisa tak boleh kandas. Dia harus berjuang.
            Kini Brata sudah semakin berkembang. Tawaran perform diterimanya dari berbagai daerah. Bahkan tawaran manggung dari luar Sumatera pun mulai berdatangan. Karier Brata semakin menanjak.
            Sementara Sarah, hari ini dia melangsungkan pernikahannya. Brata tak tahu apakah Sarah sudah bisa merelakan dirinya dan menerima pasangannya dengan sepenuh hati. Dia berharap Sarah sudah bisa melepasnya dan membangun rumah tangga dengan seseorang yang lebih pantas dicintainya saat ini.
            Undangan pernikahan juga sampai ke rumahnya, diantarkan oleh seorang kurir. Brata tak bisa menghadirinya karena ada tawaran manggung di Ibukota. Lagi pula, Brata tak ingin datang ke sana. Hanya akan menyayat hati lebih dalam dan lebar saja. Brata pun yakin, Sarah tak berharap dirinya datang. Surat itu ditujukan dalam wujud formalitas semata. Mereka ingin saling menjaga jarak, mengindari pandangan, agar proses merelakan ini bisa berjalan dengan semestinya.
            Semenjak tawaran bermain di Jakarta, Brata mulai kebanjiran undangan di daerah Jawa. Dengan keyakinan yang kuat, dia pindah ke Jakarta. Namun tidak dengan sang ayah. Ayahnya menolak untuk diajak dan ingin menghabiskan masa tuanya di kampung halaman. Walaupun khawatir, Brata menerima keputusan ayahnya dan berkirim uang setiap bulan kepada sang Ayah.
            Dalam aktivitasnya yang padat dan sudah memasuki jenjang profesional, Brata menjalani kariernya dengan sungguh-sungguh. Walaupun tak dapat ditampik bahwa sesekali bayangan Sarah melintas di benaknya. Kilasan masa lalu berdenyut-denyut di nadinya. Brata percaya merelakan bukan berarti melupakan. Kenangan itulah yang membuatnya kuat dan ingin mengalahkan sosok lemahnya di masa lalu.
            Kalender di dinding rumah baru yang terbilang lebih dari sekadar rumah kecil sederhana telah menggugurkan tanggal demi tanggal serta bulan demi bulan. Kalender demi kalendar berganti setiap waktu, pertanda jumlah tahun mulai bertambah. Kehidupan terus bejalan. Ketetapan hati terus menguat.
            Namun tidak selamanya manusia menjadi makhluk yang kuat. Walaupun telah menoreh karier yang berkembang pesat, kabar duka tak pernah gagal memelahkan keteguhan. Dari kampung halaman, datang sepucuk surat dari teman lamanya. Di surat putih itu terbubuh tinta hitam yang mengabarkan bahwa sang ayah telah meninggal.
            Pada titik itu, Brata merasa dia telah gagal menjaga sesuatu berharga yang harusnya tak dia lepas. Dia berhasil meraih impiannya, namun gagal menyimpan harta tak ternilai. Sang ayah telah tiada.
            Brata pulang ke kampung. Tangis haru mewarnai rumah kecilnya. Banyak orang yang berdatangan, baik yang pernah bertemu dengannya maupun orang-orang yang bahkan batang hidungnya belum pernah dilihatnya sama sekali. Dia menyadari ternyata walaupun Ayah bukanlah pianis yang namanya tenar dan meraih kesuksesan seperti dirinya saat ini, tetapi Ayah adalah sosok yang dikenal dan diingat oleh orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Ternyata inilah yang membuat Ayah mencintai profesinya. Dan dia merasa semakin terlecut untuk terus berkarya dan membuat semua orang mencintai dan mengingat sosoknya.
            Tujuh tahun Brata telah meninggalkan kampung halaman, telah banyak hal yang berubah. Termasuk bagian dari masa lalunya. Brata sebenarnya sama sekali tak ingin mengetahui kabar Sarah. Namun seorang teman lama memberitahunya kabar terakhir tentang Sarah. Kabar yang tak ingin didengarnya sama sekali. Dua tahun yang lalu Sarah meninggal.
            Menurut teman lama tersebut, Sarah meninggal tanpa alasan yang jelas. Tubuhnya semakin lemah dari hari ke hari. Entah apa penyakitnya. Hingga sampai suatu titik, Sarah benar-benar tak berdaya. Dan berita duka pun tersiar.
            Kepingan masa lalu adalah salah satu fondasi pembentuk masa depan. Kini, Sarah yang membuat dirinya kuat untuk meraih impian, sudah tak ada lagi. Dan malangnya, dia baru mengetahui hal ini setelah dua tahun Sarah meninggal.
            Dia memutuskan untuk kembali menemui Sarah setelah sekian lama tak berjumpa. Namun kali ini berbeda. Perjumpaan kali ini bukanlah pertemuan yang melibatkan dua pasang mata yang saling bertatapan. Hanya sepasang mata dan setonggok nisan yang beradu.
            Tangis Brata tak mampu dibendungnya lagi. Dia menangis dengan lara yang meruah hingga meluapkan kesedihan yang mendalam dari lubuk hatinya. Sama halnya ketika dia mengetahui ayahnya meninggal, begitu pula dengan Sarah. Dua orang yang ia cintai kini pergi dan tak akan pernah menunjukkan wajahnya lagi di hadapannya.
            Brata masih hanyut dalam kesedihan. Tak lama kemudian seseorang berdiri di belakangnya. Seorang pria dengan kemeja rapi serta seorang anak perempuan kecil yang masih balita.
            “Brata Adiwarman, sang pianis paling berbakat di Indonesia?” ucap pria itu sembari menodongkan tangan kanannya ke arah Brata.
            “Benar. Tapi, saya tidak sehebat itu,” balas Brata membalas tawaran salam dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri menyapu mata dan pipinya yang bersimbah air mata.
            “Saya Rangga Rianjaya, suaminya Sarah,” tukasnya.
            Brata tak tahu harus bereaksi apa saat itu. Ada sepucuk kekesalan yang bercikal di hatinya. Bukan karena marah terhadap Rangga yang merebut orang yang ia cintai, melainkan marah karena orang itu tak bisa menjaga Sarah dengan baik.
            “Saat ini kamu sedang berspekulasi tentang apa yang terjadi di antara saya dan Sarah, kan? Sebelum kamu salah sangka, akan saya ceritakan terlebih dahulu.” Seolah menangkap sorot mata Brata, Rangga berusaha menenangkan situasi.
            “Sejak awal pernikahan kami, saya tidak mengetahui masa lalu Sarah, juga tentang kehadiranmu dalam kehidupan Sarah,” Rangga mulai bercerita. “Saya dan Sarah hanya dijodohkan. Saya kira Sarah mencintai saya dengan tulus. Itulah apa yang saya yakini, namun bukan seperti itu kenyataannya.”
            “Beberapa tahun awal pernikahan kami, tidak ada hal yang aneh. Walaupun terkadang saya sempat melihat Sarah termenung dan kesepian. Namun ketika saya bertanya padanya, dia selalu menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Namun setelah empat tahun membangun rumah tangga, kondisi Sarah memburuk. Dia sering termenung. Badannya melemas. Dia tak ingin makan. Sebagai orang yang mencitainya, saya tak tahu harus berbuat apa. Dan saya juga tidak tahu kesalahan apa yang saya perbuat. Setiap hari Sarah menulis sebuah diary. Saya menyadari itu walaupun setiap kali saya mendapati dirinya menulis secara diam-diam, dia langsung menyembunyikannya. Saya tak pernah tahu isi diary itu, karena saya tidak berani membukanya tanpa seizin Sarah,” Rangga terlihat sedih ketika mengingat masa lalu itu. Masa ketika dirinya merasa tak ada lagi di hati Sarah.
            “Hingga akhirnya Sarah meninggal. Kenyataan itu membuat saya sangat terpukul. Sarah meninggalkan saya tanpa sepatah kata pun, serta meninggalkan tanda tanya yang besar. Sampailah saya ke satu kesimpulan, saya harus membaca diary Sarah. Barangkali ada petunjuk di sana. Dan memang benar. Sarah menceritakan masa lalunya ketika dirinya masih kecil. Dia bercerita tentang dirinya ketika pertama kali bertemu dengan sosok lelaki yang dicintainya, seorang pianis. Mereka tumbuh bersama. Saling mendukung satu sama lain. Hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Namun cinta mereka tak pernah bersatu, karena perjodohan yang seharusnya tidak pernah terjadi.”
            Mata Rangga mulai berkaca-kaca. Dia kembali melanjutkan isi dari diary tersebut. “Bersama suaminya, Sarah berusaha untuk merelakan orang yang dia cintai itu. Dia mencoba untuk mencintai suaminya. Namun cinta yang dipaksakan tidak pernah benar-benar berakhir bahagia. Dia kembali teringat Brata yang saat ini entah di mana. Dia hanya ingin bertemu dengan kekasih masa lalunya itu. Rasa rindu itu menjadi penyakit. Penyakit yang menciptakan kesepian yang memenjarakan hatinya. Hingga orang-orang di sekitar Sarah pun tidak tahu apa yang harus diperbuat.”
Rangga menatap putrinya yang diam tak tahu apa-apa. “Setelah Sarah meninggal, saya merasa bersalah karena telah hadir di dalam hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Selain itu, saya juga merasa marah kepada orangtua Sarah. Saya tak pernah mengira hubungan saya dan Sarah adalah hubungan yang dibangun di atas penderitaan dua orang yang saling mencintai. Hubungan dari sebuah perpisahan dua hati yang seharusnya dipertemukan.”
            “Masa lalu akan selalu membawa cerita manis ataupun cerita yang menyayat luka. Setidaknya saya benar-benar bersyukur, Sarah selalu mencintai saya, karena saya pun demikian terhadap dirinya. Namun di sisi lain saya tak mengharapkan hal itu terjadi. Seharusnya Sarah sudah benar-benar merelakan saya dan membuka lembaran baru di kehidupannya bersama lelaki lain,” ucap Brata. Kali ini penasarannya terbayar sudah. Walaupun jawaban itu sama sekali tak meringankan keperihan hatinya.
            Mulai saat itu, Brata terus mengejar karier hingga menjadi pianis terkenal di Indonesia. Bahkan namanya berkumandang hingga ke negara-negara lain.
            Walaupun meraih kesuksesan, Brata tidak pernah benar-benar bahagia. Sama seperti Sarah sebelum meninggal, dia pun masih terkenang sosok kekasih masa lalunya. Tak ada yang bisa menggantikan cinta Sarah di dalam hatinya. Hingga usia tua, Brata tak pernah berkeluarga.
            Di umur empat puluh tahun, Brata memutuskan untuk mengakhiri kariernya dan kembali ke kampung halaman. Semenjak itu, Brata tak pernah menyentuh piano lagi. Rumah lamanya dijadikan tempat persemayaman terakhir piano tua milik ayahnya, sementara di samping rumah lama itu, dia membangun rumah baru yang tak telalu mewah. Rumah tempat dia menghabiskan sisa umurnya. Rumah tempat dia menyeruput teh sembari membuka kilas balik masa lalunya bersama Sarah. Masa terindah di dalam hidupnya. Kenangan yang tak akan pernah dilupakannya. Keping memori yang menyusun perjalanan hidupnya.
           
**

            Air mata berlinang deras di pematang pipi  Felisa. Dia tak menyangka neneknya yang selama ini hanya dikenalnya melalui sebuah potret dan kisah yang diceritakan kakeknya adalah sosok yang paling dicintai pianis favoritnya, Brata Adiwarman.
            “Jika kamu mempunyai impian, jangan takut untuk meraihnya. Walaupun akan ada rintangan yang mengharuskanmu untuk merelakan sesuatu yang berharga, jangan pernah menyerah karena ada kebahagian yang menunggu di depan sana. Hidup adalah perjalanan. Kita menapaki proses demi proses. Kita akan kehilangan cinta dan kasih sayang. Namun pemahaman dan arti hidup yang sebenarnya akan kita raih ketika berhasil melewati semua ujian itu,” seru Brata seraya menepuk pundak Felisa.
            Felisa memeluk Brata dengan erat. Pelukan itu terasa hangat seperti saat Sarah memeluknya dahulu. Pelukan kebahagiaan ketika dia berhasil menguasai permainan piano yang diajarkan Brata.
            Gadis kecil itu pulang. Kini tinggallah Brata dan sesosok piano tua yang telah berpuluh tahun diasingkan. Brata duduk di hadapan piano itu, lalu mulai menggerakkan jemarinya di antara tuts-tuts yang telah lama mendambakan sentuhan tangan hangat Brata.
            Dia memainkan lagu ciptaan pertamanya itu dengan penuh penghayatan. Lagu yang pertama kali dia mainkan untuk Sarah.
            Lagu itu menggema hingga menembus langit yang kini telah sempurna dijilati sinar mentari. Senyum bahagia yang telah lama tak diunjukkannya, kini kembali terbit. Senyum terakhir untuk Sarah. Lagu terakhir yang mengantarkan perpisahan dirinya dan dunia yang pernah ditempatinya dengan berbagai suka dan duka.

            Together With You, Forever.


Aku tidak tahu pasti berapa usiaku. Lebih tepatnya, sejak kapankah aku harus menghitung waktu hidupku. Sejak aku berupa pohonkah? Sejak aku diolah menjadi kertaskah? Atau semenjak aku dikutuk dalam bentuk origami yang menjijikkan ini, mungkin?
            Yang jelas, aku tahu siapa yang harus kusalahkan. Aku terperangkap dalam takdir yang tak akan pernah kuterima. Dan sosok yang paling bertanggung jawab adalah tuhan. Pakai huruf kecil di “t”-nya, bukan kapital.
            Aku benci tuhan, dengan segala kekuasaannya dan sifat absolutnya yang memamerkan kesemena-menaan. Tak diberikannya a dan b kepada makhluk hidup agar bisa memilih jalan hidupnya. Bertanya tentang ketetapan yang dia berikan kepadaku pun tidak pernah. Dia pikir aku senang jadi origami. Kenyataannya tidak. Toh, dia tidak peduli, aku mau senang atau tidak. Dia tetap santai-santai saja menontonku dari atas sana. Entah, sampai sekarang pun, aku tak percaya yang di atas itu surga, seperti yang dielu-elukan banyak orang. Atau, lebih gawat lagi, dia sama sekali tidak peduli kepadaku, kepada kau, dan kepada semua makhluk hidup ataupun tak hidup.
            Makhluk hidup menyembahnya karena mengikuti apa yang dilakukan dan diajarkan orangtua, kakek-nenek, dan leluhurnya. Sah-sah saja. Aku anggap mereka yang melakukan itu adalah oknum-oknum yang beruntung karena secara kebetulan mendapat takdir yang dengan senang hati bisa mereka terima.
            Yang jadi masalah adalah makhluk hidup sepertiku, yang masih bertanya-tanya, kenapa sih tuhan memerangkapku di dalam wujud dan jalan hidup yang menyebalkan.
            Mungkin kau bertanya atas dasar apa aku membenci kehidupan sebagai sesosok origami. Ok, akan kujelaskan nanti. Namun akan kujabarkan terlebih dahulu kenapa aku ingin hidup dalam wujud lain.
            Aku senang saat mengetahui diriku terlahir sebagai pohon. Besar, kokoh, rindang, dan disenangi banyak pemburu dan pendaki sebagai tempat berteduh. Sebagai pengusir terik.
            Kebanyakan, pohon-pohon akan menghadapi dirinya ditebang secara masal. Diubah dalam bentuk yang bermacam-macam. Tak dapat dihindari memang, karena tidak semua dari kami yang beruntung dapat menyelami kehidupan sebagai pohon untuk selamanya.
            Nah, aku kagum dengan teman-temanku yang bertransformasi menjadi salah satu tulang rusuk dari sebuah rumah kayu besar nan kokoh yang berdiri di kaki Gunung Fuji. Keren.
            Pernah pula aku lihat salah satu teman yang tinggal di banjar yang sama denganku saat di hutan dulu, kini menjelma menjadi buku pengetahuan yang banyak dijamahi tangan-tangan calon ilmuwan. Kurang keren apalagi?
            Oh, iya, ada pula yang saat ini berubah menjadi gagang kapak yang sewaktu-waktu digunakan sebagai alat untuk menebang temannya sendiri. Tragis memang. Paling tidak, menurutku itu cukup bagus karena bisa bermanfaat bagi makhluk hidup lain. Lagi pula, dia masih sama kuatnya dengan dirinya yang dulu.
            Ketika aku tahu diriku menjadi sesosok kertas, aku bertanya-tanya, penulis seperti apakah yang akan membubuhi tinta padaku? Atau, diubah jadi brosur acara besar macam apakah diriku?
            Sial. Tak satu pun perkiraanku tepat sasaran. Meleset semua.
            Aku diubah menjadi kertas persegi. Beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai seniman, merancangku hingga menjadi sesosok burung kertas. Cantik, kata mereka. Apa-apaan ini, kataku.
            Jadi, aku hanya dijadikan pajangan di rumah seni sebuah komunitas. Aku bukan siapa-siapa. Hanya sesosok yang kaku dan rapuh. Iya, rapuh. Jika terinjak, maka rusak sudah wujudku. Wujud yang kata orang seharusnya aku banggakan. Namun kenyatannya tidak. Aku tidak sudi jadi origami. Malah, aku malu dengan wujudku.
            Coba sebutkan manfaat dan keuntungan yang ada pada diriku! Tak ada!
            Satu-satunya yang bisa dibanggakan oleh manusia adalah saat mereka berhasil mengubah bentukku dari secarik kertas pipih menjadi kertas  berbentuk tiga dimensi. Nah, itu kan mereka yang bangga. Bukan aku.
       Jika memang harus menjadi pohon, harusnya tuhan memberikanku pilihan dalam menempuh metamorfosis selanjutnya. Aku berhak.
            Tapi tuhan tetap kukuh menyuruhku untuk menjadi sepotong origami rapuh yang suatu saat akan lusuh dan dibuang begitu saja di tempat sampah. Nestapa sekali hidupku. Hidup tak ada asa, mati pun nelangsa.
            Oh, pernah sih, suatu ketika ada seorang anak yang menangis. Aku tidak terlalu tahu kenapa dia menangis. Bukan urusanku juga. Yang pasti, saat dia melihat diriku, dia berhenti menangis dan mulai tersenyum. Katanya diriku indah. Pada saat itu aku memutuskan definisi indah adalah sesuatu yang mampu menghentikan tangis dan membuat anak kecil tersenyum.
            Mulai detik itu, aku berhenti menyukai kata indah.
            Sekali lagi, kukatakan aku tidak terima menjadi origami. Takdir memang suka memilih-milih. Dan aku diberi pilihan yang tak enak. Dan perlu kutekankan sekali lagi, pencetus ide ini adalah tuhan.
            Aku rasa tidak ada lagi yang bisa kutawarkan dari kisah perjalanan hidupku. Tidak ada yang hebat. Hidupku hanya berisi kesialan.


Sumber Gambar: hdwallpaperbackgrounds.net/



Babi hutan itu menapak tanah dengan kaki-kaki mungilnya. Dia baru terbiasa berkelana di luar teritorial pengawasan induknya. Untuk ukuran babi hutan, dia sudah memasuki usia remaja. Induknya tak perlu khawatir sekalipun dia mencoba menyelinap ke hutan lain. Toh, nantinya dia akan pulang jua ke pangkuan keluarga kecilnya.
Babi hutan remaja itu sudah berkelana ke berbagai tempat dan melihat jendela dunia bersama induknya yang tak lelah menyusuri jalanan semak. Kini dia ingin sendiri, berkelana bersama pengalaman yang telah dicangkokkan induknya, serta melihat dunia yang belum pernah dipandangnya. Dia ingin lebih.
Dia melihat sungai yang dialiri lembaran air bening yang di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan yang menari-nari kegirangan. Dia menghirup aroma bunga yang semerbak, menenangkan pikiran dan mengendorkan urat syaraf yang menegang dari sisa perjalanan panjang. Hamparan sabana terbentang luas. Rumput-rumput panjang melambai-lambai ke arahnya, seakan mengundangnya untuk berlari-lari di sekitar mereka. Dahulu, setiap kali dia melihat keindahan alam itu, induknya akan berkata, "Kau hanya boleh melihat-lihat. Jangan mencebur ke dalam sungai. Kau tidak boleh terlalu dekat ke padang bunga. Dan kau tidak boleh berlari-lari di padang rumput yang luas." Tapi itu dulu. Kini dia sudah besar dan bebas melakukan apa saja.
Entah sudah berapa lama semenjak terakhir kali dia memandang mata induknya. Seminggu? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Dia tak tahu pasti. Yang jelas, semakin lama dia berpisah dari kawanannya, semakin banyak pula pengalaman yang dia dapatkan. Kini dia telah melihat berbagai tempat. Dia juga telah menemukan banyak spesies hewan. Kadang-kadang dia juga bersua predator yang hendak memangsanya. Untungnya, dia cukup cekatan untuk kabur. Hingga hari ini dia masih selamat dan keinginannya untuk berkelana belum pudur.
Pernah suatu ketika dia ceburkan tubuhnya ke dalam sungai. Perasaan sejuk dan dingin mengaliri tubuhnya. Arus sungai yang cukup kencang pun kadang hampir menyeretnya ke hilir. Dia paham, ketika kecil dulu, dia tak akan mampu menahan hawa dingin dan aliran sungai yang deras. Karena itulah induknya melarangnya.
Di masa mandirinya ini pula dia pernah bermain lebih dekat ke padang bunga yang luas. Berdiri sedekat itu membuatnya mampu mengendus bebungaan itu dengan bebas. Dia sadar, jika dahulu induknya tak mencegahnya bermain di padang bunga dengan jarak sedekat ini, pastilah padang bunga ini telah rusak dirambah kaki-kaki mungilnya, mengingat babi kecil belumlah mampu menahan emosi untuk melonjak kian kemari.
Ketika dia menemui padang rumput yang luas, dia paham, sabana bukanlah area bermain yang bersahabat. Banyak predator bersemayam di sana. Dia harus bisa membaca situasi dan menyelinap di antara tubuh-tubuh kurus rerumputan agar tak terlacak oleh anak mata predatornya.
Hitungan masa yang tak singkat telah dia jalani bersama induknya. Aturan yang diberlakukan sang induk telah memberikannya banyak pelajaran serta pengalaman. Baginya, seorang induk adalah kompas. Kini dia hanya mengikuti arah yang dituju jarum itu.
Langit menghitam. Hamparan awan berubah dari putih menjadi jingga, dan kini melegam berbaur bersama langit seolah lenyap tak berbekas. Angin mulai berembus kencang. Rintik hujan berjatuhan, perlahan bertransformasi menjadi hujan deras hingga mampu menggetarkankan tanah. Babi hutan itu buru-buru mencari pohon besar yang rindang untuk berlindung. Didapatinya sebuah pohon mahoni raksasa yang bertengger di antara belukar yang tak terlalu lebat. Dia meringkuk di bawah pohon itu, berharap hujan segera berlalu dan menghadirkan potongan rembulan di pucuk langit.
Jika sendirian dan ditemani dingin beserta gelap, rasanya keluarga adalah satu-satunya sumber penerangan yang benar-benar hidup. Rindu akan keluarga mulai menyelimuti pikirannya. Dia mengingat-ingat wajah Ibu, serta adik-adiknya. Keluarga kecil tanpa ayah yang mati ketika dia masih kecil dahulu terngiang di kepalanya seperti kaset yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat. Cepat, namun tampak nyata. Dia berpikir sudah saatnya pulang, menemui induknya, lalu menceritakan perjalanan panjang yang sudah ditempuhnya entah berapa bulan atau bahkan hitungan tahun lamanya.
Dia mantap untuk pulang. Kini ia coba untuk memicingkan mata. Deru hujan disertai angin bagaikan melodi pengantar tidur. Tak lama kemudian, dia tertidur pulas. Wajahnya tersenyum. Dia memimpikan keluarganya. Kebahagiaan tergurat di senyumannya.

***

Matahari memenuhi janjinya, ia muncul di puncak perbukitan dengan semburan cahaya yang menyelusup di celah-celah dedaunan pohon. Tanah lanyah mulai mengering. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan bekas, namun perlahan mulai pudar dilindas pagi yang membawa suasana semangat.
Babi hutan itu telah membuka matanya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya. Jalan pulang tak pasti, entah ke mana arahnya. Namun tidak mencobanya sama sekali bukanlah sebuah pilihan. Dia coba mengendus jejaknya yang samar-samar. Langkahnya mulai menyusuri semak-semak. Dia kembali menerjang area terjal. Hadangan pemangsa tak luput menghantuinya. Tetapi dia tidak ingin menyerah. Pulang adalah tujuan utamanya saat ini. Baginya, pulang adalah akhir dari petualangan. Pulang adalah garis finish dari ekspedisi akbarnya.
Kadang dia bertanya kepada sekoloni ikan yang bergerak menyusuri sungai. Kerap pula dia menanyakan informasi kepada kupu-kupu yang melintas. Atau, dia mencoba bertanya ke arah pepohonan mahoni dan trembesi yang berdiri kokoh di tempatnya masing-masing. Namun tak satu pun didapatinya jawaban yang melegakan hati.
Kembali, dia melakukan perjalanan panjang yang memakan waktu panjang, sama seperti saat dia meninggalkan keluarga dan memulai petualangan mandirinya. Di dalam hati, dia mengumpat kepada dirinya sendiri, menyalahkan dirinya yang pergi terlalu lama dan jauh dari jangkauan yang bisa dia sadari. Kini jalan pulang pun tak ada bedanya dengan tempat yang belum pernah dia kunjungi. Tidak bisa diprediksi dan kabur seperti tertutup gumpalan kabut putih tebal yang tak menyodorkan setitik bayangan pun.
Suatu ketika, saat titik asanya hampir mencapai level terendah, akhirnya dia menemukan kali kecil yang di tepiannya terdapat batu raksasa yang saling memikul dan membentuk gundukan besar. Itu adalah kali tempat dahulu dia biasa minum dan bebatuan tempat dia dan sang induk beristirahat. Dia sudah tak jauh dari rumah. Keluarganya pasti ada di sekitar sini. Babi hutan itu mempercepat langkahnya. Keinginan untuk mengusap kepalanya di tubuh sang induk sudah tak terbendung lagi. Ingin sekali rasanya ia bermanja-manja bersama induknya seperti sedia kala. Namun setelah dia berlari ke bagian belakang bebatuan besar itu, bukan rumah yang hangat dan menenangkan hati yang dia dapatkan. Perasaan mencekik dan denyut yang berdentum keras tanpa henti mulai menghantamnya bertubi-tubi. Tak ada lagi rumah.
Tubuh sang induk dan saudara-saudaranya tergeletak kaku dan tak menunjukkan tanda kehidupan. Bahkan tubuh sang induk sudah tak lengkap lagi. Tercabik-cabik oleh sesuatu yang tajam.
"Apa yang terjadi?" tanya babi hutan itu ke arah pucuk pohon kecil di dekatnya. Ada burung macaw kecil bertengger di lengan pohon.
"Tiga hari lalu ada sekelompok manusia  melewati tempat ini. Ketika ibumu merasa terancam, dia mencoba menyeruduk mereka. Dan beginilah akibatnya. Manusia-manusia itu menghajarnya dengan beringas."
Babi hutan itu tak melanjutkan percakapannya dengan si burung macaw. Dia memandang tubuh keluarganya. Perasaan sedih menjalari tubuhnya. Air mata tak terbendung mulai mengalir. Dia teringat perkataan ibunya dulu, "Hukum rimba adalah aturan absolut di dunia kita. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan. Namun hal yang tidak kita sukai pasti akan menghampiri. Jangan bersedih dan membenci takdir. Jalani sisa hidup dan kesempatan yang kita miliki. Keinginan untuk hidup itu yang akan mengantarkan kita menuju tujuan perjalanan yang sebenarnya." Kalimat itu selalu menancap di benaknya. Entah sihir apa yang disisipi sang induk, namun dengan perkataan itu, babi hutan mampu terus memandang ke depan. Dia ingin terus hidup. Dia masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang dunia ini.
Dia mulai berlari. Kaki-kakinya yang kini telah terbiasa menerjang jalanan sekeras apa pun, tak akan mampu dikalahkan rintangan yang menghadangnya. Dia berlari, berharap, dan berteriak, "aku adalah sang petualang."
Perjalanan belum berakhir, bahkan ketika kematian datang.
Tidak lama setelah mendapati keluarganya mati, si babi hutan pun harus menghadapi takdir akhir. Dia mati di tangan pemburu yang lewat di sekitar daerah peristirahatannya. Dia ditembak ketika terlelap dan tak menyadari ada bahaya yang mengancam.
Namun ketika ajal menghampiri, dia tahu ada perjalanan baru yang akan menyambutnya. Dia sunggingkan senyum terakhirnya, tepat sebelum helaan napas terakhir.

***

Sebuah bar kecil di pinggir kota terlihat kusam. Tanah dan debu pekat berhamburan setiap kali pejalan kaki ataupun kereta kuda melintas, sehingga bar kusam itu tampak semakin kumal. Namun dalam kategori jumlah pengunjung, bar itu terbilang ramai. Tentu saja, bar itu berdiri bagaikan persinggahan wajib para pejalan jauh dari satu kota ke kota lain. Ada berbagai macam manusia yang memasuki pintu kecil bar yang berderit keras itu.
Babi hutan tadi telah memulai petualangan barunya. Setelah hari ajalnya, kini dia berdiam diri di bar kecil itu. Kepalanya dijadikan hiasan ruangan dan diletakkan di dinding dekat bartender yang tengah sibuk menuangkan segala macam minuman di gelas-gelas kosong yang menanti bibirnya disentuh mulut-mulut haus para pejalan jauh.
Dari dinding ini, dia bisa melihat seisi ruangan yang dibanjiri berbagai macam manusia. Dia bisa menyaksikan sifat, logat, gaya berpakaian, dan ciri khas para pendatang yang beristirahat di bar ini. Sudah cukup banyak petualangan alam liar yang dia jalani. Kini dia bisa rehat sejenak dan memperhatikan dunia lain yang belum pernah dijamahinya. Dunia manusia.
Dia teringat kembali perkataan induknya yang mengajarkan bahwa selalu ada ruangan yang belum pernah dikunjungi. Menemukan pintu ruangan itu adalah misi utama. Dan kini dia telah menemukan pintu itu dan memulai kehidupan di ruangan lain tersebut.


Catatan: Cerpen ini diciptakan untuk menjawab tantangan #NulisBarengAlumni dengan tema babi dari Kampus Fiksi. 
Komen anda sangat berharga.