Babi hutan itu menapak tanah dengan kaki-kaki mungilnya. Dia baru terbiasa berkelana di luar teritorial pengawasan induknya. Untuk ukuran babi hutan, dia sudah memasuki usia remaja. Induknya tak perlu khawatir sekalipun dia mencoba menyelinap ke hutan lain. Toh, nantinya dia akan pulang jua ke pangkuan keluarga kecilnya.
Babi hutan remaja itu sudah berkelana ke berbagai tempat dan melihat jendela dunia bersama induknya yang tak lelah menyusuri jalanan semak. Kini dia ingin sendiri, berkelana bersama pengalaman yang telah dicangkokkan induknya, serta melihat dunia yang belum pernah dipandangnya. Dia ingin lebih.
Dia melihat sungai yang dialiri lembaran air bening yang di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan yang menari-nari kegirangan. Dia menghirup aroma bunga yang semerbak, menenangkan pikiran dan mengendorkan urat syaraf yang menegang dari sisa perjalanan panjang. Hamparan sabana terbentang luas. Rumput-rumput panjang melambai-lambai ke arahnya, seakan mengundangnya untuk berlari-lari di sekitar mereka. Dahulu, setiap kali dia melihat keindahan alam itu, induknya akan berkata, "Kau hanya boleh melihat-lihat. Jangan mencebur ke dalam sungai. Kau tidak boleh terlalu dekat ke padang bunga. Dan kau tidak boleh berlari-lari di padang rumput yang luas." Tapi itu dulu. Kini dia sudah besar dan bebas melakukan apa saja.
Entah sudah berapa lama semenjak terakhir kali dia memandang mata induknya. Seminggu? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Dia tak tahu pasti. Yang jelas, semakin lama dia berpisah dari kawanannya, semakin banyak pula pengalaman yang dia dapatkan. Kini dia telah melihat berbagai tempat. Dia juga telah menemukan banyak spesies hewan. Kadang-kadang dia juga bersua predator yang hendak memangsanya. Untungnya, dia cukup cekatan untuk kabur. Hingga hari ini dia masih selamat dan keinginannya untuk berkelana belum pudur.
Pernah suatu ketika dia ceburkan tubuhnya ke dalam sungai. Perasaan sejuk dan dingin mengaliri tubuhnya. Arus sungai yang cukup kencang pun kadang hampir menyeretnya ke hilir. Dia paham, ketika kecil dulu, dia tak akan mampu menahan hawa dingin dan aliran sungai yang deras. Karena itulah induknya melarangnya.
Di masa mandirinya ini pula dia pernah bermain lebih dekat ke padang bunga yang luas. Berdiri sedekat itu membuatnya mampu mengendus bebungaan itu dengan bebas. Dia sadar, jika dahulu induknya tak mencegahnya bermain di padang bunga dengan jarak sedekat ini, pastilah padang bunga ini telah rusak dirambah kaki-kaki mungilnya, mengingat babi kecil belumlah mampu menahan emosi untuk melonjak kian kemari.
Ketika dia menemui padang rumput yang luas, dia paham, sabana bukanlah area bermain yang bersahabat. Banyak predator bersemayam di sana. Dia harus bisa membaca situasi dan menyelinap di antara tubuh-tubuh kurus rerumputan agar tak terlacak oleh anak mata predatornya.
Hitungan masa yang tak singkat telah dia jalani bersama induknya. Aturan yang diberlakukan sang induk telah memberikannya banyak pelajaran serta pengalaman. Baginya, seorang induk adalah kompas. Kini dia hanya mengikuti arah yang dituju jarum itu.
Langit menghitam. Hamparan awan berubah dari putih menjadi jingga, dan kini melegam berbaur bersama langit seolah lenyap tak berbekas. Angin mulai berembus kencang. Rintik hujan berjatuhan, perlahan bertransformasi menjadi hujan deras hingga mampu menggetarkankan tanah. Babi hutan itu buru-buru mencari pohon besar yang rindang untuk berlindung. Didapatinya sebuah pohon mahoni raksasa yang bertengger di antara belukar yang tak terlalu lebat. Dia meringkuk di bawah pohon itu, berharap hujan segera berlalu dan menghadirkan potongan rembulan di pucuk langit.
Jika sendirian dan ditemani dingin beserta gelap, rasanya keluarga adalah satu-satunya sumber penerangan yang benar-benar hidup. Rindu akan keluarga mulai menyelimuti pikirannya. Dia mengingat-ingat wajah Ibu, serta adik-adiknya. Keluarga kecil tanpa ayah yang mati ketika dia masih kecil dahulu terngiang di kepalanya seperti kaset yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat. Cepat, namun tampak nyata. Dia berpikir sudah saatnya pulang, menemui induknya, lalu menceritakan perjalanan panjang yang sudah ditempuhnya entah berapa bulan atau bahkan hitungan tahun lamanya.
Dia mantap untuk pulang. Kini ia coba untuk memicingkan mata. Deru hujan disertai angin bagaikan melodi pengantar tidur. Tak lama kemudian, dia tertidur pulas. Wajahnya tersenyum. Dia memimpikan keluarganya. Kebahagiaan tergurat di senyumannya.
Hitungan masa yang tak singkat telah dia jalani bersama induknya. Aturan yang diberlakukan sang induk telah memberikannya banyak pelajaran serta pengalaman. Baginya, seorang induk adalah kompas. Kini dia hanya mengikuti arah yang dituju jarum itu.
Langit menghitam. Hamparan awan berubah dari putih menjadi jingga, dan kini melegam berbaur bersama langit seolah lenyap tak berbekas. Angin mulai berembus kencang. Rintik hujan berjatuhan, perlahan bertransformasi menjadi hujan deras hingga mampu menggetarkankan tanah. Babi hutan itu buru-buru mencari pohon besar yang rindang untuk berlindung. Didapatinya sebuah pohon mahoni raksasa yang bertengger di antara belukar yang tak terlalu lebat. Dia meringkuk di bawah pohon itu, berharap hujan segera berlalu dan menghadirkan potongan rembulan di pucuk langit.
Jika sendirian dan ditemani dingin beserta gelap, rasanya keluarga adalah satu-satunya sumber penerangan yang benar-benar hidup. Rindu akan keluarga mulai menyelimuti pikirannya. Dia mengingat-ingat wajah Ibu, serta adik-adiknya. Keluarga kecil tanpa ayah yang mati ketika dia masih kecil dahulu terngiang di kepalanya seperti kaset yang diputar dengan kecepatan dua kali lipat. Cepat, namun tampak nyata. Dia berpikir sudah saatnya pulang, menemui induknya, lalu menceritakan perjalanan panjang yang sudah ditempuhnya entah berapa bulan atau bahkan hitungan tahun lamanya.
Dia mantap untuk pulang. Kini ia coba untuk memicingkan mata. Deru hujan disertai angin bagaikan melodi pengantar tidur. Tak lama kemudian, dia tertidur pulas. Wajahnya tersenyum. Dia memimpikan keluarganya. Kebahagiaan tergurat di senyumannya.
***
Matahari memenuhi janjinya, ia muncul di puncak perbukitan dengan semburan cahaya yang menyelusup di celah-celah dedaunan pohon. Tanah lanyah mulai mengering. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan bekas, namun perlahan mulai pudar dilindas pagi yang membawa suasana semangat.
Babi hutan itu telah membuka matanya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya. Jalan pulang tak pasti, entah ke mana arahnya. Namun tidak mencobanya sama sekali bukanlah sebuah pilihan. Dia coba mengendus jejaknya yang samar-samar. Langkahnya mulai menyusuri semak-semak. Dia kembali menerjang area terjal. Hadangan pemangsa tak luput menghantuinya. Tetapi dia tidak ingin menyerah. Pulang adalah tujuan utamanya saat ini. Baginya, pulang adalah akhir dari petualangan. Pulang adalah garis finish dari ekspedisi akbarnya.
Kadang dia bertanya kepada sekoloni ikan yang bergerak menyusuri sungai. Kerap pula dia menanyakan informasi kepada kupu-kupu yang melintas. Atau, dia mencoba bertanya ke arah pepohonan mahoni dan trembesi yang berdiri kokoh di tempatnya masing-masing. Namun tak satu pun didapatinya jawaban yang melegakan hati.
Kembali, dia melakukan perjalanan panjang yang memakan waktu panjang, sama seperti saat dia meninggalkan keluarga dan memulai petualangan mandirinya. Di dalam hati, dia mengumpat kepada dirinya sendiri, menyalahkan dirinya yang pergi terlalu lama dan jauh dari jangkauan yang bisa dia sadari. Kini jalan pulang pun tak ada bedanya dengan tempat yang belum pernah dia kunjungi. Tidak bisa diprediksi dan kabur seperti tertutup gumpalan kabut putih tebal yang tak menyodorkan setitik bayangan pun.
Suatu ketika, saat titik asanya hampir mencapai level terendah, akhirnya dia menemukan kali kecil yang di tepiannya terdapat batu raksasa yang saling memikul dan membentuk gundukan besar. Itu adalah kali tempat dahulu dia biasa minum dan bebatuan tempat dia dan sang induk beristirahat. Dia sudah tak jauh dari rumah. Keluarganya pasti ada di sekitar sini. Babi hutan itu mempercepat langkahnya. Keinginan untuk mengusap kepalanya di tubuh sang induk sudah tak terbendung lagi. Ingin sekali rasanya ia bermanja-manja bersama induknya seperti sedia kala. Namun setelah dia berlari ke bagian belakang bebatuan besar itu, bukan rumah yang hangat dan menenangkan hati yang dia dapatkan. Perasaan mencekik dan denyut yang berdentum keras tanpa henti mulai menghantamnya bertubi-tubi. Tak ada lagi rumah.
Tubuh sang induk dan saudara-saudaranya tergeletak kaku dan tak menunjukkan tanda kehidupan. Bahkan tubuh sang induk sudah tak lengkap lagi. Tercabik-cabik oleh sesuatu yang tajam.
"Apa yang terjadi?" tanya babi hutan itu ke arah pucuk pohon kecil di dekatnya. Ada burung macaw kecil bertengger di lengan pohon.
"Tiga hari lalu ada sekelompok manusia melewati tempat ini. Ketika ibumu merasa terancam, dia mencoba menyeruduk mereka. Dan beginilah akibatnya. Manusia-manusia itu menghajarnya dengan beringas."
Babi hutan itu tak melanjutkan percakapannya dengan si burung macaw. Dia memandang tubuh keluarganya. Perasaan sedih menjalari tubuhnya. Air mata tak terbendung mulai mengalir. Dia teringat perkataan ibunya dulu, "Hukum rimba adalah aturan absolut di dunia kita. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan. Namun hal yang tidak kita sukai pasti akan menghampiri. Jangan bersedih dan membenci takdir. Jalani sisa hidup dan kesempatan yang kita miliki. Keinginan untuk hidup itu yang akan mengantarkan kita menuju tujuan perjalanan yang sebenarnya." Kalimat itu selalu menancap di benaknya. Entah sihir apa yang disisipi sang induk, namun dengan perkataan itu, babi hutan mampu terus memandang ke depan. Dia ingin terus hidup. Dia masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang dunia ini.
Dia mulai berlari. Kaki-kakinya yang kini telah terbiasa menerjang jalanan sekeras apa pun, tak akan mampu dikalahkan rintangan yang menghadangnya. Dia berlari, berharap, dan berteriak, "aku adalah sang petualang."
Perjalanan belum berakhir, bahkan ketika kematian datang.
Tidak lama setelah mendapati keluarganya mati, si babi hutan pun harus menghadapi takdir akhir. Dia mati di tangan pemburu yang lewat di sekitar daerah peristirahatannya. Dia ditembak ketika terlelap dan tak menyadari ada bahaya yang mengancam.
Namun ketika ajal menghampiri, dia tahu ada perjalanan baru yang akan menyambutnya. Dia sunggingkan senyum terakhirnya, tepat sebelum helaan napas terakhir.
Babi hutan itu telah membuka matanya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya. Jalan pulang tak pasti, entah ke mana arahnya. Namun tidak mencobanya sama sekali bukanlah sebuah pilihan. Dia coba mengendus jejaknya yang samar-samar. Langkahnya mulai menyusuri semak-semak. Dia kembali menerjang area terjal. Hadangan pemangsa tak luput menghantuinya. Tetapi dia tidak ingin menyerah. Pulang adalah tujuan utamanya saat ini. Baginya, pulang adalah akhir dari petualangan. Pulang adalah garis finish dari ekspedisi akbarnya.
Kadang dia bertanya kepada sekoloni ikan yang bergerak menyusuri sungai. Kerap pula dia menanyakan informasi kepada kupu-kupu yang melintas. Atau, dia mencoba bertanya ke arah pepohonan mahoni dan trembesi yang berdiri kokoh di tempatnya masing-masing. Namun tak satu pun didapatinya jawaban yang melegakan hati.
Kembali, dia melakukan perjalanan panjang yang memakan waktu panjang, sama seperti saat dia meninggalkan keluarga dan memulai petualangan mandirinya. Di dalam hati, dia mengumpat kepada dirinya sendiri, menyalahkan dirinya yang pergi terlalu lama dan jauh dari jangkauan yang bisa dia sadari. Kini jalan pulang pun tak ada bedanya dengan tempat yang belum pernah dia kunjungi. Tidak bisa diprediksi dan kabur seperti tertutup gumpalan kabut putih tebal yang tak menyodorkan setitik bayangan pun.
Suatu ketika, saat titik asanya hampir mencapai level terendah, akhirnya dia menemukan kali kecil yang di tepiannya terdapat batu raksasa yang saling memikul dan membentuk gundukan besar. Itu adalah kali tempat dahulu dia biasa minum dan bebatuan tempat dia dan sang induk beristirahat. Dia sudah tak jauh dari rumah. Keluarganya pasti ada di sekitar sini. Babi hutan itu mempercepat langkahnya. Keinginan untuk mengusap kepalanya di tubuh sang induk sudah tak terbendung lagi. Ingin sekali rasanya ia bermanja-manja bersama induknya seperti sedia kala. Namun setelah dia berlari ke bagian belakang bebatuan besar itu, bukan rumah yang hangat dan menenangkan hati yang dia dapatkan. Perasaan mencekik dan denyut yang berdentum keras tanpa henti mulai menghantamnya bertubi-tubi. Tak ada lagi rumah.
Tubuh sang induk dan saudara-saudaranya tergeletak kaku dan tak menunjukkan tanda kehidupan. Bahkan tubuh sang induk sudah tak lengkap lagi. Tercabik-cabik oleh sesuatu yang tajam.
"Apa yang terjadi?" tanya babi hutan itu ke arah pucuk pohon kecil di dekatnya. Ada burung macaw kecil bertengger di lengan pohon.
"Tiga hari lalu ada sekelompok manusia melewati tempat ini. Ketika ibumu merasa terancam, dia mencoba menyeruduk mereka. Dan beginilah akibatnya. Manusia-manusia itu menghajarnya dengan beringas."
Babi hutan itu tak melanjutkan percakapannya dengan si burung macaw. Dia memandang tubuh keluarganya. Perasaan sedih menjalari tubuhnya. Air mata tak terbendung mulai mengalir. Dia teringat perkataan ibunya dulu, "Hukum rimba adalah aturan absolut di dunia kita. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan. Namun hal yang tidak kita sukai pasti akan menghampiri. Jangan bersedih dan membenci takdir. Jalani sisa hidup dan kesempatan yang kita miliki. Keinginan untuk hidup itu yang akan mengantarkan kita menuju tujuan perjalanan yang sebenarnya." Kalimat itu selalu menancap di benaknya. Entah sihir apa yang disisipi sang induk, namun dengan perkataan itu, babi hutan mampu terus memandang ke depan. Dia ingin terus hidup. Dia masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang dunia ini.
Dia mulai berlari. Kaki-kakinya yang kini telah terbiasa menerjang jalanan sekeras apa pun, tak akan mampu dikalahkan rintangan yang menghadangnya. Dia berlari, berharap, dan berteriak, "aku adalah sang petualang."
Perjalanan belum berakhir, bahkan ketika kematian datang.
Tidak lama setelah mendapati keluarganya mati, si babi hutan pun harus menghadapi takdir akhir. Dia mati di tangan pemburu yang lewat di sekitar daerah peristirahatannya. Dia ditembak ketika terlelap dan tak menyadari ada bahaya yang mengancam.
Namun ketika ajal menghampiri, dia tahu ada perjalanan baru yang akan menyambutnya. Dia sunggingkan senyum terakhirnya, tepat sebelum helaan napas terakhir.
***
Sebuah bar kecil di pinggir kota terlihat kusam. Tanah dan debu pekat berhamburan setiap kali pejalan kaki ataupun kereta kuda melintas, sehingga bar kusam itu tampak semakin kumal. Namun dalam kategori jumlah pengunjung, bar itu terbilang ramai. Tentu saja, bar itu berdiri bagaikan persinggahan wajib para pejalan jauh dari satu kota ke kota lain. Ada berbagai macam manusia yang memasuki pintu kecil bar yang berderit keras itu.
Babi hutan tadi telah memulai petualangan barunya. Setelah hari ajalnya, kini dia berdiam diri di bar kecil itu. Kepalanya dijadikan hiasan ruangan dan diletakkan di dinding dekat bartender yang tengah sibuk menuangkan segala macam minuman di gelas-gelas kosong yang menanti bibirnya disentuh mulut-mulut haus para pejalan jauh.
Dari dinding ini, dia bisa melihat seisi ruangan yang dibanjiri berbagai macam manusia. Dia bisa menyaksikan sifat, logat, gaya berpakaian, dan ciri khas para pendatang yang beristirahat di bar ini. Sudah cukup banyak petualangan alam liar yang dia jalani. Kini dia bisa rehat sejenak dan memperhatikan dunia lain yang belum pernah dijamahinya. Dunia manusia.
Dia teringat kembali perkataan induknya yang mengajarkan bahwa selalu ada ruangan yang belum pernah dikunjungi. Menemukan pintu ruangan itu adalah misi utama. Dan kini dia telah menemukan pintu itu dan memulai kehidupan di ruangan lain tersebut.
Catatan: Cerpen ini diciptakan untuk menjawab tantangan #NulisBarengAlumni dengan tema babi dari Kampus Fiksi.
Komen anda sangat berharga.
0 comments:
Post a Comment