“Makan di kantin belakang kelas 3!” seru seorang laki-laki padaku dengan nada memaksa.
“Nggak mau, makanan di kantin depan sekolah lebih enak!” tukasku lebih sengit.
Dia, laki-laki yang sering bersamaku, adalah orang yang selalu berada di dekatku. Dalam banyak hal kami bersepakat, namun tidak untuk yang satu ini. Tempat makan favorit kami berbeda.
“Ya sudah, lebih baik kita makan secara terpisah saja. Kau ke tempat kesukaanmu dan aku akan menuruti keinginanku,” ucapku dengan tegas sambil menggenggam tangan yang dari tadi menahan geram.
Zelyan, sekeras apa pun tekadnya namun jika telah menerima kalimat tegasku, tidak akan mampu lagi meneruskan keinginannya jika berlawanan denganku. “Oke, oke, aku mengalah.”
Sudah tiga tahun aku mengenal Zelyan. Tepatnya, semenjak kelas tiga SMP dahulu. Dia adalah lelaki bertampang sedang, cenderung ganteng, sih. Kami hanyalah sepasang manusia yang menjalin pertemanan. Satu-satunya yang mempertemukan kami adalah hobi membaca. Setiap hari, kami makan di kantin bersama-sama. Kadang aku mengikuti tempat makan favoritnya. Dan seringnya dialah yang mengikuti (secara terpaksa) tempat makan kesukaanku. Selebihnya, kami menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan dengan buku-buku yang kami bawa dari rumah. Atau kadang-kadang, kami juga membaca buku dari perpustakaan, walaupun jarang karena sedikit yang menarik. Menurutku, sih.
Aroma perpustakaan yang raksi, dari dulu sampai sekarang, tidak pernah berubah dan selalu menjadi tempat terefisien untuk melepas lelah. Pekik keheningan menjadi melodi favoritku, sehingga aku bisa membaca buku dengan tentram. Dan terakhir, punggung Zelyan, adalah tempat bersandar terempuk yang pernah kusandari. Karena suka dan telah biasa saja, sembari membaca buku, kami duduk saling membelakangi dan menyandarkan punggung kami. Banyak kenyamanan yang menjalar kala itu. Sungguh, kalau bukan karena kesukaan membaca buku di perpustakaan, kami tidak akan pernah berjumpa sampai masa kini.
“Elira, besok aku boleh main ke rumahmu, kan? Rencananya, aku mau membawa sesuatu. Lebih tepatnya, hadiah, surprise,” ujar Zelyan masih menyembunyikan wajahnya dariku.
“Ehm, boleh, sih. Emang mau bawa apa?” kataku penuh penasaran. Seharusnya, dia adalah orang yang cuek dan tidak pernah memikirkan bahwa hadiah adalah suatu apresiasi berharga yang diharapkan seseorang.
“Kalau aku katakan sekarang, ya tidak surprise, dong.”
“Baiklah, kutunggu yah.”
Aku tidak pernah berpikir Zelyan akan membawakanku hadiah. Bahkan ketika ulangtahunku pun tidak. Memang, aku bukanlah pacarnya atau semacamnya. Paling tidak, aku adalah temannya yang selalu menemani dirinya setiap hari di perpustakaan yang membisu. Sampai berlusin abad pun, pungguk tetap tidak akan pernah bisa meraih bulan. Walau kerinduannya bertumpuk menggunung sekalipun. Dia tidak akan pernah merubah rindunya menjadi kepastian. Pun begitu Zelyan. Ocehannya tentang hadiah adalah kemustahilan bagiku. Setidaknya sampai beberapa detik yang lalu.
Tentang diriku, aku adalah wanita yang selalu menyenangi kesunyian. Keheningan adalah selimut terhangat untuk membaluti diriku yang selalu sibuk dengan duniaku. Tiada hal lain yang kulakukan dengan serius selain membaca. Favoritku, kumpulan puisi satir. Pilihan lainnya, aku memilih fiksi yang jauh dari bau happy ending.
Mengenai keluargaku, tidak ada orang tua di sini. Keduanya di luar negeri, meraup kekayaan sebanyak-banyaknya. Apa pun itu, tidak masalah. Lagian mereka setiap tiga bulan rutin pulang ke rumah. Makanya, tante yang masih perawan dan belum terjamah lelaki manapunlah yang menemaniku. Tante Nadira. Dia adalah wanita ramah dan berparas mempesona seperti aku dan ibuku (gen memang tidak pernah berbohong), yang sudah menginjak usia tiga puluh tahun. Alasan dia masih belum menikah? Hanya dia, tuhan, beserta kesibukan pekerjaannyalah yang tahu.
Rumahku selalu menjadi tempat tersunyi yang pernah kujamahi. Bahkan perpustakaan pun tidak mampu menandingi kesunyiannya. Kecuali, ketika pukul sepuluh malam dimana jam segitulah tante pulang kerja. Paginya, dia berangkat buru-buru, bahkan ketika aku belum bangkit dari lelap. Atau waktu lain, hanya di hari liburlah rumahku tidak sesunyi kuburan.
“Elira, besok temani tante belanja, yuk,” ucap tante memohon. Dia baru saja pulang dari kantor.
“Ehm, maaf tan, nggak bisa.” Tolakku selembut mungkin. “Besok Zelyan mau kemari.”
Tante tersenyum renyah. “Oh, cowo yang ramah itu ya? Wah kamu semakin dekat ya dengannya?”
“Err, enggak. Sebenarnya sih dia itu biasa-biasa aja. Malah, agak cuek,” ucapku datar. Memikirkan tante yang menganggap Zelyan ramah adalah hal paling menjijikkan yang pernah kucerna.
Lagi-lagi tante tersenyum. Kali ini senyumnya gurih. “oke deh, selamat bersenang-senang ya.”
Huh, Zelyan. Sampai saat ini aku belum memahami terbuat dari apa hatinya. Katalis seperti apa yang cocok untuk mempercepat identifikasi perasaannya. Dia itu adalah orang yang kabur. Susah ditebak.
Namun, karena waktu, perlahan aku seperti tersihir dan terjerat rantai yang menyeretku kepadanya. Setiap hari, setiap senggang, setiap luang, aku selalu di sisinya. Kebersamaan itulah yang membuat perasaan aneh mulai menguncup. Inikah cinta? Apakah aku harus memiki cinta terhadapnya? Entahlah. Namun bagaimanapun aku menampik ataupun berpura-pura tidak menoleh, aku sadar memang perasaan cinta telah menyinggahi hatiku.
Seiring perasaan cinta menghinggap, hari minggu pun tiba. Dia, Zelyan, datang dengan mengundang rasa penasaranku. Apakah yang ingin dia berikan padaku? Sesuatu yang spesialkah?
“El, sendirian?” tanyanya ketika baru saja sampai di bibir pintu.
“Iya, kenapa?” tanyaku balik.
“Tante mana?” dia berbalik menanyaiku lagi. Itulah yang paling menyebalkan darinya.
“Keluar, belanja. Udah, ayo masuk,” seruku seiring memutar langkah menuju ruang tamu.
Akhir-akhir ini Zelyan sering ke rumah. Karena koleksi bukuku yang lebih banyak darinya, lalu tante pun juga memiliki deretan buku. Dia jadi sering mampir dan ingin memilih sendiri buku yang ingin dipinjamnya.
Tidak banyak hal yang dia kerjakan di rumahku. Dia hanya menyeruput teh buatanku sambil membaca buku. Sesekali kami mengobrol, lalu senyap kembali disapu keheningan yang berganti kesibukan membaca. Memang beginilah kami, sudah selazimnya.
“Aku tidak bisa berlama-lama. Aku pulang sekarang, tidak masalah, kan?” dia bertanya dengan gugup. Belum pernah dia seperti ini.
“Ya, tidak masalah. Oh, iya. Janjimu, mana janjimu? Hadiah, surprise!” seruku dengan ngotot.
“Nah, kebetulan sekali cuma ada kau dan aku. Ini, aku membeli sebuah buku. Kuberikan padamu ya,” ucapnya memaksa senyum.
Menurutku, hal paling romantis yang pernah dilakukan seorang lelaki padaku adalah memberikan hadiah. Apalagi itu sebuah buku. Sangat mengesankan. Dan lagi, yang memberikannya padaku adalah seseorang yang diam-diam kusukai. Rumah yang sunyi serasa disemproti beribu-ribu desibel nyanyian asmara. Ramai dan cerah.
“Baiklah, hati-hati ya,” ucapku padanya diiringi ekor mataku yang mengikuti langkahnya.
Dia membalas dengan lambaian. “Oke.”
Buku yang baru saja berpindah ke tanganku, tanpa menunggu langit berganti kontras sedikit pun, langsung kubuka dengan brutal. Buku romance. Bukan termasuk deretan favoritku, namun aku tidak membencinya. Apalagi Zelyanlah yang memberikannya. Dan tebak, ternyata di dalamnya terselip sesuatu. Sebuah surat. Di bagian luar tersemat beberapa tulisan, namun tak kugubris. Aku langsung membaca isinya.
Hai,
Setiap angin berhembus menghantarkan pesan-pesan cinta, kala itu pula hatiku mulai terseret pada pikatmu. Laksana hujan yang turun membawa berkah, seperti itu pulalah dirimu datang menyuburkan hatiku. Remang-remang malam serasa tak pernah ada ketika aku membayangkan wajahmu yang terlalu bersinar jika kusandingkan dengan bulan dan bintang.
Entah sejak kapan, mungkin sejak pertama kali aku melihatmu. Perasaan yang banyak orang sebut dengan cinta, mulai bertunas di hatiku. Sesungguhnya aku tidak pernah ingin memilikinya. Namun, takdir memang mengharuskanku memeliharanya.
Kau tahu, perasaan suci itu ternyata tertambat pada dirimu. Jangkarnya menancap kuat di samudera pikiranku. Sehingga, tidak sedetik pun, bahkan sekejap pun aku mampu menghilangkan visimu dari otakku. Semuanya terasa seperti diorama yang berputar tanpa meninggalkan celah sedikit pun.
Kuharap, walau ada batasan besar yang memisahkan kita, kau tak mengurungkan hatimu padaku. Setidaknya, aku ingin kau melirikku, walau sejenak.
Pengagummu , Zelyan.
Surat yang selesai kubaca beberapa detik lalu ini benar-benar menghantam sukma. Tulisan seindah ini sungguh membuat wanita mana pun tidak akan mampu melupakannya. Bahkan amnesia sekali pun, tidak akan sanggup membuatnya terlupakan. Namun aku masih belum mengerti, batasan apa yang dia katakan? Sejak kapan aku tidak pernah melirik dirinya? Kami selalu bersama, kok. Dan aku selalu memperhatikannya. Apa maksudnya.
Bagian yang membuatku penasaran karena sempat kulewatkan adalah bagian depan surat. Di sana terbubuh nama si penerima surat. Walau tanpa harus kulihat, pastilah namaku di sana.
Namun, seperti sengatan petir beribu volt yang berlalu kencang, apa yang kusaksikan saat ini adalah kenyataan yang tidak pernah terprediksi. Kuharap namaku di sana. Namun bukan. Apakah dia salah menulis nama? Bukan, tentu saja bukan. Apakah dia salah mengirimkan surat yang seharusnya berada di rumah lain? tidak, jelas tidak. Sangat pasti, sasaran suratnya adalah orang yang berada di rumah ini. Surat ini teruntuk dan tertuju kepada seseorang yang seharusnya tidak pernah tercantum namanya di sini. Tante Nadira.
0 comments:
Post a Comment