Piano yang Telah Lama Tak Menggema


            Gadis itu berjalan di atas tanah lembab dan becek, sisa guyuran hujan semalam. Anak matanya berkeliaran kian kemari, mengeksplorasi lingkungan yang telah lama tak dia kunjungi. Terakhir kali dia mengunjungi kampung halaman keluarga ibunya itu adalah ketika masih berusia lima tahun. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saat kakeknya meninggal. Dia benar-benar bahagia ketika berkeliling dan melihat suasana perkampungan yang tenteram.
            Burung-burung berkicau, mengetuk dinding langit yang sepi. Bebunyian jangkrik menggetarkan pepohonan yang melambai-lambai diterpa angin sepoi. Cakrawala terlihat bersih, tak ada sisa mendung yang mengakar di sayap-sayapnya. Felisa meresapi setiap denyut yang didentumkan kehidupan yang bersemayam di rusuk malam yang perlahan menjelma menjadi pagi. Kakinya terus melangkah. Hingga, berhentilah dia di depan sebuah rumah kosong. Rumah itu terlihat tua. Dinding-dinding kayunya tampak kusam, namun kelihatan masih kokoh.
            Felisa memasuki rumah itu. Ketika dia masuk, dia mendapati dirinya berada di ruangan yang besar. Hanya ada dua kamar berukuran kecil yang terdapat di sana. Dari dalam, tempat itu kelihatan seperti gudang raksasa. Namun di dalamnya tak ada apa pun, kecuali sebuah piano berdebu yang terletak di tengah-tengah ruangan, dan beberapa kursi kecil yang diam membisu.
            Gadis itu mendekati piano itu. Disingkirkannya debu yang menumpuk di atas penutupnya. Piano tua itu tampaknya telah lama tertidur dan tak mengaum. Dia buka penutupnya, lalu dia duduk di kursi kecil yang mematung di hadapan piano itu. Walapun agak berdebu, namun tuts yang berjajar masih sanggup menggema dengan gagah.
            Felisa menutup mata. Dia berusaha memanggil kembali roh-roh yang terkubur di dalam alat musik tua itu. Jemarinya mulai merangkai melodi-melodi yang menggetarkan bangunan tua itu. Seakan piano itu mengisi kekosongan dan memberikan kehidupan yang telah lama direnggut dari gudang tua itu.
            Instrumen yang dirapalkan tuts demi tuts seolah membentuk sihir yang menelusup ke pepohonan di hutan belakang gudang itu. Mentari mulai berpendar, mengiringi gema suara piano yang menerjang langit. Melodi terakhir disudahi dengan nada yang panjang. Saat suara piano itu tak lagi berbunyi, suara tepuk tangan menggantikannya, seolah menyambut performa seorang maestro.
            “Permainan yang bagus. Sudah lama saya tidak mendengar permainan penuh penghayatan seperti ini.” Seorang pria tua tengah menatap ke arah Felisa dari bibir pintu. Rambutnya didominasi warna putih menua, hanya ada beberapa helai warna hitam. Kulitnya keriput, namun masih tampak sehat dan gagah.
            Felisa segera berdiri dan menunduk. “Maafkan saya, Kek. Saya telah lancang memainkan piano ini tanpa seizin Kakek.”
            Pria tua itu hanya tersenyum sembari melangkahkan kakinya mendekati Felisa. Diraihnya kursi kecil yang tergeletak tak jauh dari Felisa. Lalu diletakkannya kursi itu berhadapan dengan Felisa. “Aku belum pernah mendengar lagu tadi. Kamukah yang menciptakannya?”
            “Iya, Kek. Saya baru mencoba menciptakan lagu saya sendiri. Judulnya A Wish From The Sky. Bagaimana pendapat kakek tentang lagu saya tersebut?”
            “Lagu yang indah disertai permainan memukau. Bahkan langit tersenyum mendengar melodi indah barusan,” puji Pria Tua itu.
            Felisa tersipu. “Kenalin, Kek, saya Felisha Kartika.”
            “Saya Brata Adiwarman,” jawabnya.
            Felisa terkejut, bagaikan disambar petir selama sepersekian detik. “Kakek adalah Brata Adiwarman, pianis terkenal yang namanya tenar beberapa puluh tahun lalu itu?”
            Brata tergelak. Dia tak menyangka seseorang yang hidup sesudah masa keemasannya bisa mengenal dirinya. “Ya, itu aku. Tapi tak usah dibesar-besarkan. Aku bukan pianis sehebat itu.”
            “Saya telah membaca sejarah musisi-musisi terkenal di seluruh dunia, termasuk musisi tanah air. Tidak ada penikmat musik yang tidak mengenal anda. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan legenda hidup di sini,” ungkap Felisa dengan penuh takjub. Bibirnya tak berhenti mengoceh ketika mendengar nama Brata Adiwarman.
            “Ya, itu masa lalu. Sekarang saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang pria tua yang menikmati masa tuanya sambil menyeruput teh yang diracik langsung oleh tangan sendiri.”
            “Tapi,” Felisa tampak kebingungan,” mengapa Kakek menghilang tiba-tiba ketika karier Kakek tengah melejit dan berada di puncak?”
            “Ah, saya hanya merasa bosan saja. Saya bermain musik karena ada gairah yang bergejolak ketika saya terhanyut ke dalam permainan saya sendiri. Karena sudah lama bergelut di bidang itu, dan umur saya pun tak muda lagi, saya memutuskan untuk mengakhiri karier saya. Sesimpel itu,” tukas Brata.
            “Apakah kamu berasal dari keluarga musisi? Kalau saya boleh tau, siapa nama ibumu? Atau barangkali ayahmu? Atau kakek dan nenekmu? Atau, siapa pun di keluargamu yang berkecimpung di dunia musik,” Brata kembali bersuara. “Barangkali saya kenal mereka.”
            “Tidak ada musisi profesional di keluarga saya. Saya belajar bermain piano dari Ibu saya, Ranjani Lituhayu. Ketika berumur tiga tahun, Ibu kehilangan nenek. Ibu mulai belajar bermain piano karena alat musik itu adalah kesukaan nenek. Kata Kakek, Nenek cukup piawai memainkan alat musik itu. Namun mereka hanya sekadar menyenangi bermain musik saja. Mereka tidak pernah memasuki dunia profesional.”
            Brata tersenyum sembari menangguk-angguk. “Apakah kamu ingin menjadi pianis profesional?”
            “Tentu saja, Kek. Saya benar-benar menyukai bermain piano,” jawab Felisa tanpa keraguan. Tegas.
            “Saya melihat masa lalu saya di dalam dirimu. Ketika saya kecil, saya amat menyukai piano. Bagi saya, tak bisa hidup tanpa memainkan tuts yang selalu menggoda saya untuk merangkai melodi-melodi yang memuji alam semesta. Tapi perjalanan saya menjadi seorang pianis tidaklah mudah.” Brata menyudahi kalimatnya dengan nada yang menggantung. Seakan ingin melanjutkan, namun tersangkut oleh sesuatu. Cukup lama jeda yang bertaut. Felisa memandang wajah Brata, meminta kelanjutan dari perkataanya. “Apakah kamu ingin mendengar kisah hidup saya? Tetapi ini akan memakan waktu yang cukup lama?”
            Felisa mengangguk. “Dengan senang hati, Kek.”
            Maka, gudang tua beserta isinya terlempar ke masa lalu. Ruh mereka terbawa ke masa ketika Brata masih berumur belasan tahun.
            Brata kecil adalah anak yatim. Ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya. Dia anak semata wayang. Ayahnya adalah seorang pemain musik keliling yang bermain dari satu desa ke desa lain. Hanya pemain musik yang berpenghasilan sedikit, bukan orang tersohor. Brata mengagumi ayahnya. Dia bercita-cita untuk mengikuti jejak sang Ayah.
            Setiap hari di rumah kecilnya, Brata memainkan piano yang dibeli ayahnya setelah menabung selama beberapa tahun. Piano itu bagaikan jantung yang berdenyut dan membuat darah bergejolak setiap kali dimainkan. Brata mewarisi bakat ayahnya. Dia sungguh menguasai tuts demi tuts. Melodi yang bergetar dari pianonya seakan menyambut mentari pagi. Sonata yang dirangkainya seolah melepas perpisahan langit dan senja.
            Matanya terpejam. Brata hanyut bersama penghayatannya yang menembus langit. Ketika bait terakhir dari lagu perdana yang dia ciptakan itu usai, dia membuka mata. Brata terkejut. Ada seorang gadis yang mematutnya, hanya berjarak satu meter dari posisi Brata duduk di depan piano. Gadis itu telah berdiri di sana semenjak Brata mulai memainkan pianonya.
            “Bisakah kamu mengajariku bermain piano?” tukasnya tanpa menyapa terlebih dahulu.
            “Hei, siapa kamu? Tiba-tiba saja masuk ke rumah orang,” ucap Brata kaget.
            “Aku Sarah Tarasari. Salam kenal, ya. Kamu siapa?” tanya gadis itu.
            “Brata Adiwarman. Aku pianis paling hebat di kampung ini,” jawabnya memamerkan diri.
            Gadis itu tertawa. “Mustahil kalau yang terhebat. Tapi permainanmu sungguh indah. Aku seperti terbawa ke dunia yang kamu ciptakan. Benar-benar menelusup ke sanubari, sungguh.”
            Brata tak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, pipinya merona. Dia tersipu. Belum pernah dia dipuji seperti itu. Hanya ayahnya saja yang pernah mendengar permainannya. Dan ayahnya tak pernah memujinya. Hanya sekadar, “tingkatkan lagi permainanmu,” yang keluar dari mulutnya.
            “Kamu bisa memainkan piano?” tanya Brata.
            “Belum, tapi akan segera bisa setelah kamu bimbing,” ucap gadis itu yakin.
            Sejak itu, mereka berdua menjadi akrab. Hampir setiap hari mereka bertemu dan bermain bersama. Seiring berjalannya waktu, Sarah pun mulai menguasai permainan piano dengan baik. Brata benar-benar mengajarinya dengan bersungguh-sungguh. Sarah pun, dengan bakat yang entah dari mana, dan dengan keinginan yang kuat, menjelma menjadi pianis jelita yang perlahan permainannya mampu menyamai Brata.
            Sawah telah berpuluh-puluh kali berganti bibit. Kerbau yang biasa dilihat Brata telah melahirkan anak, cucu, hingga generasi yang tak bisa diidentifikasikan lagi sebagai generasi ke berapa. Telah beribu putaran yang dilalui jarum jam yang bersandar di dinding rumah. Kini Brata dan Sarah bukanlah anak-anak yang bisa bermain sekehendak hati mereka. Mereka telah remaja. Banyak tanggung jawab dan tuntutan masa depan yang harus ditempuh. Brata setamat SMA tak melanjutkan kuliah karena pada saat itu bangku perkuliahan hanya berlaku bagi orang-orang berduit. Lagi pula, dia menguasai permainan piano. Itu sudah cukup sebagai modalnya untuk merengkuh kehidupan yang lebih cerah. Sementara Sarah, tampaknya dia tak akan sering lagi datang ke rumah ini dan bermain piano bersama Brata.
            “Aku akan mengikuti jejak Ayah. Aku akan menjadi pianis terkenal hingga dikenal banyak orang,” ucap Brata menjelaskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. “Bagaimana denganmu?”
            “Aku akan kuliah ke Jawa. Orangtuaku ingin aku menjadi sarjana. Berhubung di kampung ini masih sedikit orang-orang yang menimba ilmu hingga ke perguruan tinggi,” kata Sarah.
            Brata cukup mafhum dengan rencana Sarah. Keluarga Sarah merupakan keluarga terpandang di kampung ini. Mereka adalah orang kaya yang memiliki hampir setengah dari total sawah yang ada di sini. Saudara-saudara Sarah pun bukan sembarang orang. Ada yang menjadi dokter, insinyur, dan pengusaha kaya raya. Sarah adalah anak bungsu.
            “Jadi, kita tidak akan pernah bertemu lagi ya?” ucap Brata. Kalimatnya seperti luka bekas irisan bilah tajam.
            “Brata, kita adalah sahabat sejak kecil. Walaupun kita tidak bisa seperti dulu lagi, namun aku berjanji akan pulang tiap tahun dan mengunjungimu. Kita tidak akan sering bertemu, namun ketika aku memiliki kesempatan, aku akan mengunjungimu. Aku janji,” tutur Sarah berusaha tenang. Padahal, di lubuk hatinya, Sarah menyimpan kesedihan dan rasa sepi akan kehilangan sosok Brata. Orang yang dikaguminya. Sekaligus orang yang secara diam-diam ia cintai.
            “Saat kamu berhasil membawa gelar sarjana nanti, aku akan memperlihatkan padamu sosok seorang pianis terkenal. Aku janji,” tegas Brata.
            Sarah mengangguk. “Aku percaya.”
            Mereka duduk di tengah persawahan, di atas dangau. Anginnya begitu sepoi. Gemerisik pepadian yang saling bergesekan menawarkan melodi yang tak kalah indah dengan gema piano yang biasa Brata bawakan. Tiba-tiba, Brata ingin mengungkapkan isi hati yang telah lama dia pendam.
            “Sarah. Aku ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini aku pendam. Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah. Namun aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.”
            “Kamu ingin mengatakan apa? Ucapkan saja,” ujar Sarah penasaran.
            Brata ragu. Dia mengalihkan pandangan ke arah kerbau yang tengah melindas lumpur-lumpur lembek.
            “Brata?” Sarah meminta penegasan.
            “Sarah. Aku suka kamu. Maksudku, bukan perasaan suka sebagai teman.”
            “Maksudmu?” Sarah meminta penjelasan lebih. Ada harapan yang menggantung di hatinya.
            “Aku mencintaimu. Seperti langit yang ingin selalu bersama mentari. Layaknya laut dan pesisir yang saling bersahutan. Aku tidak tahu lagi harus mengungkapkannya seperti apa. Sepertinya sudah lama. Yang jelas, saat ini aku benar-benar mencintaimu, dan aku ingin perasaan ini bertahan untuk selamanya.” Brata menuntaskan tanda tanya di antara mereka selama ini.
            Air mata mulai menumpuk di kelopak mata Sarah. Brata menjadi panik. “Ma, maafkan aku. Lupakan saja apa yang kukatakan.”
            “Tidak. Aku justru sangat senang. Tahukah kamu, aku telah lama memiliki perasaan kepadamu. Dan aku bahagia karena ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan,” ungkap Sarah sembari menyeka punggung tangannya ke air mata yang mulai mengalir.
            Brata tersenyum. Dia bahagia karena dia memiliki kesempatan untuk bisa bersama Sarah di sepanjang hidupnya. Walaupun dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang jelas dia telah menemukan pintu itu. Pintu menuju kebahagiaan.
            “Tapi, kita tidak bisa larut dalam perasaan ini selamanya. Ada masa depan yang menanti kita. Ada cita-cita yang harus kita rengkuh. Hingga cita-cita kita tercapai, bisakah kamu menungguku dan fokus ke impian kita masing-masing?” tanya Sarah.
            “Ya, kamu benar. Untuk saat ini, kita harus menahan perasaan ini. Suatu saat nanti, aku akan kembali lagi kepadamu dan menungkapkan perasaanku kembali. Pada saat itu, aku akan mewujudkan impian kita yang lain, yaitu hidup bersama selamanya.”
            Sore itu adalah hari terakhir percakapan panjang di antara mereka sebelum Sarah pergi menuju pulau lain.
            Esoknya, Sarah berpamitan dengan Brata dan Ayahnya. Hanya sebentar, tak sampai lima menit, karena Sarah harus buru-buru berangkat. Dalam percakapan itu, mereka tidak menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan perasaan mereka. Hanya kalimat saling menyemangati satu sama lain.

**

            Empat tahun berlalu. Dunia berputar begitu cepat. Harapan menjadi cikal semangat untuk merengkuh impian. Sarah telah menyelesaikan pendidikannya di Jawa, dan kini telah kembali ke kampung halamannya. Brata pun mulai menempuh impiannya walaupun masih banyak yang harus digapainya. Brata saat ini sudah menjadi pianis yang lumayan dikenal di beberapa kampung. Namun dirinya masih jauh dari sosok pianis terkenal dan tersohor.
            Brata dan Sarah bertemu kembali setelah dua tahun semenjak terakhir kali mereka bertemu. Selama kuliah, Sarah hanya pulang satu kali. Dalam kurun waktu itu, mereka hanya bertukar kabar melalui surat sekali sebulan. Ketika bersua kembali, Brata merasa grogi. Sarah tumbuh menjadi gadis yang kian jelita.
            “Sarah, ini kamu?” Brata gugup.
            “Kamu sudah lupa denganku? Tega sekali,” ucap Sarah dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
            “Bu, bukan. Kamu sudah jauh berubah. Maksudku, sekarang kamu semakin cantik,” puji Brata.
            Wajah Sarah merona. Gadis mana pun yang dipuji oleh lelaki yang dicintainya pastilah akan bereaksi seperti Sarah.
            “Ah, bohong. Aku masih seperti dulu, kok. Ya waktu dulu aku memang sudah cantik, sekarang juga masih cantik,” cibir Sarah.
            Brata senang, gadis yang dia cintai kini telah kembali. Dia tak ingin berpisah lagi dari Sarah. Dia ingin selamanya bersama Sarah. Kali ini, dia harus benar-benar mewujudkannya.
            “Sarah, buka ini,” ucap Brata sembari menyodorkan sebuah kotak merah kecil.
            “Apa ini?” tanya Sarah. Brata tak menjawab. Matanya mengisyaratkan Sarah untuk membukanya.
            Sarah terkejut ketika membuka kotak itu dan di dalamnya berisi cincin emas berkilau.  Mata Sarah berkaca-kaca. Perasaannya bercampur aduk. Bahagia, terkejut, gugup, semuanya membaur dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
            “Pertama, aku ingin bertanya tentang kesediaanmu. Jika kamu bersedia menikah denganku, aku akan menemui keluargamu. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu. Dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu,” ungap Brata. Tekad dan kesungguhannya dikumpulkan di dalam kotak cincin itu.
            Sarah mengangguk, berusaha melepaskan sebuah kalimat, “Ya, aku sangat bersedia.”
            Siang itu, di hadapan piano yang telah lama tak mereka mainkan berdua, sebuah kesepakatan hati terbentuk. Namun tidak dengan jawaban yang diberikan oleh harapan. Harapan tak mutlak memberikan jawaban yang manusia inginkan.
            Malamnya, Brata pergi menemui orangtua Sarah.  Suasana kaku menyelimuti percakapan itu. Brata telah menyampaikan  keinginannya. Orangtua Sarah tampak tak cukup senang, terutama sang Ayah.
            “Saya pernah mendengar namamu. Kamu pemain musik keliling kan?” tanya Ayah Sarah.
            “Iya, Pak. Saya baru beberapa tahun memulai karier sebagai pianis. Tapi saya yakin kedepannya saya bisa menjadi pianis profesional yang sukses,” tukas Brata meyakinkan pria paruh baya di hadapannya.
            “Dengan segala hormat, saya tak bisa mengizinkan kamu untuk menikahi putri saya.” Jawaban Ayah Sarah cukup tegas. Suaranya bergetar, berat.
            Malam yang dingin kala itu perlahan mulai terasa seperti ditutupi salju tebal. Berat, beku dan dingin. Sarah merasa gelisah, sekaligus kecewa dengan jawaban ayahnya. Brata tak putus semangat. Sepucuk kekesalan tertaut di wajahnya.
            “Pak, apa yang salah dengan pekerjaan saya? Saya memiliki potensi, dan saya yakin tak lama lagi saya bisa menjadi orang yang sangat pantas meminang putri bapak.” Kali ini, nada bicara Brata mulai meninggi. Bukan bentuk dari kelancangan, namun penekanan dan penegasan serta keberanian.
            “Saya tak bisa menunggu lebih lama. Lagi pula, tak ada jaminan bahwa kamu bisa meraih kesuksesan dengan cepat. Saat ini kamu bukan apa-apa. Saya tidak bisa menerima kamu,” tegas Ayah Sarah. Sebentuk keegoisan melintas. Keegoisan yang melukai hati Sarah, dan memukul tekad Brata.
            “Oh, iya, sekalian saya ingin mengumumkan sesuatu,” imbuh ayah Sarah kembali. “Tak lama lagi Sarah akan saya nikahkan dengan anak dari seorang kawan lama. Pria yang satu ini masa depannya jelas. Dia dulu adalah kakak tingkatnya Sarah di perguruan tinggi.”
            Harga diri Brata benar-benar diluluh lantahkan saat itu. Perasaannya hancur seperti tembikar yang dihempas dan menjadi kepingan-kepingan kecil. Pada titik itu, dia tahu tak ada tempat untuknya. Kesempatan tak pernah ada baginya.
            “Ayah tidak pernah bilang tentang pernikahan itu. Lagi pula Sarah tidak ingin dijodohkan. Sarah ingin menjalani hidup sendiri. Sarah yang akan memilih tujuan Sarah. Ayah tidak bisa mengatur,” pekik Sarah. Suaranya pecah. Tangis mulai membuncah. Malam itu terasa begitu perih. Serpihan kaca seakan menusuk-nusuk hati.
            “Nak Brata, sebaiknya kamu pulang saja. Suasana sudah tak enak lagi,” ucap sang Ayah.
            Brata bangkit dari kursi, menunduk hormat ke arah ayah dan ibu Sarah. “Saya permisi, Pak, Bu.” Kemudian sebelum dia menuju pintu, dikirimkannya seulas senyum ke arah Sarah yang sedang menangis. Dia berharap semoga senyum sederhana itu mampu menenangkan hati Sarah. Walaupun dia sadar, saat ini hatinya sama sekali tak tenang. Banyak harapan yang hancur lebur. Brata tahu pintu menuju hubungannya bersama Sarah tak lagi terbuka. Telah tertutup rapat.
           
**

            Beberapa bulan berlalu semenjak penolakan Ayah Sarah terhadap Brata. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Sarah masih sering berkunjung ke rumah Brata. Namun Brata tak cukup senang akan hal itu. Dia masih mencintai Sarah, namun dia sadar cinta bukanlah hal sesederhana itu. Manusia tak bisa saling mencintai jika tujuan mencintai itu sudah tak ada lagi.
            “Sarah, mulai detik ini, tampaknya kita harus berpisah. Kita telah dewasa, tidak bisa bermain dengan perasaan. Kita tidak mungkin bersama, dan jalan masing-masing sudah menunggu kita. Mungkin Ayahmu benar, ada laki-laki lain yang lebih baik daripada aku. Ini bukan masalah saling mencintai lagi, melainkan saling memiliki. Kita bisa saling mencintai, namun mustahil untuk saling memiliki. Ya, aku rasa, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi,” Brata berucap. Dia berusaha terlihat tegar dan yakin dengan kalimatnya. Walaupun sebenarnya hatinya ngilu seperti disayat sembilu.
            “Kamu yakin?” tanya Sarah, tak percaya.
            Brata mengangguk. Sarah mulai terisak.
            Kini Sarah sadar, mereka berada di dunia yang tak bisa dicampur adukkan dengan khayalan dan angan-angan. Mereka hidup di dalam fakta dan keterikatan yang tak bisa dilepas hanya dengan impian semata. Manusia tidak bisa bertindak sesuai keinginan.
            Sarah membalikkan badannya, bersiap untuk meninggalkan Brata, mungkin untuk selamanya.
            “Sarah, perasaanku kepadamu tidak akan pernah berubah,” Brata berusaha melepas perpisahan itu dengan senyuman. Senyum yang sangat dipaksakan.
            “Aku akan mencintaimu selamanya,” ujar Sarah masih terisak. “Walaupun tidak bisa saling memiliki, bukankah tidak ada yang melarang perasaan cinta? Terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku, Brata. Aku tak akan pernah melupakanmu, semua kenangan yang pernah kita lalui.
            Pandangan yang saling bertabrakan untuk terakhir kalinya itu diiringi kesedihan, namun mereka saling merelakan satu sama lain. Merelakan adalah komponen termujarab untuk saling melepaskan ikatan yang telah dibangun sejak lama.
            Semenjak itu, Brata tak pernah bertemu dengan Sarah lagi. Dia hanya fokus kepada kariernya. Dia ingin menjadi pemain pianis terkenal yang karya-karyanya didengarkan oleh seluruh orang di Indonesia. Satu dari dua impiannya telah gugur. Impian yang tersisa tak boleh kandas. Dia harus berjuang.
            Kini Brata sudah semakin berkembang. Tawaran perform diterimanya dari berbagai daerah. Bahkan tawaran manggung dari luar Sumatera pun mulai berdatangan. Karier Brata semakin menanjak.
            Sementara Sarah, hari ini dia melangsungkan pernikahannya. Brata tak tahu apakah Sarah sudah bisa merelakan dirinya dan menerima pasangannya dengan sepenuh hati. Dia berharap Sarah sudah bisa melepasnya dan membangun rumah tangga dengan seseorang yang lebih pantas dicintainya saat ini.
            Undangan pernikahan juga sampai ke rumahnya, diantarkan oleh seorang kurir. Brata tak bisa menghadirinya karena ada tawaran manggung di Ibukota. Lagi pula, Brata tak ingin datang ke sana. Hanya akan menyayat hati lebih dalam dan lebar saja. Brata pun yakin, Sarah tak berharap dirinya datang. Surat itu ditujukan dalam wujud formalitas semata. Mereka ingin saling menjaga jarak, mengindari pandangan, agar proses merelakan ini bisa berjalan dengan semestinya.
            Semenjak tawaran bermain di Jakarta, Brata mulai kebanjiran undangan di daerah Jawa. Dengan keyakinan yang kuat, dia pindah ke Jakarta. Namun tidak dengan sang ayah. Ayahnya menolak untuk diajak dan ingin menghabiskan masa tuanya di kampung halaman. Walaupun khawatir, Brata menerima keputusan ayahnya dan berkirim uang setiap bulan kepada sang Ayah.
            Dalam aktivitasnya yang padat dan sudah memasuki jenjang profesional, Brata menjalani kariernya dengan sungguh-sungguh. Walaupun tak dapat ditampik bahwa sesekali bayangan Sarah melintas di benaknya. Kilasan masa lalu berdenyut-denyut di nadinya. Brata percaya merelakan bukan berarti melupakan. Kenangan itulah yang membuatnya kuat dan ingin mengalahkan sosok lemahnya di masa lalu.
            Kalender di dinding rumah baru yang terbilang lebih dari sekadar rumah kecil sederhana telah menggugurkan tanggal demi tanggal serta bulan demi bulan. Kalender demi kalendar berganti setiap waktu, pertanda jumlah tahun mulai bertambah. Kehidupan terus bejalan. Ketetapan hati terus menguat.
            Namun tidak selamanya manusia menjadi makhluk yang kuat. Walaupun telah menoreh karier yang berkembang pesat, kabar duka tak pernah gagal memelahkan keteguhan. Dari kampung halaman, datang sepucuk surat dari teman lamanya. Di surat putih itu terbubuh tinta hitam yang mengabarkan bahwa sang ayah telah meninggal.
            Pada titik itu, Brata merasa dia telah gagal menjaga sesuatu berharga yang harusnya tak dia lepas. Dia berhasil meraih impiannya, namun gagal menyimpan harta tak ternilai. Sang ayah telah tiada.
            Brata pulang ke kampung. Tangis haru mewarnai rumah kecilnya. Banyak orang yang berdatangan, baik yang pernah bertemu dengannya maupun orang-orang yang bahkan batang hidungnya belum pernah dilihatnya sama sekali. Dia menyadari ternyata walaupun Ayah bukanlah pianis yang namanya tenar dan meraih kesuksesan seperti dirinya saat ini, tetapi Ayah adalah sosok yang dikenal dan diingat oleh orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Ternyata inilah yang membuat Ayah mencintai profesinya. Dan dia merasa semakin terlecut untuk terus berkarya dan membuat semua orang mencintai dan mengingat sosoknya.
            Tujuh tahun Brata telah meninggalkan kampung halaman, telah banyak hal yang berubah. Termasuk bagian dari masa lalunya. Brata sebenarnya sama sekali tak ingin mengetahui kabar Sarah. Namun seorang teman lama memberitahunya kabar terakhir tentang Sarah. Kabar yang tak ingin didengarnya sama sekali. Dua tahun yang lalu Sarah meninggal.
            Menurut teman lama tersebut, Sarah meninggal tanpa alasan yang jelas. Tubuhnya semakin lemah dari hari ke hari. Entah apa penyakitnya. Hingga sampai suatu titik, Sarah benar-benar tak berdaya. Dan berita duka pun tersiar.
            Kepingan masa lalu adalah salah satu fondasi pembentuk masa depan. Kini, Sarah yang membuat dirinya kuat untuk meraih impian, sudah tak ada lagi. Dan malangnya, dia baru mengetahui hal ini setelah dua tahun Sarah meninggal.
            Dia memutuskan untuk kembali menemui Sarah setelah sekian lama tak berjumpa. Namun kali ini berbeda. Perjumpaan kali ini bukanlah pertemuan yang melibatkan dua pasang mata yang saling bertatapan. Hanya sepasang mata dan setonggok nisan yang beradu.
            Tangis Brata tak mampu dibendungnya lagi. Dia menangis dengan lara yang meruah hingga meluapkan kesedihan yang mendalam dari lubuk hatinya. Sama halnya ketika dia mengetahui ayahnya meninggal, begitu pula dengan Sarah. Dua orang yang ia cintai kini pergi dan tak akan pernah menunjukkan wajahnya lagi di hadapannya.
            Brata masih hanyut dalam kesedihan. Tak lama kemudian seseorang berdiri di belakangnya. Seorang pria dengan kemeja rapi serta seorang anak perempuan kecil yang masih balita.
            “Brata Adiwarman, sang pianis paling berbakat di Indonesia?” ucap pria itu sembari menodongkan tangan kanannya ke arah Brata.
            “Benar. Tapi, saya tidak sehebat itu,” balas Brata membalas tawaran salam dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri menyapu mata dan pipinya yang bersimbah air mata.
            “Saya Rangga Rianjaya, suaminya Sarah,” tukasnya.
            Brata tak tahu harus bereaksi apa saat itu. Ada sepucuk kekesalan yang bercikal di hatinya. Bukan karena marah terhadap Rangga yang merebut orang yang ia cintai, melainkan marah karena orang itu tak bisa menjaga Sarah dengan baik.
            “Saat ini kamu sedang berspekulasi tentang apa yang terjadi di antara saya dan Sarah, kan? Sebelum kamu salah sangka, akan saya ceritakan terlebih dahulu.” Seolah menangkap sorot mata Brata, Rangga berusaha menenangkan situasi.
            “Sejak awal pernikahan kami, saya tidak mengetahui masa lalu Sarah, juga tentang kehadiranmu dalam kehidupan Sarah,” Rangga mulai bercerita. “Saya dan Sarah hanya dijodohkan. Saya kira Sarah mencintai saya dengan tulus. Itulah apa yang saya yakini, namun bukan seperti itu kenyataannya.”
            “Beberapa tahun awal pernikahan kami, tidak ada hal yang aneh. Walaupun terkadang saya sempat melihat Sarah termenung dan kesepian. Namun ketika saya bertanya padanya, dia selalu menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Namun setelah empat tahun membangun rumah tangga, kondisi Sarah memburuk. Dia sering termenung. Badannya melemas. Dia tak ingin makan. Sebagai orang yang mencitainya, saya tak tahu harus berbuat apa. Dan saya juga tidak tahu kesalahan apa yang saya perbuat. Setiap hari Sarah menulis sebuah diary. Saya menyadari itu walaupun setiap kali saya mendapati dirinya menulis secara diam-diam, dia langsung menyembunyikannya. Saya tak pernah tahu isi diary itu, karena saya tidak berani membukanya tanpa seizin Sarah,” Rangga terlihat sedih ketika mengingat masa lalu itu. Masa ketika dirinya merasa tak ada lagi di hati Sarah.
            “Hingga akhirnya Sarah meninggal. Kenyataan itu membuat saya sangat terpukul. Sarah meninggalkan saya tanpa sepatah kata pun, serta meninggalkan tanda tanya yang besar. Sampailah saya ke satu kesimpulan, saya harus membaca diary Sarah. Barangkali ada petunjuk di sana. Dan memang benar. Sarah menceritakan masa lalunya ketika dirinya masih kecil. Dia bercerita tentang dirinya ketika pertama kali bertemu dengan sosok lelaki yang dicintainya, seorang pianis. Mereka tumbuh bersama. Saling mendukung satu sama lain. Hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Namun cinta mereka tak pernah bersatu, karena perjodohan yang seharusnya tidak pernah terjadi.”
            Mata Rangga mulai berkaca-kaca. Dia kembali melanjutkan isi dari diary tersebut. “Bersama suaminya, Sarah berusaha untuk merelakan orang yang dia cintai itu. Dia mencoba untuk mencintai suaminya. Namun cinta yang dipaksakan tidak pernah benar-benar berakhir bahagia. Dia kembali teringat Brata yang saat ini entah di mana. Dia hanya ingin bertemu dengan kekasih masa lalunya itu. Rasa rindu itu menjadi penyakit. Penyakit yang menciptakan kesepian yang memenjarakan hatinya. Hingga orang-orang di sekitar Sarah pun tidak tahu apa yang harus diperbuat.”
Rangga menatap putrinya yang diam tak tahu apa-apa. “Setelah Sarah meninggal, saya merasa bersalah karena telah hadir di dalam hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Selain itu, saya juga merasa marah kepada orangtua Sarah. Saya tak pernah mengira hubungan saya dan Sarah adalah hubungan yang dibangun di atas penderitaan dua orang yang saling mencintai. Hubungan dari sebuah perpisahan dua hati yang seharusnya dipertemukan.”
            “Masa lalu akan selalu membawa cerita manis ataupun cerita yang menyayat luka. Setidaknya saya benar-benar bersyukur, Sarah selalu mencintai saya, karena saya pun demikian terhadap dirinya. Namun di sisi lain saya tak mengharapkan hal itu terjadi. Seharusnya Sarah sudah benar-benar merelakan saya dan membuka lembaran baru di kehidupannya bersama lelaki lain,” ucap Brata. Kali ini penasarannya terbayar sudah. Walaupun jawaban itu sama sekali tak meringankan keperihan hatinya.
            Mulai saat itu, Brata terus mengejar karier hingga menjadi pianis terkenal di Indonesia. Bahkan namanya berkumandang hingga ke negara-negara lain.
            Walaupun meraih kesuksesan, Brata tidak pernah benar-benar bahagia. Sama seperti Sarah sebelum meninggal, dia pun masih terkenang sosok kekasih masa lalunya. Tak ada yang bisa menggantikan cinta Sarah di dalam hatinya. Hingga usia tua, Brata tak pernah berkeluarga.
            Di umur empat puluh tahun, Brata memutuskan untuk mengakhiri kariernya dan kembali ke kampung halaman. Semenjak itu, Brata tak pernah menyentuh piano lagi. Rumah lamanya dijadikan tempat persemayaman terakhir piano tua milik ayahnya, sementara di samping rumah lama itu, dia membangun rumah baru yang tak telalu mewah. Rumah tempat dia menghabiskan sisa umurnya. Rumah tempat dia menyeruput teh sembari membuka kilas balik masa lalunya bersama Sarah. Masa terindah di dalam hidupnya. Kenangan yang tak akan pernah dilupakannya. Keping memori yang menyusun perjalanan hidupnya.
           
**

            Air mata berlinang deras di pematang pipi  Felisa. Dia tak menyangka neneknya yang selama ini hanya dikenalnya melalui sebuah potret dan kisah yang diceritakan kakeknya adalah sosok yang paling dicintai pianis favoritnya, Brata Adiwarman.
            “Jika kamu mempunyai impian, jangan takut untuk meraihnya. Walaupun akan ada rintangan yang mengharuskanmu untuk merelakan sesuatu yang berharga, jangan pernah menyerah karena ada kebahagian yang menunggu di depan sana. Hidup adalah perjalanan. Kita menapaki proses demi proses. Kita akan kehilangan cinta dan kasih sayang. Namun pemahaman dan arti hidup yang sebenarnya akan kita raih ketika berhasil melewati semua ujian itu,” seru Brata seraya menepuk pundak Felisa.
            Felisa memeluk Brata dengan erat. Pelukan itu terasa hangat seperti saat Sarah memeluknya dahulu. Pelukan kebahagiaan ketika dia berhasil menguasai permainan piano yang diajarkan Brata.
            Gadis kecil itu pulang. Kini tinggallah Brata dan sesosok piano tua yang telah berpuluh tahun diasingkan. Brata duduk di hadapan piano itu, lalu mulai menggerakkan jemarinya di antara tuts-tuts yang telah lama mendambakan sentuhan tangan hangat Brata.
            Dia memainkan lagu ciptaan pertamanya itu dengan penuh penghayatan. Lagu yang pertama kali dia mainkan untuk Sarah.
            Lagu itu menggema hingga menembus langit yang kini telah sempurna dijilati sinar mentari. Senyum bahagia yang telah lama tak diunjukkannya, kini kembali terbit. Senyum terakhir untuk Sarah. Lagu terakhir yang mengantarkan perpisahan dirinya dan dunia yang pernah ditempatinya dengan berbagai suka dan duka.

            Together With You, Forever.


0 comments:

Post a Comment