Akhirnya, aku tiba di kamar, bersama kelelahan yang menggantung di setiap sudut tubuhku. Penat, letih menggerogoti. Kurebahkan diriku di atas kasur, meresapi empuknya kasur yang menenggelamkan tubuhku. Aku menoleh ke arah jendela yang gordennya terkuak. Cahaya matahari meredup, menembus sayup-sayup di celah jendela, tanpa kuasa meraih kelopak mataku. Cahayanya tak intens. Matahari telah tenang, bermeditasi di antara sore dan malam. Sesaat kemudian, tercebur ke belahan bumi lainnya.
Sepuluh menit berlalu. Aku bangkit, kemudian menyalakan laptop. Lalu, kuputarkan list lagu-lagu yang biasa menemani hari-hariku. List lagu yang senantiasa mengiring kisah. Lagu pertama berkicau. Aku berdiri di depan jendela, menantang langit yang tercemar jingga. Kelopak mataku tertutup rapat, menyeruput setiap lirik lagu yang berdentum.
“Damn, Damn, Damn. What I'd do to have you. Here, here, here. I wish you were here. Damn, Damn, Damn. What I'd do to have you. Near, near, near. I wish you were here.”
Lirik itu bergema, meracuni pikiranku. Merakit kisah-kisah yang telah menjadi puing. Kulirik meja kerjaku, dan kudapati dirinya tengah bergitar mengiringi nada-nada yang disuarakan laptop yang tengah menyala.
“Lingga, seperti biasa, kamu menikmati setiap petikan gitar. Wajahmu senantiasa menemani hari-hariku yang tersaput suka dan berlumur duka,” ucapku lirih menatap dirinya.
Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. Senyum yang sangat lebar, yang mampu menutupi keruh batin diriku. Dia melanjutkan petikan gitarnya, mengikuti lantunan nada yang kami dengar bersama.
Lingga adalah pecinta musik. Ia penikmat melodi. Ia pemuja nada-nada yang tersulam indah. Baginya, musik adalah hal yang tak terpisahkan dari hidup. Walaupun dia bukanlah seseorang yang mencari rezeki dari bermusik, namun hobi bermusik selalu menggeluti dirinya. Bahkan aku curiga bahwa nama tengahnya adalah ‘musik’. Lingga Musik Santino.
Aku menyukai musik karena Lingga. Dan, setiap perjalanan hidup kami selalu beriringan dengan musik. Ke mana pun kami pergi, atau aktivitas apa pun yang kami lakukan bersama, ada musik di sana yang mengiringi.
Letihku tak bisa berkompromi lagi. ototku mulai kaku. Kurebahkan kembali tubuhku ke atas kasur. Lalu, kukatupkan mataku tanpa paksaan, karena rasa letih dan kantuk sudah cukup untuk menghardikku agar segera hijrah ke dunia mimpi.
Lagu kedua mulai berputar. Wake Me Up When September Ends. Green Day yang bersembunyi di dalam laptop mulai melantunkan lagu itu. Dan, Lingga tetap duduk di meja kerjaku. Dia tetap memetik gitarnya, sambil memerhatikanku yang mulai terlelap.
**
Hari ini adalah minggu. Seperti biasa, aku menghabiskan waktuku di luar rumah. Meninggalkan rumah beserta pekerjaan yang mengusutkan pikiran. Aku akan menginjakkan kakiku ke mana saja. Ke tempat-tempat yang bisa melepas lelah, yang menyuguhkan hiburan.
Langkahku memasuki sebuah mall, menyusuri keramaian dan hiruk pikuk manusia. Aku suka ke tempat seperti ini. Menyaksikan keramaian. Melihat sesuatu yang baru, agar tidak ketinggalan tren. Tak jarang, aku juga membeli barang-barang yang unik, atau yang memikat hati. Wajar, aku seorang wanita.
Aku suka keramaian, namun tidak untuk kebisingannya.
Kukeluarkan sebuah headphone dari tas. Lalu, kugantungkan benda itu di telingaku. Sebuah Headphone. Sebuah pemberian dari Lingga. Maka, akan kujaga dan kurawat pemberian berharganya tersebut.
Dan, ponsel yang menjadi sumber suara bagi headphone itu mulai kuaktifkan. Lagu-lagu mulai melantun.
“When I see your face. There's not a thing that I would change. 'Cause you're amazing. Just the way you are. And when you smile. The whole world stops and stares for a while. 'Cause, girl, you're amazing. Just the way you are.”
Lingga mengikuti lirik lagu tersebut. Dia bernyanyi, dengan semangat.
Lingga menggenggam tanganku, erat. Deru napasnya mengalir hangat di telingaku. Dia menoleh ke arahku. Lagi, dia tersenyum lebar. Perhatiannya tak pernah pudar, dan tak pernah luput menemaniku.
Kami berjalan beriringan, tidak mau kalah dengan ABG belasan tahun. Umur kami memang telah memasuki dua puluh lima tahun. Namun, masa-masa berdua nan romantis yang biasa dielu-elukan remaja, selalu kami usung. Kami juga masih muda. Saling menyayangi. Dan, saling mencintai.
Kami berkeliling di mall, mencari-cari sesuatu yang menarik. Di sebuah toko boneka, aku melihat boneka paus berwarna biru. Boneka itu lucu, imut, dan menggemaskan. Aku selalu suka paus dan hal yang berbau imut. Lingga pun tahu. Namun, tampaknya kali ini Lingga enggan untuk membelikanku. Aku tahu ketidakinginannya itu. Aku paham, dan aku tidak kecewa akan hal itu. Kami meneruskan cuci mata kembali. Bersama, masih beriringan.
Sekitar dua jam kami berputar-putar di sana. Akhirnya, kuputuskan meninggalkan tempat itu. Kami menuju sebuah taman. Taman yang tak asing. Taman yang telah biasa kami singgahi.
Aku memutuskan duduk di tengah-tengah taman itu, pada sebuah bangku panjang berwarna putih. Di sisi-sisinya, bunga-bunga yang warnanya saling bertabrakan, menemani kehangatan bangku itu. Sungguh romantis, pikirku.
Headphone masih mencengkeram erat kepalaku. Nada-nada masih mengalun.
Lingga tersandar. Sepertinya, dia sedikit kelelahan. Namun, pendar di matanya tak punah. Begitulah Lingga, seorang tunangan yang ceria. Pria yang penuh semangat serta menjunjung eksistensi.
Aku telah berpacaran dengan Lingga semenjak kuliah. Cinta kami bermekaran dan kami saling menjaga. Kalimat ‘aku sayang kamu’ bukanlah hal yang penting lagi untuk kami teriak-teriakkan. Tanpa menyuarakan hal itu pun, kami ini adalah satu. Dan, dua tahun lalu dia melamarku. Dia menciptakan momentum terdasyat dalam hidupku.
Papa sudah mengenal Lingga. Dia pun tahu Lingga adalah pria baik. Namun, Papa menyarankan untuk menunda pernikahan. Katanya, kami baru setahun bekerja. Perkuat posisi di perusahaan dulu. Karena itu, kami memutuskan untuk bertunangan. Jika satu tahun telah berlalu, barulah Papa bersedia membicarakan masalah pernikahan. Aku dan Lingga tidak keberatan. Hanya masalah waktu. Bukan hambatan besar.
Dan, satu tahun berlalu. Hubungan kami lancar. Kami pun saling menjaga privasi dan menghormati satu sama lain. Kami bukan remaja lagi. Kami telah memahami bagaimana sepasang dewasa yang merajut ikatan cinta. Sebuah komitmen.
Lagu yang kudengarkan berhenti, kemudian berganti dengan lagu berikutnya.
Lingga. Lingga. Lingga. Sosoknya telah abadi bersemayam di pikiranku. Kehadirannya begitu karib di sisiku. Dia adalah teman hidup, pendamping kasih sayang. Aku adalah dia. Dan, dia adalah aku. Kami satu. Jiwa kami berpadu.
Satu tahun yang lalu, Lingga baru saja menyelesaikan pekerjaannya di luar kota. Rencananya, begitu dia kembali, kami akan membicarakan tentang pernikahan yang telah lama kami idam-idamkan. Momentum lagi.
Kemudian..
Taman terlihat teduh, damai, dan menangkan. Gemercik air mancur yang tak jauh dari tempatku duduk terdengar merdu. Begitu tenang. Di sampingku, Lingga masih berkomat-kamit, mengikuti lirik lagu dari ponsel yang kudengar. Aku menggenggam erat tangannya. Semakin dekat.
Akhirnya, tibalah hari di mana keluargaku dan keluarga Lingga saling bertemu. Pertemuan di ruang keluarga. Suasana asing menyelimuti ruangan itu. Suasana yang tak pernah diinginkan wanita mana pun. Ruangan sesak dengan manusia. Surat yasin dilantunkan beramai-ramai. Duka berkecamuk hebat. Tangisan pecah tanpa kendali.
Hari tersial. Hari terkutuk. Hari pemakaman Lingga.
Lingga mengalami kecelakaan parah saat perjalanan dari Semarang menuju Jakarta. Hampir seluruh isi bus meninggal. Termasuk Lingga.
Bunga-bunga yang sempat bermekaran, layu seketika, lalu merayap ke dalam tanah dan punah. Perasaanku begitu hancur saat itu. Mulutku mengutuk keras. Memaki takdir. Membuatku lupa bahwa tuhan itu ada. Amarah merasukku. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Tangisku pecah sekeras-kerasnya.
Butuh berbulan-bulan bagiku untuk bisa menghapus duka. Namun, kehadiran Lingga tak bisa kuenyahkan. Dirinya begitu pekat terpatri di benakku. Walaupun begitu, kucoba tuk ikhlaskan. Karena, hidup tidak selalu berpondasi pada satu titik. Ada titik-titik lain yang menunggu, dan berharap dijemput oleh tangan-tangan manusia yang berhati tegar.
Ponselku semakin berperan menghadirkan ingatan masa lalu. Lirik lagu yang diperdengarkannya membuatku semakin terlempar ke masa lalu.
“When you're gone. The pieces of my heart are missin' you. When you're gone. The face I came to know is missin', too. When you're gone. The words I need to hear. To always get me through the day. And make it okay. I miss you.”
Bayangan Lingga yang berada di sampingku menatapku erat. Tatapannya masih hangat, sama seperti bertahun-tahun yang lalu, dan akan tetap kekal hingga waktu berjalan ke depan. Kedua tangannya mendekapku, menarik tubuhku hingga tenggelam dalam peluknya. Tangannya mengusap lembut kepalaku. Penuh kasih dan cinta.
Lirik lagu mengalun mengikuti arus, menghadirkan berjuta kisah tentang diriku dan Lingga. Dan, potongan lirik terakhir berhenti. Lingga pun sirna dari hadapanku. Dia pergi bersama dengan lirik yang telah tiada.
Kapan pun aku merindukan Lingga, aku bisa memutar lagu-lagu yang sering kami dengarkan. Mengulang lirik demi lirik yang menghadirkan kembali kisah kami berdua. Melantunkan nada-nada tentang kami, yang senantiasa mendongengkan cerita cinta kami.
Lingga akan selalu abadi di sisiku, bersama melodi dan kenangan.
0 comments:
Post a Comment