Matahari kian terik meringis, menyulut siang yang legam. Dedaunan hitam menguri riuh dihempas helai angin yang mencemarkan langit dengan kepulan hitamnya. Tubuh-tubuh kekar tak berdaya semakin punah diterkam cambuk-cambuk besi yang tiada pernah peduli akan ringikan pilu sesak akan nelangsa.
Tidak jauh dari tempat orang-orang berkulit putih yang sekujur tubuhnya telah dijamahi luka-luka merana itu, seseorang berlari menjauhi kerumunan itu. Dia menyelamatkan dirinya sejauh mungkin dari pandangan cambuk-cambuk yang dihempas algojo-algojo berkulit hitam. Nafasnya terengah-engah. Bibirnya kusut. Matanya kusam, tak berpendar setitik pun. Tubuh kekarnya tampak kulai tiada mampu untuk menahan beban luka yang dilindas rasa takut yang mencekam. Aku harus temui dia, batinnya.
Dia terus berlari dan berlari walau kaki-kakinya mulai mendeklarasikan bendera putih kepada tekad yang telah diorasikannya dengan bara kehidupan tadi. Hingga, sampailah dia di sebuah gubuk kecil seput. Dengan tangan yang diselimuti peluh yang mengular hingga menghantam punggung tanah, dia mengetuk pintu gubuk itu dengan kencang. Dia terburu-buru, dikejar kematian yang tengah memantaunya dari sela-sela pepohonan rindang yang berkoloni di belakang gubuk itu.
“Ada apa, wahai kaum kulit putih?” Ucap seseorang yang baru menjengulkan wajahnya dari balik bibir pintu.
“Kumohon, tolonglah aku, tuan cendekiawan.”
Orang tua berkulit hitam legam selaras dengan lantai keramik aswad yang dipijaknya itu mempersilahkan lelaki kulit putih tadi untuk masuk ke gubuk kecilnya. Walaupun gubuk itu terlihat uzur dari luar, namun isi dalamnya sangat kontradiktif. Dinding-dinding bangunan itu dibangun dengan kayu jati nan zakiah. Udaranya dialiri wewangian bunga Sweet Alyssum yang ranum. Guci-guci berarsitektur klasik berjejeran di setiap sudut ruangan, menancapkan citra nan elok.
“Duduklah.” Pria tua menghampiri kursi di ruang tengah.
“Aku tahu kaum cendekiawan adalah golongan pemikir terbaik dan memiliki perhitungan akurat,” lelaki kulit putih mulai memuntahkan kata-katanya tanpa mendaratkan tubuhnya di kursi terlebih dahulu. “Maka karena itu, perkenalkanlah gagasan-gagasan absolutmu itu di hadapan penguasa-penguasa itu. Saat ini orang-orang kulit putih yang jumlahnya tak sampai dua lusin itu tengah bersiap untuk dieksekusi oleh tangan hukum penguasa yang tuli akan perbedaan dan kontradiksi yang seharusnya selalu menjadi pengikat akan eksistensi dunia ini.”
“Kenapa aku harus membuang energi untuk membelamu?”
“Karena kaum cendekiawan tahu bahwa hitam dan putih harus selalu berdampingan.” Lelaki kulit putih itu menegaskan pintanya.
“Baiklah. Tenangkan dirimu. Duduklah, duduk, kau harus menstabilkan dirimu agar bunga-bunga yang hitam pekat di taman itu tidak mencium keberadaan manusia berkulit putih di sini. Kau bisa ditelan hidup-hidup jika itu terjadi.” Cendekiawan itu melangkah ke dapur meninggalkan lelaki kulit putih yang masih merintih kesakitan.
Tidak lama kemudian, sekitar sepuluh menit, si cendekiawan kembali dengan nampan yang ditindih dua cangkir minuman yang asapnya masih mengepul seperti nyawa orang-orang kulit putih di lapangan eksekusi yang sebentar lagi akan menguap dari tubuhnya. Dia menghampiri kursi tempatnya duduk tadi, lalu meletakkan nampan itu di atas meja yang meringkuk di depannya.
“Minumlah ini, tubuhmu akan lebih hangat dan memulih perlahan,” ucap si cendekiawan tersenyum simpul.
“Obatkah?”
“Kopi. Kau tahu, kopi dapat menyembuhkan segala penyakit. Maksudku, perasaan sakit yang diderita akan sirna seketika saat kau meneguknya, sekalipun jika itu penyakit hati yang tersisip jauh di lubuk hati manusia.”
“Terima kasih.” Lelaki itu menyeruput kopi hingga tetesannya menyusuri bibirnya yang gersang dibakar kekejaman gurun penderitaan yang tiada henti menerpa kaumnya.
“Bagaimana rasa kopinya? Seperti kopi yang pernah kau tegukkah?” tanya si cendekiawan.
“Tidak. Kopi ini sungguh berbeda rasanya dibandingkan kopi yang biasa kuminum, ataupun kopi yang biasa kupesan di kafe. Bagaimana kau membuat kopi seperti ini? Aku tidak bisa menyebutnya benar-benar lezat, namun rasanya tidak buruk pula.”
“Sebenarnya itu bukan kopi.” Cendekiawan berkumis hitam tipis yang nyaris tak tampak karena senada dengan kulit hitamnya itu membantah.
“Lantas cairan apa yang kuseruput ini?”
“Itu adalah cairan yang telah disimpan kaum cendekiawan semenjak seribu tahun yang lalu.”
Si lelaki kulit putih terkejut mendengar hal tersebut. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya, apakah cairan ini merupakan racun yang disisipkan untuk mengakhiri nafas terakhirnya di dunia ini?
“Tenang saja, itu bukanlah cairan yang mematikan. Kau tak perlu khawatir,” lanjut si cendekiawan. “Kau lihat guci-guci yang bertebaran di sekeliling rumahku ini? Nah, di dalamnya berisi cairan hitam yang kau minum itu. Mereka telah tertidur lama di dalam guci-guci berdebu itu.”
“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?” Lelaki kulit putih keheranan. Wajahnya mengisut.
“Cairan itu adalah darah para tentara kulit putih yang gugur dalam peperangan kaum kulit hitam dan putih seribu tahun yang lalu. Kaummu kalah telak kala itu dan kami mulai menguasai dunia ini. Dunia berbalik begitu saja.”
Gelas yang dicengkeram lelaki kulit putih tiba-tiba terlepas. Tetesan yang tersisa meruah ke lantai, merayap ke sekeliling kaki lelaki itu.
“Maaf, aku tidak bisa membantumu. Atau, lebih tepatnya, menyelamatkanmu bukanlah cara terbijak bagiku.”
Mendengar jawaban sang cendekiawan, lelaki kulit putih terkesiap. Dia tak menyangka akan mendapati jawaban seperti itu dari sosok yang dianggapnya paling rasional di muka bumi ini.
“Dengarkan, aku akan memberikan penjelasanku,” lanjut si cendekiawan. Lelaki kulit putih memasang telingannya lekat-lekat. “Dahulu, beribu tahun yang lalu, manusia selalu menjadikan perbedaan sebagai senjata pembunuh kedamaian. Manusia memancing mesiu peperangan dengan perbedaan-perbedaan yang sebenarnya merupakan hal remeh. Namun, memang itulah sifat naluriah manusia. Termasuk perlakuan diskriminasi kulit hitam oleh orang-orang kulit putih.”
“Jadi kau menginginkan pembalasan dendam?” sergah lelaki kulit putih.
“Bodoh jika aku berpikir demikian. Tentu saja tidak. Tapi itulah kenyataannya. Dan, itulah yang memicu perang seribu tahun yang lalu. Semenjak orang-orang kulit hitam berjaya, orang-orang kulit putih berpindah kasta dan mulai hidup dengan penderitaan dan kesengsaraan. Hingga generasi kau saat ini, itu masih terjadi. Tentu saja aku tidak ingin itu terjadi berlarut-larut.”
“Maka karena itu, tolonglah aku dan yakinkan penguasa-penguasa itu agar menerima kami dalam peradaban ini.”
“Manusia kulit hitam saat ini berperilaku menjijikkan sama seperti manusia kulit putih berabad-abad lalu. Tidak bisa dihentikan, bahkan lebih kejam dari yang pernah leluhurmu perbuat pada kami,” tukas si cendekiawan.
Lihatlah, semua yang ada di dunia ini mulai dihitamkan agar tak ada lagi perbedaan, lanjut si cendekiawan. “Matahari, angin, tumbuh-tumbuhan, air, semuanya berwarna hitam. Manusia saat ini menginginkan persamaan.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku tidak menginginkan sebuah persamaan, namun ini adalah jalan terbaik untuk membuka mata manusia yang mulai buta oleh pemikiran irasional dan musykil.”
Lelaki kulit putih masih dirasuki rasa penasaran akan ucapan yang didengarnya. Dahinya berkernyit.
“Apakah kau menyadari bahwa cairan yang kau minum tadi bukanlah kopi sebelum kau meminumnya?” tanya si cendekiawan.
“Tidak, tentu aku tidak mengetahuinya.”
“Setelah kau teguk?” tukasnya kembali.
“Barulah aku sadar.”
“Tepat, seperti itulah,” timpal si cendekiawan. “Manusia akan sadar hakikinya hitam dan putih di saat perbedaan keduanya mulai menipis. Itulah yang terjadi pada dunia saat ini. Karena itu, aku ingin membuat dunia ini hitam seutuhnya agar tak ada perbedaan lagi yang mencuat. Ketika persamaan itu terwujud, saat itulah manusia akan sadar bahwa persamaan bukanlah visi paling tepat untuk sebuah dunia yang dihuni beragam individu.”
“Jadi, kau ingin memusnahkan perbedaan itu demi mencapai persamaan yang mampu melahirkan ideologi baru yang menjadi tonggak dimana perbedaan dapat diterima sebagai bumbu pemanis diorama kehidupan di masa depan?”
“Tepat. Untuk itulah, aku terpaksa harus mengorbankan orang-orang kulit putih demi meruntuhkan kebutaan pandangan manusia saat ini,” seru si cendekiawan.
Lelaki kulit putih tak mampu berkata-kata lagi. Keringat dingin bercucuran di dahinya, turun ke leher lalu melesap ke lantai yang basah oleh darah kaum kulit putih. Tubuhnya bergetar kencang kala kepalanya dijejali pelontar timah yang siap melesat ke benaknya.
“ Maaf, ini demi masa depan dunia. Sifat manusia yang selalu menzalimi perbedaan harus dimusnahkan. Nyawamu sebagai manusia kulit putih terakhir akan selalu kukenang,” si cendekiawan menutup kalimatnya. Kemudian dia menarik pelatuk dan meluncurlah timah panas menuju kepala lelaki kulit putih itu, hingga lelaki itu terkapar seketika dan tak mampu memandang dunia yang kejam ini lagi.
Cendekiawan itu mengambil gelas kosong dari dapur, lalu menampung darah si lelaki kulit putih. Matanya berkaca-kaca, kelopaknya tidak mampu lagi menampung bulir air yang mulai mengalir di pipinya.
“Darah manusia yang telah mati layak untuk dihormati. Setiap tetes darah akan membawa dunia ini menuju peradaban yang beradab.”
0 comments:
Post a Comment