Sudah dua tahun kelulusan SMA berlalu. Dokumen-dokumen berisi catatan masa lalu, kembali terkuak. Tangis yang tak sanggup melepas perpisahan meluap. Haru yang tak kuasa menahan kebahagiaan kelulusan SMA bergema di ingatan. Semua momentum itu masih terekam jelas, tanpa cacat, menjadi artefak yang tak lekang oleh zaman. Tujuh puluh lima siswa SMA, yang bernaung pada atap yang sama. Para penghuni asrama yang kadang jemu terkurung pagar besi. Namun mengenyam arti keluarga selama tiga tahun. Mereka bukan teman ataupun sahabatku. Tapi, mereka adalah keluargaku. Saudaraku tanpa status kandung.
Walaupun jarak menciptakan renggang yang solid di antara kami, namun komunikasi tidak pernah surut. Kami tetap berhubungan melalui media sosial. Terutama facebook. Satu bulan yang lalu, aku mengajak mereka untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Sebuah pendakian yang tak hanya menuntut lelah. Namun, di dalamnya terdapat intisari yang faktual. Ada misi yang terselip.
Kami mendapat empat pendaki. Tak banyak memang. Teman-teman yang lain sudah banyak yang pulang kampung duluan. Hanya empat. Empat orang yang akan menjadi eksekutor misi besar angkatan kami. Angkatan 7 SMA N Agam Cendekia.
Kami baru saja tiba di Malang. Pukul sembilan tepat. Aroma pagi masih tersisa sedikit. Terik belum terlalu memuncak. Dan perjalanan kami akhirnya singgah di Desa Ranupani. Titik awal dari sebuah perjalanan akbar.
“Kalian lama sekali. Aku sudah menunggu dari tadi.”
Pria yang berdiri di hadapanku adalah Yudi. Seorang mahasiswa ITS yang berpostur jangkung dan berkulit putih. Dia tiba di sini lebih dahulu dari kami, mengingat tempat tinggalnya lebih dekat.
Kedua orang yang baru saja datang bersamaku adalah Vivin dan Luthfi. Vivin berasal dari universitas yang sama denganku. ITB. Dia adalah satu-satunya wanita yang menjawab tantang ini. Kemudian, yang satu lagi adalah Luthfi. Saat ini, dia sedang mengembara di UI.
“Jadi apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu?” tanyaku pada Yudi.
“Kalian pasti lelah, kan? Istirahatlah dahulu. Nanti kita akan mengadakan briefing sebelum tancap gas,” jawabnya dengan gigi yang dipamerkan.
Kami mengecek bawaan lebih teliti lagi. Mengukur sesuatu yang layak dibawa dan yang tak dibutuhkan. Inilah yang terpenting ketika mendaki. Mencermati barang bawaan.
Sore menjelang, matahari mulai merona dengan jingganya. Lembaran cahayanya tidak terlalu intens seperti siang tadi. Tanaman-tanaman nan menghijaukan area ini mulai tersaput cahaya kemerahan yang dijulurkan mentari. Pukul empat. Pertanda bertabuh. Saatnya memulai perjalanan.
“Ini pertama kalinya bagiku melakukan pendakian,” ucap Vivin sedikit gugup.
Yudi tersenyum. Matanya memantulkan cahaya mentari yang masih menyisakan cerah. Tangannya mengepal dan diulurkan ke depan. Langkahnya kokoh, tak peduli dengan tanjakan ataupun rintangan yang bersahutan. Dia menunjukkan keahliannya. Sang motivator. “Meja tidak akan berdiri sempurna tanpa empat kaki. Sapi pun tidak akan bisa berjalan tanpa empat kaki. Begitu pula misi ini. Kita tidak akan mampu menghadapinya tanpa empat orang pemberani. Aku untukmu, dan kamu untukku.”
Mendengar perumpamaan itu, Vivin pun terkekeh. Dia semakin rileks berjalan. Semakin percaya bahwa keyakinan akan mengundang hasil.
Kira-kira, sudah dua jam kami mendaki. Rasa lelah mulai bertengger. Namun, semangat tak mampu merayu tekad kami tuk mendeklarasikan bendera putih. Kami terus mengayuh langkah. Berbahan bakar angan-angan melihat pemandangan di atas puncak, kami percepat langkah kaki.
“Yah, gerimis,” tukas Luthfi. Tangannya menengadah ke langit, seolah dirinya tengah meminta hujan yang lebih deras lagi.
Dan, benar. Hujan semakin deras. Badai mulai memekik keras. Pepohonan di sekitar kami terlihat sedang menikmati pertunjukkan horor ini. Mereka meliuk-liuk tak karuan.
“Ayo, percepat langkah. Kita harus segera mencari tempat berteduh.” Kupercepat langkahku sambil berteriak.
Langkah kami tunggang langgang. Kaki-kaki kami berserakan. Rute mulai tidak jelas. Semakin cepat kami berlari, semakin jauh dari kepastian.
Kami tersesat.
“Oke, kita tersesat. Kita kehilangan arah,” ucap Yudi. Dia menggigil, tak mampu mengusir dingin dari tubuhnya.
“Tenang. Kita bisa lakukan ini. It’s okay,” timpalku.
Kami menghentikan penjelajahan, berpikir sejenak tentang langkah yang harus kami tempuh. Kami terjebak dalam keraguan. Maju, tanpa tahu bahaya apa yang menerjang. Ataukah, mundur, tanpa kejelasan yang bisa memastikan kami kembali ke rute awal.
“Ayo jalan. Iringi dengan do’a. Kita pasti sampai, dan Tuhan akan melindungi kita,” seru Luthfi, tak ingin kalah membakar bara semangat.
“Ya. Ayo. Ayo. Ayo,” sambut kami berbarengan. Memulai kembali pendakian.
Sekitar satu jam, kami terus berjalan dalam status tersesat. Akhirnya, kami melihat sebuah danau.
“Ranu Kumbolo!” teriakku.
“Akhirnya kembali ke rute,” sambut Yudi.
“Belum. Rutenya di atas. Kita harus mendaki sedikit lagi,” sergah Luthfi.
Kami larut dalam keadaan menggigil. Pakaian kami basah kuyup. Sungguh keadaan yang tidak menyenangkan.
Dari Ranu Kumbolo, kami mendaki sebuah tanjakan. Tanjakan cinta, begitulah orang-orang memanggilnya. Mitosnya, seseorang yang mendaki sambil memikirkan pasangannya, maka cinta mereka akan abadi.
Akhirnya, kami sampai di sebuah post. Inilah tempat yang kami tuju untuk pemberhentian. Idealnya, kami bisa mendirikan tenda di sini. Namun, karena hujan badai masih menerjang, hal itu jadi tak memungkinkan. Kami habiskan malam itu di sebuah pondok. Malam yang tak nyaman. Pakaian basah masih melekat di tubuh. Sleeping bed pun terimbas kuyup. Bawaan kami terendam air hujan.
Kami tidak tidur malam itu. Berbekal kebersamaan, kami habiskan waktu dengan mengobrol. Hingga, tak terasa akhirnya fajar mulai menyinggahi bumi pertiwi ini.
Kami tidak melanjutkan perjalanan. Hari itu dihabiskan untuk mengeringkan pakaian.
“Kapok?” ucapku pada teman-temanku.
“Belum seberapa. Masih kalah horor dengan wajah Pak Safril ketika menghukumku dulu,” jawab Yudi. Dia terkenang masa-masa SMA ketika dihukum pembina. Kami pun tak kuasa menahan tawa.
“Ya memang begini kalau mendaki. Kita harus menerima amukan alam sebelum bisa saling berkasih dengan mereka,” sela Luthfi.
Benar. Saat seseorang mulai memasuki dunia baru, ia akan menemukan pertentangan yang akan menjauhkannya dari dunia itu. Dan, ujiannya adalah ketika tekad dihadapkan pada pertentangan tersebut.
Aku jadi teringat saat pertama kali masuk SMA. Waktu itu banyak dari kami yang mengeluh tentang beratnya kehidupan asrama. Jadwal yang diatur mulai dari bangun tidur hingga terlelap kembali. Semua itu melelahkan. Namun, itulah risiko berada di dunia yang baru.
Malam mengkudeta siang. Gelap kembali berkuasa. Sepotong bulan menggantung di atas langit, tersenyum licik seolah menantang kami. Siluet-siluet awan terlihat samar, menyatu dengan langit yang kelam.
Ketika aku hidup sebagai penghuni asrama, cara menerjemahkannya bukanlah dengan menentangnya. Namun, terima kehidupan itu, dan menyatulah dengan keadaan. Sepertinya aku mendapatkan jawaban pada perjalanan yang tidak beruntung kali ini. Bukan mengeluh pada alam, tetapi bertoleransilah akan eksistensi alam. Amukan dan senyuman alam adalah bagian dari keterkaitan manusia dan lingkungan.
“Oh, iya. Ketika mendaki tanjakan cinta, kalian memikirkan orang yang kalian cintai, kan? Siapa?” ucap Yudi.
“Hah? Haruskah hal yang seperti itu diceritakan juga?” sahutku.
“Kalian,” sela Vivin. “Angkatan tercinta, yang sudah kuanggap seperti keluarga.”
Kami saling berpandangan. Mengangguk. Sepakat. Benar, keluarga.
Malam itu berakhir, ditutup dengan nyanyian bersama. Pembangkit semangat sebelum lelap.
**
Lelah yang kami dapatkan kemarin terganti dengan permadani indah yang disuguhi Oro-oro Ombo. Sejauh mata memandang, mataku menangkap padang bunga yang luas. Seperti tamat impian. Kami memutuskan berhenti sejenak di sini, mengambil beberapa adegan yang bisa diabadikan.
Kemudian, kami merengkuh perjalanan kembali. Masih ada tujuan utama yang belum kami raih. Puncak Mahameru. Misi yang sebenarnya. Untuk memulai perjuangan ke Puncak Mahameru, kami harus singgah di Kalimati terlebih dahulu.
Butuh dua jam untuk sampai di Kalimati. Jam dua belas, begitulah yang dikatakan jam tangaku ketika kulirik sesampai di sana. Kalimati merupakan rute aman terakhir sebelum benar-benar masuk ke tantangan sebenarnya. Tantangan meraih Puncak Mahameru, yang sangat ekstrim.
“Kita istirahat di sini,” ujar Yudi, sang ketua kelompok kami.
Kami mendirikan tenda. Perapian kami persiapkan untuk memasak makan malam. Di sini tidak mudah mendapatkan air. Aku dan Yudi harus ke sumber mani terlebih dahulu untuk mendapatkannya.
Malamnya, sekitar jam sebelas, kami mulai perjalanan. Perjalanan dari Kalimati menuju Puncak Mahameru. Kami harus meninggalkan barang-barang di sini. Untuk mencapai puncak, kami tidak bisa membawa beban, karena jalan yang sangat terjal.
Dan, memang benar, seperti yang dikisahkan orang-orang, perjalanan menuju Puncak Mahameru adalah neraka. Sepanjang perjalanan yang kami temui hanyalah kegelapan. Hanya cahaya kecil dari senter yang mampu menuntun jejak kami. Butuh lima jam merengkuh perjalanan. Dan, akhirnya, kami tiba di puncak.
“Yo, man. Akhirnya kita sampai,” teriak Yudi. Dia begitu girang.
“Kita berada di tempat tertinggi, Bro,” sahutku. Ini sungguh spektakuler.
Di puncak, suhunya benar-benar dingin. Beku yang menusuk kulit mampu membuat bibir bergetar. Namun, semua derita terbayar oleh kawanan awan yang menyelimuti permukaan puncak.
Pagi mulai menyingsing. Dari timur, matahari tampak menyembul, membawa rangkaian cahaya yang menyilaukan. Sinarnya mengirimkan hangatnya pada tubuh-tubuh gemetar para pendaki. Pilar cahaya mentari menyempurnakan pemandangan.
Ini bukan diorama. Kami menyaksikan panorama yang menakjubkan.
“Kibarkan benda itu,” ucap Yudi padaku.
Aku langsung memahami maksudnya. Kugapai sehelai baju yang menggantung di pinggangku. Lalu, kukibarkan ke atas. Kulambaikan, dan kubiarkan angin merentangkannya. Baju dengan bubuhan logo angkatan kami. Seventh Light. Angka tujuh tercetak erat di sana. Momen itu kuabadikan menggunakan kamera.
“Akhirnya kita tiba di Puncak Mahameru. Jika saat ini kita tidak bisa bersama kemari, kapan-kapan datanglah lagi. Paling tidak, melalui video ini, kami ingin kalian merasakan perjuangan kami. Momen di mana angkatan kita berhasil menaklukkan Semeru. Ingat itu.”
Yudi, dengan bangganya mengibarkan baju itu, sembari melontarkan isi hatinya di depan kamera. Matanya bercahaya. Wajahnya riang becampur semangat. Ada lelah yang menggurat, namun perlahan sirna digusur rasa puas.
Kami berhasil menempatkan nama angkatan 7 di Puncak Mahameru. Misi terbesar kami. Misi di mana kami ingin membuktikan bahwa kami masih menghargai kenangan. Di mana kami masih menjunjung arti keluarga, yang tak akan berubah statusnya. Dan, kami ingin mengatakan, bahwa kebersamaan kita tidak akan pernah berakhir. Bahkan, mahameru pun berkata demikian.
Terakhir, sebelum kami meluncur ke bawah, pesan terakhir kuabadikan melalui sebuah kamera dan secarik kertas. Sebuah tulisan yang menancap di kertas, bertuliskan, “Seventh Light, kita udah sampai di Puncak Mahameru. Selanjutnya kita kemari bareng-bareng, yuk.”
**
Dua hari berlalu semenjak kami menginjakkan kaki di Puncak Mahameru. Lelah masih bercokol di tubuh. Namun kepuasannya tak pernah lekang. Pengalaman yang tak akan usang.
Foto-foto dan video tangkapan selama mendaki Gunung Semeru kuunggah di facebook. Di grup angkatan.
“Wah, luar biasa. Kalian sampai juga ya di sana,” salah satu temanku, Andra berkomentar. Sebenarnya dia sangat ingin mengikuti perjalanan ini. Namun karena kampusnya belum libur, dia menitip foto-foto perjalanan kepada kami. Kelihatannya dia senang melihat rekaman perjalanan kami.
Sore mulai merengkuh. Langit menutup tirai siangnya. Awan perlahan memudar, disaput gelap yang mulai bergentayangan. Dari balik jendela, pemandangan sore tertata jelas. Tak seindah ketika mendaki Gunung Semeru memang. Namun, rasanya melegakan mengingat banyak orang-orang berharga yang berdiri di belakangku. Mereka yang masih menjunjung kenangan sebagai bukti abadi sebuah hubungan.
Catatan: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com
0 comments:
Post a Comment