Kucing Bahkan Lebih Keren Daripada Kau

            “I.. itu, Pak Darto tetangga sebelah rumahku,” Alin yang barusan menghampiri kerumunan orang, kembali ke tempatku berdiri dengan wajah gelisah.
            “Apa? Wajahmu benar-benar tidak enak dipandang, kau ingin mengerjaiku lagi?” ucapku ketus, kali ini aku tidak akan termakan bualan Alin lagi.
            “Ayolah, Gavin, kali ini aku tidak berbohong.”
            “Lalu, ada apa dengan tetanggamu?”
            “Lihatlah ke sana, aku ingin mendengar pendapatmu,” tukas Alin sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
            “Kujamin, seperti biasa, kau tak akan pernah sepakat dengan kata-kataku.”
            Sesuatu seperti kerumunan manusia, sudah dapat dipastikan ada kejadian besar yang mereka lihat. Jika melihat ekspresi Alin, kuprediksi itu adalah peristiwa yang berbau kematian. Selain itu, di depan kerumunan terdapat gedung tinggi yang masih dalam proses pembangunan.
            Tepat, seperti yang wajah konyol Alin siratkan. Di hadapanku ada sesosok tubuh yang kutebak sudah tidak bernyawa. Kelopak matanya sedikit sayu namun pancaran bola matanya terlihat jelas ingin memelototi malaikat kematian yang menjemputnya. Mulutnya sedikit menganga, kuperkirakan dia tidak terlalu sanggup menghadapi kematiannya dan mengerang kesakitan atas perbuatannya. Batok kepalanya menganga, pecah, retak, hancur, ah, terserahlah, yang jelas, dengan keadaan seperti itu pastilah sebuah kematian benar-benar akan dia sesali.
            Huh, bunuh diri ya, untuk orang-orang yang sudah kehilangan asa dalam hidup, itu bukanlah hal yang buruk. Jika tak mampu bertahan di dunia yang penuh drama ini, segeralah keluar dari pentas, lepaskan kostum lalu tidurlah ke rumah.
            “Jujur, aku tidak menyangka ini akan terjadi. Lagi pula, terlalu menyedihkan melihat anak-anak yang ditinggalkan akan hidup kesepian tanpa dirinya,” cerocos Alin yang tiba-tiba berdiri di sebelahku.
            “Kau bukanlah dia, jadi kau tidak akan mengerti apa yang dia lakukan,” kataku sambil tetap mengarahkan pandangan ke arah kerumunan.
            “Heh? Tidak bisakah kau sedikit memperlihatkan simpatimu pada orang lain?”
            “Simpati? Jangan konyol. Kau harus menerima bahwa tak selamanya kehidupan itu manis,” ucapku, kali ini mataku menatap ke arah Alin. “Itu adalah pilihan dia. Sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya, pastilah dia tidak punya harapan lagi mengingat masalah yang menerpanya.”
            “Ka.. Kau, menyebalkan.”
            “Nah, makanya aku katakan, kau tak akan pernah sepakat dengan kata-kataku.”
            “Kenapa kau bisa sebodoh ini, Gavin?” wajah Alin kali ini terlihat kecut, dia benar-benar kesal padaku. Namun yang seperti ini bukanlah pertama kalinya bagiku.
            “Aku hanya berpendapat sesuai logika. Seseorang yang sudah tidak punya keinginan untuk hidup, bukan masalah bagi orang lain jika dia memutuskan untuk menghilankan keberadaanya dari dunia ini. Dan aku mencoba memahami perasaan dia, bahwa aku harus menerima bahwa itu keputusan terbaik bagi dia.”
            “Huh, terserahlah, aku pulang saja,” dengan langkah tergesa-gesa, Alin mengakhiri kalimatnya dan beranjak meninggalkanku.
            “Hei, bukankah kau mengajakku ke rumahmu? Katanya kau ingin meminta bantuanku, kan?”
            “Ya sudah, cepatlah, dan hentikan omongan tentang pemikiran gilamu itu!”
            “Yah, baiklah,” dengan pasrah aku mengalah, lagi. Hal seperti ini sering terjadi, dimana Alin meminta pendapatku lalu aku menjawab sesuai pemikiran normalku. Tapi bagi dia, omonganku penuh dengan bualan. Mungkin dia tidak tahu yang namanya pemikiran rasional.
            Semenjak masuk SMA, tepatnya dua tahun yang lalu, aku dan Alin mulai saling kenal dan dan bertukar pikiran masing-masing. Itu awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, semua pemikiran-pemikiran kami selalu bertubrukan dan menyebabkan obrolan yang tak berujung, bahkan lebih parah dari black campaigne. Kami seperti gula pasir dan air dingin, bagaimanapun juga tidak akan pernah larut menjadi satu. Namun, ketika berada bersamanya, aku selalu merasa nyaman. Yah, mungkin itu karena ketika aku bermain ke rumahnya pasti akan disuguhi makanan lezat. Untungnya, kecuali pemikiran kami yang selalu bergesekan, ketika Alin menawarkan masakan buatannya, aku selalu sepemikiran dengannya. Masakannya luar biasa.
            Rumah mewah, taman yang hijau dan fresh, dekorasi indah, lalu wewangian yang harum, membuat rumah yang sering kukunjungi ini tak pernah membuatku bosan. Biasanya, ketika anak ini ada masalah, dia pasti menyuruhku kemari. Rasanya aku benar-benar menjadi seorang pesuruh.
            “Kali ini apa lagi?” tanyaku pada Alin.
            “Cimut, Vin,” ucapnya gelisah.
            “Cimut? Kucing peliharaanmu yang berisik dan suka mengganggu tamu-tamu dengan tingkah manjanya itu, kan?”
            “Iiih, cobalah untuk serius. Lagian dia tidak pernah mengganggu. Justru kamu yang terlalu takut dengan kucing.”
            Sial, wanita adalah makhluk paling merepotkan. Ketika mereka ingin membicarakan satu hal, maka hal lain akan mengikuti, lalu ujung-ujungnya kesalahan mereka akan dilimpahkan ke pria.
            “Udah tiga hari Cimut menghilang. Aku khawatir terjadi apa-apa.”
            “Mungkin dia mati.”
            “GAVIIIN!!”
            Nah, benar, kan? Ketika aku mengatakan sesuatu dengan kemungkinan terbesar, dia selalu tidak setuju dan tetap mengikuti kata hatinya tanpa memandang pemikiran logika sedikit pun.
            “Kau sudah mencarinya di seluruh ruangan?”
            “Sudah, berkali-kali malahan,” kekhawatiran Alin tersirat di bola matanya, seperti ketika aku melihatnya di jalan pulang tadi.
            “Di halaman rumah, di taman, yah, pokoknya di luar sekitaran pekarangan rumah?”
            “Udah, udah, dan tetap tidak ketemu.”
            Oke, sampai saat ini aku masih percaya bahwa kucing itu telah mati. Kebiasaan kucing yang kuketahui adalah mencari tempat yang nyaman untuk menunggu ajal.
            “Gudang belakang rumah. Tempat itu jarang kau datangi, kan?”
            “Tempat itu belum kuperiksa sih. Tapi pintunya terkunci, jadi tidak mungkin ada di sana.”
            “Hadeh, kucing itu punya 1001 cara, bahkan lobang sekecil apapun bisa mereka manfaatkan untuk masuk ke sana. Ayo, kita periksa ke sana.”
            “Ya,” jawab Alin dengan asa yang masih menyisa. Namun kali ini aku tidak tega memberitahunya tentang pemikiranku.
            Gudang tua, kusam, kucel, berdebu, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa tidak terurusnya tempat satu ini. Dari sekian banyak ruangan di rumah Alin, hanya yang satu inilah yang tidak diperhatikan. Kalau aku jadi seekor kucing, sudah pasti tempat ini yang akan kujadikan tempat menyendiri paling tepat.
            Ketika kami mulai mengeksplorasi ruangan ini, tidak ada tanda-tanda keberadaan mayat kucing. Yah, minimal baunya, tidak ada bau tak sedap yang kucium.
            Tiba-tiba, dari arah tempat Alin yang tengah mencari, terdengar suara isakan. Kutebak, pasti dia sudah menemukan kucingnya.
            “Hei, kau kenapa?” tanyaku, mencoba bersimpati sebaik mungkin.
            “Kau benar, Cimut udah mati,” jawabnya masih terisak. Air mata berlinang di pipinya seperti mata air yang melimpah.
            Sebenarnya sih, aku ingin tersenyum lalu mengatakan ‘benar, kan, yang kukatakan terbukti’. Tapi niat itu kuurungkan demi menjaga perasaan Alin. Soalnya perempuan itu perasaannya sensitif, banget.
            “Dia mati beberapa jam yang lalu,” ucapku sambil mengelus kepala Alin. Kurasa cara seperti ini cukup benar untuk memperlihatkan perhatianku. Biasanya Alin juga melakukannya kepada kucingnya.
            “Lalu, kemana dia beberapa hari ini?” Alin menolehkan wajahnya padaku, air matanya masih berjatuhan seperti embun yang berserakan dari dedaunan.
            “Semenjak dia hilang, dia sudah berada di sini.”
            Alin heran, masih belum mengerti. Tampaknya aku lebih memahami kebiasaan kucing dari pada dia.
            “Dia sudah tau ajalnya makin dekat, mungkin ini keputusannya untuk pergi dan mati tanpa diketahui siapa pun.”
            Yah, tampaknya omonganku barusan tidak akan disanggahnya. Kali ini kami sepakat.
            “Alin..”
            “Ya?”
            “Kau benar..”
            “Tentang apa?”
            Aku terdiam. Aku baru saja menyadarinya.
            “Tidak, tidak ada apa-apa. Yuk, kita kuburkan kucingmu, selagi baunya belum menyengat dan merusak paru-paruku,” ucapku mengakhiri kesedihan Alin di gudang itu dan dibalas senyuman beserta pukulan manja darinya.
            Tidak semua yang kupikirkan benar. Memang, keputusan untuk mengakhiri kehidupan adalah hak bagi setiap orang. Tidak bisa melanjutkan hidup karena tidak tahan menanggung masalah yang membebani diri, apapun jalan keluarnya, itu adalah pilihan setiap orang. Namun aku sadar, bahwa sebagai manusia, kita tidak hidup sendiri, setidaknya ada orang-orang yang mencintai kita. Jika kau mati dan seenaknya meninggalkan orang-orang yang kau cintai, kau hanya akan menyisakan kesedihan dan memperlihatkan betapa tololnya dirimu. Bukanlah sesuatu yang keren ketika kau bunuh diri lalu orang-orang menyaksikanmu dengan tatapan menjijikkan lalu segelintir orang yang menyayangimu merasa iba, sedih, benci, kesal, semua perasaan bercampur padamu. Semua itu tidak keren. Aku baru menyadari, manusia terlalu naif untuk menghargai kehidupan, bahkan meremehkannya.
            Kali ini, aku sebagai perwakilan manusia, merasa sangat malu jika melihat kucing tadi. Kucing itu sama sekali tidak menginginkan kematian menghampirinya, tidak pernah. Namun dia sadar, bahwa hidupnya akan segera berakhir. Dengan bijak, ya, dengan bijak, bahkan seekor kucing bisa berbuat bijak, dia meninggalkan majikan yang menyayanginya untuk menghadapi ajalnya sendiri tanpa ingin disadari orang lain. Dia menghargai hidupnya beserta orang yang menyayanginya tanpa ingin melihat mereka bersedih ketika kehilangannya.
            Yah, berbeda jauh dengan kelakuan manusia, seenaknya menjadi pelaku pembunuhan sekaligus korban pembunuhan atas dirinya sendiri. Sekali lagi, ini tidak keren. Aku lebih kagum pada mafia-mafia yang membunuh atas nama kebanggaan kelompoknya dibandingkan manusia yang membunuh dirinya sendiri dengan dasar keputus asaan.
            Malu-malu kucing, kata-kata itu memang benar. Kucing memiliki rasa malu yang hebat. Sementara manusia, mereka tidak malu pada dirinya sendiri dan bertindak seenaknya. Manusia yang seperti itu, tidak akan pernah masuk ke dalam tokoh terkeren di catatan pribadiku.
            Yah, terserahlah, yang penting menguburkan kucing, kemudian menyantap nasi goreng buatan Alin. Lalu berharap tidak ada lagi orang tidak keren berada di dunia ini.

            

0 comments:

Post a Comment