Daun-daun yang bergantung di ranting pohon trembesi tersauk-sauk bak menyapa burung-burung dan serangga yang singgah di tubuhnya. Dari bawah sini, aku bisa melihat beberapa burung bertengger di lengan pohon itu. Mereka damai, tak terjamah keriuhan yang memecah kesunyian. Walaupun aku tak melihat langsung, tapi aku yakin sejumlah jangkrik pasti bermukim di pohon itu. Kerikannya melantun seakan melodi merdu pengantar tidur.
Aku menyukai suasana yang tenang dan sepi. Setiap hari, selepas kuliah yang menyesakkan otak, aku mengunjungi pohon trembesi berukuran raksasa yang terletak di belakang kelas sembari bersandar di tubuhnya dan membaca novel dengan kusyuk.
Aku bukan orang yang berasal dari keluarga utuh. Ada bermacam problem yang menggelayut di kehidupan keluargaku. Namun semua masalah dan hal rumit itu justru membangunku menjadi manusia yang tidak terlalu memikirkan keruwetan hidup. Seperti ketika seseorang memasuki kamar yang berbau busuk, di menit pertama dia hampir merasakan ingin muntah, lima menit kemudian dia terbiasa dengan keadaan itu. Aku pun demikian, terbiasa dengan keadaan rumit karena aku sudah terlalu sering terlecut olehnya.
“Hei, sudah lama di sini?” Tiba-tiba seseorang bertanya padaku dari balik pohon. Aku menoleh ke belakang. Arya, salah satu temanku, atau boleh kukatakan satu-satunya teman dekatku.
“Sejak pelajaran matematika tadi berakhir,” jawabku singkat.
“Oh, maaf aku tidak melihatmu pergi. Soalnya tadi aku ke jurusan sebelah, ada keperluan,” tukasnya.
Aku tahu dia ke jurusan lain yang letaknya benar-benar dekat dengan jurusan kami. Dari wajahnya yang berseri-seri dan menggambarkan seolah dia seorang balita yang baru dibelikan mobil-mobilan, aku bisa tahu bahwa dia sedang jatuh cinta. Mengunjungi gebetan, atau mungkin statusnya sudah beralih menjadi pacar. Pokoknya tak jauh dari cinta.
“Apakah dia cantik? Apakah kamu sangat menyukai gadis itu?” Aku menyelipkan pembatas halaman berbentuk lup kecil ke halaman yang sedang aku baca lalu menutup novel, kemudian menghadap Arya dengan fokus seratus persen.
“Lah, kok kamu bisa tahu? Padahal aku belum bercerita sama sekali,” tanya Arya dengan wajah dirasuk perasaan heran.
“Sudah dua minggu ini kamu selalu mengunjungi jurusan sebelah, dan beberapa kali aku menangkapmu bertemu dengan seorang gadis. Dan, tidak ada wajah secerah itu kecuali ketika seseorang bertemu dengan seseorang yang dia idamkan.”
“Tapi tidak semua orang seperti itu,” balas Arya. “Kecuali kamu. Aku tidak pernah melihatmu terkesima dengan seorang gadis. Jangan-jangan kamu tidak tertarik dengan wanita, dan alasanmu berteman denganku adalah karena kamu..”
“Lelucon itu lagi,” selaku. “Walaupun aku juga tidak mempunyai keinginan untuk berpacaran dengan wanita, aku ini laki-laki normal yang juga tidak akan tertarik dengan pria.”
“Baik, baik, aku mengerti, Bung,” ucap Arya dengan tenang.
Ia berdiri lalu menyodorkan tangannya untuk membantuku bangkit. “Ayo makan. Kutraktir.”
“Traktiran untuk kabar baik. Aku menyukainya.” Aku meraih tangannya, lalu tersenyum menyambut air muka Arya yang cerah seperti kedigdayaan sinar matahari pagi.
Bagiku yang tidak terlalu sering berbaur dengan kerumunan, Arya adalah satu-satunya makhluk yang membuka segel kebungkamanku. Aku tidak terlalu tertarik dengan obrolan percintaan, trend masa kini, ataupun debat kusir yang merusak pendengaran. Aku lebih memilih menyendiri. Berbeda dengan Arya, dia adalah laki-laki aktif dengan jiwa sosial yang tinggi. Dia memiliki banyak teman dan kenalan. Namun kelemahannya hanya satu, dia terlalu mudah larut dalam perasaannya. Dia tidak ahli dalam urusan percintaan.
Dahulu ketika SMA, dia pernah berpacaran satu kali. Hubungan mereka sempat terjalin selama satu tahun. Namun hubungan itu berakhir tragis setelah gadis yang disukainya itu memalingkan wajah ke laki-laki lain yang katanya dia merupakan teman masa kecil gadis itu. Gadis itu merasa ikatan hatinya lebih kuat kepada laki-laki masa kecilnya. Ketika laki-laki masa kecil itu kembali ke kehidupannya, saat itulah hubungan Arya dan gadisnya berakhir. Arya merasa frustrasi. Selama dua minggu dia tidak keluar kamar.
Aku adalah satu-satunya teman yang selalu mengunjungi Arya ketika masa-masa kelamnya itu. Waktu itu aku hanya mengikuti keinginanku: mendekati seseorang yang merasakan hal yang sama denganku, yaitu kesendirian. Mungkin karena itu Arya selalu ingin menjadi temanku hingga saat ini.
“Hei, Stella, sudah lama menunggu?” Arya menghadapkan wajahnya sembari melambaikan tangan ke arah meja yang dihuni seorang wanita. Seseorang yang saat ini dekat dengan Arya.
“Tidak. Aku baru saja datang,” balas wanita itu.
Aku dan Arya bergabung dengan wanita itu di meja yang terletak di pojok ruangan. Wanita itu tersenyum ke arahku. Dia berparas cantik. Penampilannya elegan. Tipe wanita yang tak akan sudi bergumul dengan kekurangan.
“Kenalin, ini temanku, namanya Wisnu. Dan, Wisnu, ini pacarku, namanya Stella.” Arya berdiri di antara aku dan wanita itu, mencoba merentangkan halaman baru yang disebut perkenalan diri.
“Wisnu, temannya Arya, dari jurusan Teknik Sipil,” ucapku sekenannya.
“Stella, dari Teknik Lingkungan,” wanita itu membalas dengan senyum yang menggurat di bibirnya. Senyum yang sudah terlatih. Jadi, tipe wanita seperti ini tak akan susah untuk tersenyum walaupun suasana hatinya tak terlalu mendukung untuk tidak cemberut.
Hubungan Arya dan Stella berjalan dengan baik. Arya sangat serius menjalin hubungan barunya. Aku tahu, dia bukanlah tipe laki-laki yang gampang jatuh cinta. Semenjak hubungan terakhirnya di SMA, baru kali ini dia mulai berpacaran kembali. Dia sungguh menaruh harapan pada hubungan barunya. Namun aku selalu tahu, awal yang baik tidak selalu berakhir dengan baik. Aku memahami itu dan seharusnya aku katakan dari awal kepada Arya. Hubungan yang dilandasi cinta tak akan berlangsung lama. Semuanya kerap berujung pahit.
**
Pada malam yang dingin di bulan November, aku dikejutkan dengan kenyataan yang memuakkan. Sebetulnya aku tidak benar-benar terkejut, karena semuanya sesuai dugaanku. Aku melihat sebuah pengkhianatan.
Saat aku bermaksud pergi ke kedai kopi yang letaknya tak jauh dari rumahku, aku melihat Stella memasuki sebuah caffe bersama seorang pria. Aku ingat, pria itu adalah putra konglomerat pemilik grup perusahaan besar. Orang kaya. Walaupun Arya juga berasal dari keluarga kaya, tetapi jika dibandingkan dengan pria ini, Arya hanyalah seonggok bungkusan nasi bungkus yang dikerubungi lalat. Tidak berarti apa-apa dan akan ditinggalkan dengan gampang.
Aku tidak terlalu bodoh untuk menghampiri Stella dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. Aku terus berjalan, berpura-pura tidak melihat apa-apa.
Dari kejauhan, kulihat wajah Stella. Wajah yang ceria, menunjukkan kebahagiaan. Ekspresi itu pernah diperlihatkannya ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Senyum yang tulus, namun tak memungkiri akan ada pengkhianatan.
Mungkin dia telah menemukan kebahagiaan barunya. Dan Arya harus menerimanya.
Keesokannya aku menemui Arya, bermaksud untuk menyampaikan kejadian yang kusaksikan tadi malam. Namun sebelum aku melontarkan semua yang ada dalam kepalaku, ekspresi Arya seolah-olah menyampaikan: tolong, jangan katakan padaku!
Aku tidak tahu apakah Arya telah mengetahui kejadian itu, atau dia sedang bermuram karena masalah lain. Namun aku ingin memastikannya dengan mulutku sendiri.
“Arya, kita harus bicara. Pembicaraan yang sedikit serius,” kataku padanya.
“Pembicaraan serius? Ada apa?” ucap Arya. Matanya sayu. Senyumnya tetap mengukir, namun sedikit tertahan kesedihan. Bukan senyum yang memiliki lekukan sempurna.
“Kemarin malam, ketika aku berjalan di sekitar rumahku, aku melihat Stella bersama seorang laki-la..”
“Hei, aku lapar,” Arya memotong ucapanku. “Bisa kita lanjutkan obrolannya di lain waktu?”
Sepertinya aku tidak perlu melanjutkan obrolan ini lagi. Semuanya sudah jelas. Arya sudah mengetahui kejadian tadi malam.
Aku bangkit dari tempat duduk, lalu meraih tangan Arya sambil berucap, “Baiklah, kali ini aku akan mentraktirmu.”
“Bagus.”
Hari itu kukira akan menjadi lembaran baru bagi Arya setelah dihantam kenyataan pahit dalam hubungan percintaannya untuk kedua kalinya. Namun perkiraanku salah. Makan siang di kantin kampus hari itu kenyataannya adalah saat terakhir kami saling berpandangan. Kebersamaan terakhir yang dirasakan oleh dua orang sahabat. Setelah itu, hanya berbekas kesedihan, penyesalan, dan kehampaan.
**
Musim hujan tengah berlangsung. Malam selalu dikunjungi hawa dingin yang membekukan tulang. Suasana malam dihuni kesunyian yang menjulang. Rintik hujan yang membasahi bumi turun bersamaan dengan sebuah kabar duka. Kabar tentang Arya yang memutuskan untuk meninggalkan dunia untuk selamanya.
Aku mengetahui Arya adalah orang yang jarang terjatuh hingga ke titik frustrasi yang curam, namun ketika dia mencapai titik itu, tidak akan mudah baginya untuk naik kembali. Seharusnya aku mengetahui apa yang akan dia lakukan. Namun yang kulakukan malah sebaliknya, aku berpura-pura dia akan baik-baik saja dan melupakan masalah itu.
Dalam surat terakhir yang diletakkannya di atas meja di kamarnya, tertulis ungkapan terakhirnya dan alasan mengapa dia memutuskan untuk pergi. Arya tidak bisa menerima dirinya yang mudah terjatuh. Dia resah akan menderita rasa sakit yang sama di masa yang akan datang.
Malam itu Arya berkata padaku bahwa semuanya baik-baik saja saat dia hendak berpisah denganku di sebuah caffe. Aku yakin dia tidak dalam kondisi baik, namun aku tidak menyangka dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan.
Tetapi sebenarnya aku menghormati keputusan Arya. Dia telah memilih jalannya sendiri. Selain itu, dia telah memahami ucapanku yang selama ini disanggahnya tentang ketidakpercayaanku akan cinta. Dia telah merasakannya dan mengerti keyakinanku yang menolak cinta mampu memberikan obat dari segala jenis luka yang membabat manusia.
Bagaimana dengan Stella? Dia sempat menangis di hari pemakaman Arya. Tetapi, sebuah tangisan duka untuk seseorang yang pernah dikenal merupakan hal yang wajar. Itu bukanlah tangisan penyesalan. Beberapa hari setelah pemakaman Arya berlangsung, aku melihatnya bersama laki-laki yang kutempui tempo hari lalu. Dia tampak baik-baik saja, seolah tak pernah ada badai yang datang menghampirinya.
Pengkhianatan, dusta, janji palsu, dan semua penderitaan yang disebabkan oleh perasaan cinta adalah sesuatu yang hakiki. Nenek dan Kakekku bercerai karena mereka tidak pernah saling mencintai. Mereka hanya dijodohkan. Setelah satu tahun menikah, Nenek melarikan diri dan hidup bersama laki-laki lain yang dicintainya. Namun hubungan mereka tidak nyata. Laki-laki itu pun tidak bersungguh-sungguh mencintainya dan dia dicampakkan. Saat itu Nenek memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Setelah itu, Mama dibesarkan oleh pamannya. Kakek sering bercerita kalau cinta itu aneh. Dia yang tak memahami arti cinta, tidak terlalu peduli dengan pernikahannya dengan Nenek. Namun setelah dia kehilangan Nenek, dia mulai memahami bahwa ketiadaan seseoranglah yang memicu perasaan cinta itu kembali. Itu tidak masuk akal. Jika memang cinta itu sebuah kebersamaan, kenapa harus ada yang hilang untuk membuat manusia menyadari perasaan itu?
Keluargaku pun merasakan hal yang sama. Papa dan Mama adalah dua manusia yang menjunjung tinggi karier. Mereka hanya mengoceh tentang kebahagiaan yang ingin mereka raih melalui pekerjaannya. Mereka jarang di rumah. Ketika aku berumur lima tahun, mereka bercerai dengan alasan yang ingin membuatku muntah. Mereka merasa tidak cocok dan kebersamaan bukanlah satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh. Mereka merasa bisa hidup berpisah karena bisa menghidupi diri sendiri dengan pekerjaan yang membuat mereka memiliki harta yang melimpah. Pekerjaan mereka justru membunuh mereka, karena tak ada sosok keluarga lagi yang terlintas di hati mereka. Keluarga seolah-olah sudah hanyut di dalam badai yang besar, yang membutakan mata mereka dengan angan-angan kebahagiaan yang ditawarkan harta-harta mereka.
Aku tidak bisa memahami definisi cinta yang sebenarnya. Apakah cinta itu adalah sesuatu yang mutlak memberikan kebahagiaan bagi manusia? Ataukah dibutuhkan pengorbanan untuk meraihnya? Aku tidak yakin cinta memberiakn kebahagiaan yang nyata jika ada konsekuensi yang memberikan rasa sakit. Hingga saat ini aku tidak mempercayai bahwa manusia membutuhkan cinta. Tidak, sampai aku menemukannya. Dan aku percaya aku tidak akan pernah menemukannya.
Cinta itu semu, seperti bayangan pohon trembesi yang tak akan pernah bisa disentuh.
0 comments:
Post a Comment