Aku tidak tahu pasti berapa usiaku. Lebih tepatnya, sejak kapankah aku harus menghitung waktu hidupku. Sejak aku berupa pohonkah? Sejak aku diolah menjadi kertaskah? Atau semenjak aku dikutuk dalam bentuk origami yang menjijikkan ini, mungkin?
Yang jelas, aku tahu siapa yang harus kusalahkan. Aku terperangkap dalam takdir yang tak akan pernah kuterima. Dan sosok yang paling bertanggung jawab adalah tuhan. Pakai huruf kecil di “t”-nya, bukan kapital.
Aku benci tuhan, dengan segala kekuasaannya dan sifat absolutnya yang memamerkan kesemena-menaan. Tak diberikannya a dan b kepada makhluk hidup agar bisa memilih jalan hidupnya. Bertanya tentang ketetapan yang dia berikan kepadaku pun tidak pernah. Dia pikir aku senang jadi origami. Kenyataannya tidak. Toh, dia tidak peduli, aku mau senang atau tidak. Dia tetap santai-santai saja menontonku dari atas sana. Entah, sampai sekarang pun, aku tak percaya yang di atas itu surga, seperti yang dielu-elukan banyak orang. Atau, lebih gawat lagi, dia sama sekali tidak peduli kepadaku, kepada kau, dan kepada semua makhluk hidup ataupun tak hidup.
Makhluk hidup menyembahnya karena mengikuti apa yang dilakukan dan diajarkan orangtua, kakek-nenek, dan leluhurnya. Sah-sah saja. Aku anggap mereka yang melakukan itu adalah oknum-oknum yang beruntung karena secara kebetulan mendapat takdir yang dengan senang hati bisa mereka terima.
Yang jadi masalah adalah makhluk hidup sepertiku, yang masih bertanya-tanya, kenapa sih tuhan memerangkapku di dalam wujud dan jalan hidup yang menyebalkan.
Mungkin kau bertanya atas dasar apa aku membenci kehidupan sebagai sesosok origami. Ok, akan kujelaskan nanti. Namun akan kujabarkan terlebih dahulu kenapa aku ingin hidup dalam wujud lain.
Aku senang saat mengetahui diriku terlahir sebagai pohon. Besar, kokoh, rindang, dan disenangi banyak pemburu dan pendaki sebagai tempat berteduh. Sebagai pengusir terik.
Kebanyakan, pohon-pohon akan menghadapi dirinya ditebang secara masal. Diubah dalam bentuk yang bermacam-macam. Tak dapat dihindari memang, karena tidak semua dari kami yang beruntung dapat menyelami kehidupan sebagai pohon untuk selamanya.
Nah, aku kagum dengan teman-temanku yang bertransformasi menjadi salah satu tulang rusuk dari sebuah rumah kayu besar nan kokoh yang berdiri di kaki Gunung Fuji. Keren.
Pernah pula aku lihat salah satu teman yang tinggal di banjar yang sama denganku saat di hutan dulu, kini menjelma menjadi buku pengetahuan yang banyak dijamahi tangan-tangan calon ilmuwan. Kurang keren apalagi?
Oh, iya, ada pula yang saat ini berubah menjadi gagang kapak yang sewaktu-waktu digunakan sebagai alat untuk menebang temannya sendiri. Tragis memang. Paling tidak, menurutku itu cukup bagus karena bisa bermanfaat bagi makhluk hidup lain. Lagi pula, dia masih sama kuatnya dengan dirinya yang dulu.
Ketika aku tahu diriku menjadi sesosok kertas, aku bertanya-tanya, penulis seperti apakah yang akan membubuhi tinta padaku? Atau, diubah jadi brosur acara besar macam apakah diriku?
Sial. Tak satu pun perkiraanku tepat sasaran. Meleset semua.
Aku diubah menjadi kertas persegi. Beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai seniman, merancangku hingga menjadi sesosok burung kertas. Cantik, kata mereka. Apa-apaan ini, kataku.
Jadi, aku hanya dijadikan pajangan di rumah seni sebuah komunitas. Aku bukan siapa-siapa. Hanya sesosok yang kaku dan rapuh. Iya, rapuh. Jika terinjak, maka rusak sudah wujudku. Wujud yang kata orang seharusnya aku banggakan. Namun kenyatannya tidak. Aku tidak sudi jadi origami. Malah, aku malu dengan wujudku.
Coba sebutkan manfaat dan keuntungan yang ada pada diriku! Tak ada!
Satu-satunya yang bisa dibanggakan oleh manusia adalah saat mereka berhasil mengubah bentukku dari secarik kertas pipih menjadi kertas berbentuk tiga dimensi. Nah, itu kan mereka yang bangga. Bukan aku.
Jika memang harus menjadi pohon, harusnya tuhan memberikanku pilihan dalam menempuh metamorfosis selanjutnya. Aku berhak.
Tapi tuhan tetap kukuh menyuruhku untuk menjadi sepotong origami rapuh yang suatu saat akan lusuh dan dibuang begitu saja di tempat sampah. Nestapa sekali hidupku. Hidup tak ada asa, mati pun nelangsa.
Oh, pernah sih, suatu ketika ada seorang anak yang menangis. Aku tidak terlalu tahu kenapa dia menangis. Bukan urusanku juga. Yang pasti, saat dia melihat diriku, dia berhenti menangis dan mulai tersenyum. Katanya diriku indah. Pada saat itu aku memutuskan definisi indah adalah sesuatu yang mampu menghentikan tangis dan membuat anak kecil tersenyum.
Mulai detik itu, aku berhenti menyukai kata indah.
Sekali lagi, kukatakan aku tidak terima menjadi origami. Takdir memang suka memilih-milih. Dan aku diberi pilihan yang tak enak. Dan perlu kutekankan sekali lagi, pencetus ide ini adalah tuhan.
Aku rasa tidak ada lagi yang bisa kutawarkan dari kisah perjalanan hidupku. Tidak ada yang hebat. Hidupku hanya berisi kesialan.
| Sumber Gambar: hdwallpaperbackgrounds.net/ |
0 comments:
Post a Comment