Minumlah Racun Ini.

Pria tua itu menyingkap gorden jendelanya sedikit, sambil mengintip kearah luar. Keningnya kusut selaras dengan kain gorden yang entah sudah berapa abad tidak diusik dari tempatnya bergelayut. Sesaat kemudian, dia beranjak meninggalkan jendela yang rupanya telah kusam disantap rayap, dan menghampiri kursinya kembali, di dekat seorang anak yang tengah membaca buku dengan wajah polos yang tak terjamah hiruk pikuk dunia luar sedikit pun.

Secangkir kopi hitam tergeletak di meja yang berada di hadapan pria tua itu. Kepulannya tak lagi bergentayangan, seakan merajuk karena ditelantarkan begitu lama oleh mulut pria tua yang giginya menguning itu.

“Lihatlah, Nak. Di luar begitu banyak orang-orang yang lupa memakai otaknya dan berbicara atas nama keadilan seenak jigongnya. Mereka tak peduli akan kebodohan yang menyebar di sana. Bahkan jika kebohongan terhebat pun mencambuk tempurung kepala mereka, mereka tidak akan menghiraukannya. Toh, mereka lupa memakai otak.”

“Mereka tidak lupa, Ayah. Lihat, mereka meletakkan otak mereka di dalam kantung masing-masing. Mereka hanya tidak ingin memakainya.” Anak kecil bertubuh mungil itu menatap wajah ayahnya sembari menunjuk kantung berisi otak yang tersemat di pinggang orang-orang di luar. Wajahnya begitu tenang, seperti air kopi yang tak beriak di hadapa
nnya.

“Dan, mereka juga tidak tahu malu. Kamu lihat mereka, kan?” tanya pria tua kembali.

“Ya, Ayah. Wajah mereka rata. Sepertinya mereka memang sengaja mencampakkan wajah mereka agar bisa berkata sesuka mereka. Tapi, mereka tidak punya mulut. Lantas, bagaimana mereka bisa berbicara?”

“Mereka punya cara lain untuk berbicara, yaitu dengan kebohongan.”

 Si anak termanggut, memahami perkataan ayahnya.

“Ayah mengetahui banyak hal, bukan? Termasuk kenyataan bahwa mereka berada di lembah yang curam. Kenapa Ayah tidak katakan saja pada mereka bahwa mereka itu salah? Kenapa Ayah tidak pergi keluar rumah saja untuk mengatakannya? Bukankah itu mudah?”

Pria tua itu tidak bersuara. Bibirnya bergeming. Dia meraih sesuatu yang berada di dalam lemari yang berdiri tegap di belakangnya. Kemudian dia letakkan benda yang berada di genggamannya itu di atas meja. Sebuah botol bening berisi cairan merah.

“Ada dua jenis racun yang ada di dunia ini. Percayalah,” pria tua itu kembali bersuara. 

“Sekumpulan orang-orang bodoh di luar sana, yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dari sekumpulan orang-orang bodoh lainnya, adalah korban dari racun jenis pertama. Racun itu tidak berwujud. Dampaknya sungguh hebat dan mematikan manusia secara perlahan. Kamu tahu, atas nama apa mereka berdiri di luar sana?”

“Kekuasaan?”

“Tepat, Nak. Racun itu bernama kekuasaan. Dan, mereka yang berada di sana adalah manusia yang haus akan kekuasaan. Mereka tidak bisa mengontrol diri mereka lagi. Dan, timbulah berbagai kebohongan, kebodohan, dan kebullshitan dari mereka. Mereka telah membumbui dunia ini dengan keculasan yang bertubi-tubi, seperti cincin saturnus yang tak memiliki ujung. ”

Pak tua melirik ke arah kalendar yang menggantung di punggung dinding. Kemudian, dia menatap wajah anaknya kembali.

“Sudah tahun ke tiga puluh semenjak si tua bangka yang berdiri di atas mimbar itu menjabat sebagai pemimpin. Tapi, dia selalu gagal membawa dunia kita menuju kesejahteraan. Namun, dia selalu mengikuti pemilihan di setiap periode. Anehnya, dan tentu saja bodohnya, dia selalu memenangkan pemilihan itu.”

“Kenapa bisa Ayah?”

“Mulut manusia-manusia di luar sana telah disuapi keju, sehingga mereka tak mampu membantah omongan yang terlontar dari pemimpin busuk itu,” sang ayah menyudahi omongannya.

Si anak menulis perkataan ayahnya di buku catatan yang baru saja diambilnya dari tas.

“Yang kedua, Yah?”

“Racun berikutnya adalah yang kamu lihat di hadapanmu ini, yang baru saja Ayah ambil  dari lemari. Ini bukanlah racun spesial. Hanya racun biasa yang mampu membunuh orang yang meminumnya. Tidak ada efek lain.”

“Lantas, untuk apa ada racun seperti ini? Dan untuk apa Ayah menyimpannya?”

Sang ayah tersenyum hangat, sehangat mentari senja yang mulai bergulir ke pucuk bukit di belakang rumah mereka.

“Bukan tidak mungkin kelak Ayah akan tergoda untuk keluar rumah dan termakan kebodohan manusia-manusia itu. Namun, sebelum itu terjadi, Ayah akan meminum racun ini. Karena racun ini lebih baik dari pada yang mereka teguk.”

“Aku tahu,” sahut sang anak. “Lebih baik mati ketika hati nurani manusia masih dalam keadaan bersih, daripada harus mati perlahan dalam keadaan hina setelah meneguk racun seperti yang mereka lakukan. Begitukah, Yah?”

“Ya, Nak. Begitulah, tepat. Dan juga, kaum tua seperti kami ini tidak mampu lagi membawa dunia ini kearah yang lebih baik. Kami sudah terjangkit banyak penyakit. Tidak bijak jika berharap pada kami.”

“Lalu pada siapa dunia ini akan bergantung?” tanya sang anak penasaran.

“Kamulah yang akan membawa perubahan. Kepolosanmu saat ini akan membawamu menjadi manusia yang berakhlak dan berilmu. Jangan abaikan itu,” ucap pak tua itu sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah anaknya.

“Aku mengerti, Ayah.”

"Namun, jika kelak kamu mulai tergoda untuk melepaskan otakmu dan mencampakkan wajahmu seperti mereka, maka teguklah racun di atas meja itu. Sesungguhnya itu lebih bijak.”




Sang anak mengangguk. Kemudian dia melanjutkan membaca buku yang sempat diabaikannya tadi. Dan sang ayah menjamahi cangkir kopi yang ada dihadapannya. Membujuk kembali kopinya agar mau dijamahi bibir kusamnya.

0 comments:

Post a Comment