JANJI COKELAT PAHIT



            Kau tahu, sejak cokelat muncul ke permukaan dunia dengan segala makna yang ditularkannya, tepatnya 4000 tahun yang lalu semenjak penduduk mesoamerika menemukannya, hingga kini pun eksistensi cokelat tidak pernah pudar. Tidak berkurang atau pun luntur. Malah ia menambah perannya di abad ke 21 ini. Bahkan mengisi takdirku. Sempitnya, ia mengisi asa yang telah pupus bagiku.
            Jika bumi berputar memenuhi kodratnya, selayaknya juga manusia. Memelihara perasaan cinta, sungguh, itulah kepastian yang tuhan taburkan ke setiap hati manusia. Tentu, aku pun begitu. Sebagai manusia, benih itu telah tumbuh padaku. Bahkan pertumbuhannya benar-benar deras. Kenyataan itu tertaut pada pandanganku pada seorang wanita.
            Lerina, gadis seusiaku yang bersekolah di SMA yang sama denganku namun kami berada pada kelas yang berbeda.Sesuatu yang spesial darinya adalah dia merupakan idola di sekolah.Abaikan wajah cantiknya, karena gadis cantik pun banyak di sekolah. Yah, walaupun kuakui dia termasuk di deretan gadis tercantik di sekolah, sih. Suaranya tidak indah. Maksudku, tidak sebatas indah, melainkan sejuk, adem, bening, dan, ah, pokoknya sulit untuk kuungkapkan dalam sebuah narasi. Dia adalah kartu as di band dan grup paduan suara sekolah kami.
            Nah, lalu aku? Sebenarnya aku pun tidak kalah fenomenal. Tidak ada yang tidak mengenal nama Ravanza di sekolah ini. Kecuali dia mengalami amnesia. Keahlianku adalah programming dan desain grafis. Jadi, setiap ada keperluan sekolah atau pun organisasi yang menyangkut dua hal itu, mereka akan mendatangi ekskul komputer, tepatnya menemuiku.
            Tapi, kisah cinta ini bukanlah berawal dari aku yang mencintai seorang idola sekolah. Ah, kisah seperti itu terlalu basi untuk kusajikan sebagai bacaan di malam minggu. Mungkin aku harus mundur ke masa beberapa tahun silam.
            Berawal ketika masih SD, waktu itu kira-kira aku berumur delapan tahun. Setiap senin aku selalu mampir ke deretan toko makanan ketika pulang sekolah. Kadang aku membeli martabak, roti, atau cokelat.
            Suatu ketika, di hari terspesial, dan akan selalu kuingat, aku datang ke caffe cokelat favoritku. Di sana mereka menyediakan berbagai macam cokelat yang dimodifikasi dalam bentuk bervariasi. Lalu, di sinilah pertama kali aku melihat sosok manis, polos, dan elok dari seorang gadis kecil. Ya, itu pertama kalinya aku melihat Lerina. Ia berkeliling caffe sembari melantunkan nyanyian kecil. Melodi yang beterbangan ke seluruh sudut caffe membuat cokelat yang seharusnya memang manis menjadi sangat teramat manis. Kehadirannya membuat bapak tua pemilik caffe tersenyum. Dia menikmati nyanyian gadis itu. Begitu pula diriku.
            Hari itu, menjadi hari dimana aku resmi menyukai Lerina.
            Hari-hari sesudahnya, aku selalu berkunjung ke caffe cokelat setiap hari. Bukan hanya untuk sekedar cokelat, tetapi untuk menyaksikan pesona Lerina yang mengalahkan manis dan lembutnya cokelat. Namun, walau aku selalu memperhatikan dirinya, aku tidak pernah benar-benar mendekatinya. Yang selalu kulakukan adalah bersembunyi dan mengintip dari balik bayangan. Dan berharap akan selalu bisa menyaksikan dirinya yang bersinar terang. Aku terlalu pengecut untuk menampakkan keberanianku sebagai seorang laki-laki padanya.
            Kini, ujian akhir telah selesai, dan semua kisah SMA juga akan segera usai dan meninggalkan torehan cerita di setiap memoriku. Masa SMAku tidak buruk. Aku cukup aktif di organisasi, dan aku pun memiliki banyak teman. Namun ada satu keinginan yang belum kutuntaskan. Benar, berbicara dan menatap mata Lerina, adalah hal simpel namun terlalu berat bagi tekadku. Pengecut, culun, tidak jantan, semuanya, aku berteriak di dalam hati mengumpat diriku sendiri.
            Kali ini adalah kesempatan terakhirku. Jika aku menyampaikan cintaku padanya dan menginginkan dia agar selamanya di sisiku, kuharap dia mau menerimaku. Jika tidak, mungkin itu akan menjadi senjata pembunuh termutakhir bagiku. Aku tidak cukup kuat untuk menerima penolakan. Dan itulah alasan satu-satunya aku tidak pernah mendekatinya.
            Pada suatu sore ketika hujan baru saja reda melepas kelulusan murid kelas tiga, aku meminta Lerina menemuiku di taman sekolah. Tentu saja bukan aku yang meminta langsung padanya, melainkan kutitipkan kepada teman dekatnya.Sore itu langitnya kelabu tertutupi gundukan awan yang membentang lemas di cakrawala, dia datang padaku dengan pesonanya yang tidak pernah pudar. Malah, hujan yang sempat mampir beberapa saat lalu menambah kesejukan di wajah Lerina. Suasana begitu sepi, semua siswa telah pulang setengah jam yang lalu. Namun suasana syahdu itu bercampur dengan rasa yang mencekam. Kegugupan mencekikku dengan kejam hingga nafasku tersengal-sengal ketika menatap Lerina.
            “Kau, Ravanza, kan?” dia berucap padaku. Seharusnya dia tidak berkata begitu, karena kuyakin dia mengetahui aku yang termasuk siswa populer di sekolah. Namun, fakta bahwa kami belum pernah bertatap muka merupakantoleransi untuk menyatakan bahwa itu sah-sah saja.
            “Ya, kau Lerina, kan?” jawabku. Ketika mengucapkan namanya benar-benar membuat jantungku bermanuver sejenak. Penuh sensasi.
            Dia membalasnya dengan senyum. Dia yakin aku seharusnya tidak bertanya seperti itu juga. “Ngomong-ngomong, kau ingin membicarakan apa?”
            “Sesuatu. Sesuatu yang sangat sulit untuk kuucapkan,” tukasku dengan bibir bergetar. “Namun aku harus mengatakannya kali ini. Kumohon, berikan aku jawaban yang paling jujur dan tulus dari dalam hatimu!”
            Lerina terdiam. Lebih tepatnya, sepertinya dia terkejut. Saat ini, aku benar-benar tidak mengetahui apa yang dia pikirkan tentangku. Dan kuharap dia akan menjawab permohonanku dengan kalem.
            “Ya, katakan saja, aku pasti akan menjawabnya sebisaku,” sebutnya.
            “MA.. MAUKAH KAU MENJADI PACARKU?” teriakku sekeras-kerasnya. Entah setan jenis apa yang merasukku. Begitu bernyali diriku saat itu. Namun tetap kegugupanku tidak mampu tertutupi. Aku berteriak dengan mata tertutup dan pipi tersaput rona.
            Lerina bergeming. Tidak bergerak, ataupun berucap. Dan tebak, kejadian yang tidak pernah terpikirkan olehku terjadi. Gadis yang selalu kupuja sebagai wanita impianku itu terisak. Air mata yang bening mulai bercucuran di pipinya. Matanya tidak mampu menampung debit air yang menumpuk. “Maaf, aku tidak bisa.”
            Sebuah ‘tidak bisa’, sungguh adalah hal paling kuhindari hingga saat ini. Dan percaya atau tidak, kata itu terlontar dari mulut Lerina. Detik itu, perasaanku lenyap memudar seperti darah yang tersiram air laut.
            Kejadian itu telah berlangsung sekitar enam tahun yang lalu. Aku yang sekarang adalah seorang manusia yang telah berhasil meraih mimpiku, yaitu menjadi programmer terkemuka. Sebagai lulusan baru, kekayaanku sudah tergolong lebih dari cukup. Materi, yang seperti itu bukanlah persoalan bagiku. Nama? Gelar? Popularitas? Juga bukan. Dalam beberapa kali kesempatan aku telah mencatatkan namaku dalam beberapa penghargaan.Namun ada satu hal yang masih belum kuraih. Dan sampai saat ini masih tertahan kepastiannya. Mengambang seperti puing-puing perahu di tengah samudera. Bahkan aku curiga puing-puing itu tidak ada lagi di dunia ini.
            Akhirnya aku pulang ke indonesia, tepatnya kali ini aku berada di taman dekat sekolah. Hari ini minggu. Jadi, sekolah adalah tempat yang cukup sepi untuk disinggahi. Kenapa aku di sini? Tidak lebih karena janji pahit yang kubuat bersama Lerina. Walaupun aku yakin itu bukanlah janji, melainkan pengharapan yang tak pasti. Namun sampai saat ini aku masih mengingatnya. Masih terasa di pangkal lidahku betapa pahitnya janji yang kami buat. Benar-benar pahit secara harfiah.
            Bersama angan-angan tak pasti, ingatanku kembali terlempar pada masa SMA. Saat dimana hatiku hancur mendengar jawaban Lerina.
            “Kenapa? Apakah diriku terlalu buruk untukmu?” pertanyaan meluncur cepat dari mulutku, mengharapkan Lerina meralat jawabannya.
            “Tidak, kau tidak pernah buruk di mataku,” jawabnya masih terisak.
            “Lalu, kena---“
            “CUKUP!” selanya dengan volume suara lebih keras.
            Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bentakan dengan kata ‘cukup’ terasa semakin meremukkan hatiku. Ya, cukup. Cukup aku mendengar jawaban Lerina. Terlalu sakit bagiku. Aku tidak ingin cinta menjadi senjata pembunuhku.
            “Baik, aku tidak akan berkata apa-apa lagi, tapi aku ingin ka—“
            “Maukah..” Lerina menyelaku kembali. “Maukah kau menunggu hingga saatnya tiba?”
            Perkataanya kembali membawaku terguncang seperti tengah berada di atas roller coaster yang bergerak cepat.“Apa maksudmu?”
            “Kelak, jika kau memang mencintaiku, datanglah kemari lagi dan nyatakan perasaanmu padaku,” ucapnya. Kali ini nadanya sangat lembut, bahkan nyaris tak terdengar olehku.
            “A.. Aku akan melakukannya!” seruku, asaku bertunas kembali.
            “Namun aku tidak janji. Kau tahu, masa depan adalah cobaan terberat. Aku akan belajar ke luar negeri. Jadi kita akan benar-benar berpisah. Dan masih banyak orang baik dan perhatian yang akan datang di kehidupan kita. Aku ragu perasaan kita saat ini masih tersisa kelak,” jelasnya.
            Lagi, kalimat dia terasa hambar bagiku. Harapan yang sempat muncul kembali tersuruk ke dalam bumi dan lenyap di makan lava.
            Benda yang telah kubawa dari tadi, sebuah kotak yang terbungkus kertas kado, kuberikan pada Lerina. “Kumohon. Terimalah ini. Dan aku ingin kau memakannya saat ini juga.”
            Lerina mengambil benda itu lalu membukanya. Di dalamnya ada cokelat. Kemudian dipotongnya sedikit lalu dimakannya. “Apa ini? Rasanya sangat pahit.”
            “Kukira pertemuan kita akan berakhir dengan hal manis. Jadi kuberikan cokelat terpahit ini padamu agar pahitnya mampu membekaskan kenangan, termasuk kenangan manis padamu. Namun, yah, hanya harapan,” ujarku tanpa mampu menatap mata Lerina.
            “Ini, makanlah sebagian punyaku,” seru Lerina sembari menyerahkan potongan cokelat padaku. “Mari makan bersama lalu ingatlah janji yang kita buat ini. Kuharap rasa pahit ini mampu membekas selamanya sehingga kita mampu mewujudkannya.”
            “Kau benar.” Cokelat pahit itu kuambil lalu kumakan dengan ekspresi teraneh yang pernah kutampakkan.
            “Namun, mulai saat ini, berhentilah mendekatiku. Lupakan aku dari pikiranmu. Dan aku pun akan mengenyahkan dirimu dari ingatanku. Cukup cokelat pahit ini yang kita ingat. Lalu, enam tahun lagi, di waktu yang sama dan tempat yang sama, aku akan kemari menunggumu.”
            Ya, walaupun sebuah janji, namun aku masih ragu. Kuanggap itu adalah harapan yang belum pasti akan mengubah impian menjadi kenyataan.
            Sore semakin dingin. Entahlah, sepertinya angin begitu usil mengibaskan dinginnya padaku yang tengah menunggu Lerina di taman sekolah ini. Dan aku masih menunggu dalam diam di kursi kayu yang menggigil tertidur.
            “Maafkan aku. Sepertinya aku telat, ya?” suara seseorang terdengar dari arah belakang. Suara yang tidak asing namun sudah lama tak kudengar.
            “Le.. Lerina?”
            “Satu-satunya alasanku menolakmu dulu adalah karena aku ingin kita menatap lurus pada impian masing-masing, bukanlah perasaan cinta kita,” seketika datang, dia langsung menjelaskan misteri masa lalu yang masih menghantuiku. “Dan kini, aku telah menjadi musisi yang sebenarnya.”
            Mulutnya tidak cukup kuat untuk menahan kata-kata yang masih banyak tertampung. “Dan aku menangis karena penyesalan. Aku menyesal mengapa kita mengetahui perasaan masing-masing setelah lulus sekolah. Kenapa tidak dari dulu? Kau adalah idamanku semenjak aku kecil. Setiap aku bermain ke caffe cokelat, kau selalu ada. Namun aku tidak pernah berani menemui dan berbicara padamu.”
            Pernyataan Lerina sungguh menyentakku seperti lebah yang datang secara tiba-tiba dari pohon mangga di belakangku. Ternyata selama ini kami memiliki perasaan yang sama. Serta alasan yang sama untuk saling menyukai.
            “Kali ini, teruslah berada di sisiku. Jangan buat aku menjadi pengharap yang menunggu janji tak pasti lagi. Kuharap kau kemari bukan untuk memberitahuku tentang pernikahanmu bersama lelaki lain,” kataku penuh keinginan akan kejelasan yang benar-benar terang.
            “Ya, pernikahan. Bawalah aku selalu bersamamu. Jangan biarkan diriku terbang bersama sayap lain. Hanya dirimu yang kuharap,” ia berucap meyakinkanku.
            Sore itu adalah saat terindah dalam hidupku. Betapa tidak, cokelat pahit yang kami makan bersama di tempat yang sama, telah membimbing kami dalam memenuhi janji suci yang pernah kami ikat. Burung-burung di sekitar halaman sekolah seperti tengah mengintip dan menjadi saksi akan peristiwa paling bersejarah bagi hidupku. Bebungaan di taman seakan melompat kegirangan dihempas angin dan menyampaikan kegembiraan ini ke seluruh penjuru dunia.
            Kepahitan tidak selamanya melahirkan kepahitan pula. Ada hal manis yang jika kau salah dalam melangkahinya, lalu akan berakhir dalam kepahitan. Bahkan kepiluan. Namun kali ini aku bercerita tentang rasa pahit yang masih terekam kuat di pangkal lidahku, dan saat ini memberikanku hadiah berupa hal termanis yang dunia pernah saksikan atasku.

            Semakin pekat sore itu, semakin larut perasaan kami. Cukuplah kami, tuhan dan cokelat pahit yang mengetahui kelanjutan kehidupan kami. Pastinya, warna cerah hidup kami tidak akan padam hingga hayat terlepas dari kontraknya dengan dunia ini.

0 comments:

Post a Comment