Waktu Tidak Akan Pernah Memungkiri Janjinya


Jum’at, 14 november 2014..
Sesosok pria tua dengan jaket hitam tebal dan ransel biru, terlihat tengah berlari kecil di jalanan yang masih menyisakan genangan air. Dinginnya pagi tidak begitu ia hiraukan, ia bugar layaknya remaja belasan tahun. Sepatu kulitnya berkilau memantulkan remang-remang mentari pagi. Sang Fajar masih mengintip-intip, belum muncul dengan sempurna.
Ia memasuki sebuah bus. Penumpangnya tidak terlalu ramai, namun ia terlihat sangat tergesa-gesa, seperti mengejar bus yang muatannya telah penuh. Raut wajahnya tegang seperti sedang berhadapan dengan malaikat maut. Matanya menerawang jauh dari raganya, namun tetap siaga.
“Satu hari lagi, aku tidak boleh terlambat,” ia bergumam. Ada setumpuk kecemasan yang mengakar di pikirannya.
Di tengah kepanikan pria tua itu, sesosok wanita cantik berjalan ke arah tempat duduknya. Wanita yang umurnya kira-kira dua puluhan itu memiliki sepasang bola mata yang teduh. Rambutnya yang panjang tergerai seperti kain gorden yang terhembus angin. Kulitnya bagaikan hamparan pasir pantai yang memutih. Sosok yang terlalu sempurna untuk menjadi idola pria manapun di muka bumi ini.
“Kek, boleh saya duduk di sini?” Wanita itu melontarkan sebuah pertanyaan diiringi senyum yang merekah.
“Ya, silahkan, duduk saja,” Pria tua itu menjawab dengan datar tanpa menolehkan wajahnya ke wanita tersebut.
Bus yang telah selesai memanaskan mesin akhirnya berangkat meninggalkan bandara menuju pusat kota. Di sepanjang jalan tidak ada pembicaraan yang terjadi di tempat duduk pria tua tadi. Mukanya masih tegang. Ia masih terpaku di dalam kebisuan yang diciptakannya. Hiruk pikuk manusia di sekitarnya tidak terlalu mengganggunya. Ia seperti tengah duduk di ruangan kosong. Hening. Hampa.
Sementara si wanita cantik, ia terlihat merogoh-rogoh tas berukuran minimalisnya. Gantungan kunci berbentuk lonceng yang melekat di tasnya mengeluarkan bunyi yang tidak terlalu nyaring. Gantungan kunci itu bertuliskan ‘Daffa’. Mungkin itu adalah nama seseorang yang penting bagi dirinya, misalnya kekasih. Dari dalam tas, ia mengeluarkan handphone. Ia mencari kontak bernama Rendi.
“Halo, aku udah di Jakarta nih. Kamu kemana sih? Ditelpon juga ga diangkat. Aku naik bus lho gara-gara kamu ga jadi ngejemput,” ucap gadis itu begitu panggilannya di angkat.
“Oh, sorry, sorry, aku ketiduran, ga dengerin telpon masuk tadi. Nih baru sekarang kedengeran telpon masuknya, hehe,” sahut seseorang dari jauh sana.
“Ya udah, nanti aku telpon lagi kalau udah turun, tapi ntar jemput ya!” ancam wanita itu dengan nada bercanda.
“Hehe, oke deh, woles,” jawaban terakhir itu mengakhiri percakapan singkat mereka.
Sejurus kemudian, wanita itu menghempaskan tatapannya ke arah pria tua yang duduk di sebelahnya. Tatapannya sejuk. Membawa pesan damai.
“Kek, ada masalah, ya? Dari tadi saya perhatiin kakek kayaknya lagi mikirin sesuatu,” wanita itu membuka percakapan sesimpati mungkin.
Pria tua yang tengah sibuk memperhatikan waktu di handphonenya, yang modelnya asing dan kemungkinan belum pernah dipasarkan di dunia saking canggihnya, terlihat masih gelisah dan tidak nyaman. Dia masih bernaung di dalam keheningan. Sama sekali tidak memperhatikan wanita yang berbicara padanya.
“Maaf, kek, saya terlalu lancang dengan langsung mengajak anda mengobrol padahal kita belum kenal,” wanita itu terlihat kikuk, ia takut mengacaukan suasana.
“Eh?” Pria tua menghentikan keheningannya, ia mulai berbicara. “Kamu tadi ngajak saya ngobrol, ya? Maaf, tadi tidak kedengaran.”
“Nggak pa-pa kok, kek. Saya hanya khawatir aja melihat kakek yang sepertinya lagi banyak masalah. Barangkali saya bisa bantu kan?”
Pria tua itu tersenyum. Senyumnya sangat tulus, memancarkan rona yang mendistorsikan ketegangan menjadi kehangatan. Sangat berbeda dengan dirinya lima detik yang lalu.
Pria tua itu menyimpan handphonenya, ia mulai meladeni pembicaraan dengan serius, “Seorang pria sewaktu-waktu pasti akan menghadapi masalah besar, namun di saat itulah ia harus menyelesaikannya sendiri masalahnya. Itu sebuah ujian. Saya cukup kuat menyelesaikan masalah itu.”
Si wanita tersenyum simpul sembari memperlihatkan anggukan kecil, “Saya tidak ragu dengan kemampuan anda kok, kek.”
“Hahahaha,” si pria tua terbahak. “Kamu mengingatkan saya kepada seseorang yang pernah singgah di kehidupan saya di masa lalu.”
Wanita tadi terheran. Ia memperhatikan sekujur tubuhnya, mencari di bagian mana tubuhnya yang kelihatan mainstream dan berpotensi ada tiruannya. “Maksudnya, kek? Apanya saya yang mirip?”
“Senyummu, parasmu, gaya berbicaramu, sikap yang murah hati dan keramahan yang tak memandang orang,” sahut si pria tua.
“Memangnya mirip dengan siapa, kek?”
Si pria tua terdiam. Ada sedikit jeda sebelum dia merespon pertanyaan dari lawan bicaranya. “Cucuku. Ya, cucuku. Tapi sekarang dia sudah tiada.”
“Ma.. Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung masa lalu anda,”
“Jangan khawatir, saya bukan orang yang mudah dilemahkan kenangan masa lalu,” tukas pria tua tersebut dengan bibir yang melebar, meregangkan keriput di pipinya.
“Baru datang di Jakarta, kek? Memangnya dari mana?” Wanita tadi tidak bosan-bosannya melontarkan pertanyaan kepada sang pria tua. Ia tidak ingin pembicaraan kaku kembali.
“Inggris, memang dari sana,” tutur pak tua. Wanita berbola mata teduh terheran, curiga saat ini ia sedang berhadapan dengan seorang bule yang fasih berbicara bahasa indonesia. “Oh, bukan, bukan, saya orang Indonesia tulen, kok. Asli sunda. Setelah lulus kuliah dulu, saya sempat bekerja di Indonesia, namun tidak lama setelah itu saya mencoba peruntungan untuk bekerja di luar negeri. Orang sana baik-baik dan disiplin, itulah yang memotivasi saya dan berhasil menjadi manusia disana.”
“Wah, keren, yah. Pantesan gaya bicara kakek itu seperti orang-orang intelek gitu, puji si wanita. “Cerdas dan bijaksana.”
“Kamu bisa saja. Saya tidak lebih dari seorang kakek yang penuh dosa,” ujarnya sambil malu-malu karena tersulut pujian.
“Dosa?” Tanya wanita itu bingung. “Jelas setiap manusia pernah melakukan dosa, sekecil apapun itu.”
“Ya, namun dosa yang telah saya perbuat di masa lalu sangatlah fatal.”
“Itukah yang membuat kakek kembali ke Indonesia dengan wajah tegang seperti di awal kita bertemu tadi?”
Pria tua terdiam. Kalimat barusan terasa seperti mortir yang meluluh lantahkan pikirannya.
“Kamu, kamu punya naluri yang tajam. Kamu semakin mengingatkan saya kepada cucu saya,” sang pria tua terkejut, gelagatnya terbaca.
“Anggap saja saya ini cucumu, kek. If you're comfortable with it, no problem.
Pria tua hanya terdiam. Matanya memproyeksikan setitik duka, namun hanya selintas. Ia menatap si wanita kembali sambil berujar, “Terimakasih, saya sangat senang mendengarnya.”
Pagi itu, langit tidak begitu terbuka lebar. Sisa-sisa hujan semalam masih menutupi cakrawala. Namun pilar-pilar cahaya masih sanggup menembus sekawanan awan yang menutupinya. Gedung-gedung yang menjulang mulai terlihat, dinding-dindingnya mengerlapkan cahaya. Sang fajar telah mendarat dengan sempurna di bagian bumi timur ini.
Kesenyapan terhenti, hiruk pikuk penumpang mencuat beriringan dengan berhentinya bus di terminal. Kali ini gelagat pria tua itu tidak sesuram tadi. Perasaannya sudah agak tenang. Kali ini pun keriputnya bukan tertutupi wajah tegang lagi, melainkan aura kegembiraan. Mungkin itu efek keramahan wanita tadi.
“Mungkin kali ini kita berpisah, tapi kapan-kapan semoga kita bertemu kembali ya, kek,” ucap si wanita dengan penuh pengharapan.
“Ya, semoga, kakek bisa bertemu lagi dengan...” Kalimatnya terhenti diikuti gerakan tangan yang menunjuk ke arah si wanita.
“Ah, Konyol banget ya saya, udah ngobrol panjang lebar tapi belum memperkenalkan diri,” Tukas wanita itu. “Saya Sheilla, kek.”
“Ok, Sheilla, saya Gozha,” jawabnya sedikit terkekeh.
Mereka pun melakukan salaman untuk pertama kalinya. Kebersamaan singkat mereka sirna begitu melewati bibir pintu bus. Walau sebentar, mereka sudah seperti kakek dan cucu yang telah saling mengenal satu sama lain.
Sang Kakek yang kini kembali berjalan tergesa-gesa memulai untuk fokus ke niat awalnya tiba jauh-jauh ke negeri ini. Namun belum seratus meter dia berjalan, ada secercah kejanggalan yang tersangkut di pikirannya. “Sheilla, jangan-jangan dia.. Akh, bodohnya aku sampai-sampai bisa lupa dengan wajahnya.”
Dengan rasa penasaran yang merayah benaknya, ia menyerobot jalanan yang sesak dengan manusia. Ia bermaksud menyusul Sheilla, wanita yang baru ia lantik menjadi cucunya di bus. Usahanya belum terlambat. Hanya beberapa jengkal dari posisinya, ia melihat Sheilla yang sedang berbicara dengan seorang pria, di samping mobil Jazz silver.
“Sheilla, bukan, Vella! Teriak si kakek memanggil. Sheilla menoleh, buru-buru ia hampiri sang kakek yang tergopoh.
“Ya, kek? Ada yang bisa saya bantu?”
“Kamu Vella, Vella Argenta Sheilla, kan? Pinta ia mengharapkan pembenaran.
“I.. Iya, kek. Kok kakek bisa tau nama lengkap saya?”
“Ah, sudahlah, nanti kakek jelaskan, sekarang ayo naik ke mobil, akan kakek ceritakan siapa kakek sebenarnya,” si kakek memberikan perintah kepada si pemilik mobil tanpa sungkan-sungkan.
“Baik, ayo masuk, kek,” ujar Vella. Mereka pun segera memasuki mobil dan melesat meninggalkan terminal.
“Oke, kek, sebenarnya apa yang terjadi?” ujar Vella berusaha bersikap tenang.
“Kamu kenal Daffa, kan?”
“Kenal, kek,” Ia terkejut. “Kakek ada hubungan apa dengan Daffa?”
“Dia, cucu kakek.” sambut sang kakek cepat. “Sekarang dia di Bandung, kan? Kalian tahu alamatnya?”
“Tenang, kek, jangan panik. Daffa sekarang sedang ada tugas di sana, mungkin besok juga balik,” pria yang memegang kemudi mobil berusaha menetralkan suasana.
“Baik, kamu tahu kan dimana hotel tempat dia menginap?”
“Kurang tahu kek, kalau ditelpon dia juga ga pernah ngangkat. Sepertinya sibuk sekali, kek,” tukas pria itu. “Tapi teman kantor ada yang tahu. Nah, sekarang kita ke sana nanyain, sekalian saya juga mau berangkat kerja, kek.”
Kalimat terakhir pria itu, Rendi, berhasil mengurangi sedikit kepanikan si kakek. Mobil mereka melesat menembus kerumunan. Selama di mobil, si kakek tidak banyak berbicara, kecuali tentang ambisinya untuk menemui Daffa. Dikeluarkannya secarik kertas dari ransel kecilnya. Ia mulai menuliskan sesuatu di sana, bersama dengan keheningan yang melucuti harapannya satu persatu.
Vella melirik ke arah kakek, berharap ia bisa mengintip goresan tangan yang dibuat si kakek di kertasnya itu. Namun dengan tangkasnya si kakek segera menatap Vella sembari memamerkan telapak tangannya. “O.. Ow, tidak baik mengintip seseorang yang sedang menulis catatan pribadinya.”
Vella tersenyum kemudian memperlihatkan jemarinya yang membentuk angka dua. “Pisss, kek.”
Tidak terlalu lama perjalanan yang mereka tempuh, hanya sekitar 30 menit-an. Hingga sampailah di depan bangunan yang menjulang, kantornya Rendi.
“Saya tanyain dulu ya, kek. Kakek tunggu disini dulu,” senyum Rendi menyembul. Si kakek membalas dengan anggukan.
“Emangnya kakek mau menyusul Daffa ke Bandung? Gimana kalo nungguin di rumah saya aja, kek?” serobot Vella.
“Tidak. Kalau menunggu besok, pasti telat. Kakek tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya jika kakek terlambat menemuinya,” si kakek memperlihatkan mimik mengeras. “Kakek harus hentikan dia!”
“Da.. Daffa melakukan apa, kek?” Bibir Vella bergetar.
“Saya tidak bisa memberitahukan ini sekarang, yang jelas saya harus menemuinya.”
Seperti ada hal yang mengganggu, si kakek tiba-tiba keluar dari mobil. Ia berjalan mendekati Rendi dan seorang pria, mungkin itu teman sekantornya yang mengetahui alamat hotel Daffa. Dengan wajah gusar, ia mencengkram kerah baju pria itu dengan tatapan ingin membunuh yang sangat kental.
“Ramon! Kamu sudah banyak menebarkan berita palsu. Sampai kapan kamu mau memanas-manasi Daffa, hah?” Amarah si kakek meletup. Urat mukanya terpampang jelas seperti hendak menembus kulit dan mencengkeram leher Ramon.
“Hei, apa-apaan ini?” Ramon tercengang. Ia tidak menyangka paginya yang diharapkannya indah akan dinodai oleh kemarahan seorang kakek, tepat dibagian kerah baju.
“Argh, percuma kalau ngomong sekarang. Sekarang, kasih tau dimana Daffa?”
“Ini.. Ini alamatnya sudah saya tulis. Oke? Sekarang, lepaskan tangan anda dari leher saya,” Ramon tergagap.
Si kakek bergegas meninggalkan Rendi dan Ramon yang masih diselimuti kebingungan. Ia memasuki mobil dengan amarah yang belum padam.
“Vella, sekarang tolong antarkan kakek ke terminal. Kakek mau menyusul Daffa ke Bandung,” pinta si kakek.
“Saya ikut ya kek?”
“JANGAN!” teriakan si kakek bergemuruh. “Kamu tidak boleh ketemu dia.”
“Kenapa?” Vella masih terheran-heran. Ada banyak tanda tanya yang bergelung di benaknya.
“Nanti, nanti kamu akan tahu, bersabarlah,” seru si kakek meyakinkan.
Tanpa menunggu kepanikan si kakek memuncak kembali, mereka pun melesat menuju terminal, tanpa Rendi. Begitu tiba disana, si kakek beranjak dari duduknya sembari mengusap kepala Vella.
“Jaga diri, ya,” ujarnya.
“Walaupun saya menuntut kakek untuk mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya, kakek pasti tetap bungkam kan?”
“Ya, pasti. Ada masa ketika seseorang belum boleh mengetahui suatu fakta. Demi logika dan akal sehat,” angguknya mantap.
Namun sebelum menuruni mobil Jazz silver itu, si kakek mengeluarkan sepucuk surat dari jaketnya. “Ini sebuah surat kakek titipkan padamu. Mulai hari ini hingga besok, kamu dan Rendi tidak boleh bertemu dengan Daffa. Jika kakek gagal bertemu dengannya nanti, dan kemungkinan terburuknya tiba-tiba dia muncul di hadapan kalian, maka berikan surat ini padanya. ”
“Seberbahaya itukah?” Vella menatap sang kakek dengan penuh kekhawatiran.
“Jika kakek sebutkan bagaimana kejadian yang akan terjadi, kamu pasti akan ketakutan. Pasti,” si kakek menyandarkan kedua tangannya di pundak Vella.
Vella mengangguk kecil. Walaupun ia masih penasaran, ia mencoba untuk percaya dengan sang kakek.
“O iya, dan ingat, jangan baca surat itu kecuali kakek sudah mengizinkan, atau jika surat itu telah kamu berikan kepada Daffa, walaupun kakek harap itu tidak terjadi.” tegas si kakek untuk terakhir kalinya. Keduanya berbalas tatapan dan melambaikan tangan. Salam perpisahan terikat di antara mereka.
Siang mulai memuncak. Matahari tepat berada di atas ubun-ubun bumi pertiwi. Panasnya siang mewabah ke seluruh penjuru. Tidak macet memang, namun bus yang ditumpangi Kakek Ghoza tidaklah berjalan sesuai ekspektasinya. Ia menginginkan bus itu terbang secepat kilat menembus sayap-sayap langit menuju Bandung. Namun keinginannya itu hanya akan terwujud jika bus yang ditumpanginya itu ada di alam mimpi. Ia semakin cemas. Keringat dingin kembali mengucur di dahinya.
Sekitar Tiga jam perjalanan Jakarta-Bandung dilewati, papan bertuliskan “Bandung bermartabat” bertengger mantap menyambut kedatangan sang kakek. Ia turun lebih awal mendahului siapapun penumpang di bus itu sambil memeriksa kembali alamat yang diberikan Ramon, orang yang membuat amarahnya bangkit.
“Kang, antarkan saya ke alamat ini ya, kalau perlu ngebut sekencang-kencangnya,” si kakek menyerahkan kertas kecil berisikan alamat hotelnya Daffa ke sopir taksi yang dihampirinya.
Sopir taksi cengengesan. “Jarang sekali saya ketemu orang tua segokil anda. Naiklah, kek, kita tembus keramaian Kota Bandung ini,” si supir taksi menjawab dengan mantap.
Benar saja, supir taksi yang menjawab tantangan si kakek itu dan melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka merangsek di balik keramaian dan menyalip satu persatu mobil di jalanan. Tak butuh menunggu lebih dari lima belas menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Si kakek menghela nafas, ia lega. Perasaannya seperti seorang gadis yang baru saja melewati masa menstruasi. Bebas dari ancaman.
“Mantap sekali kebutanmu. Ini bonus, saya bayar dua kali lipat,” si kakek kegirangan.
“Pastinya, kek. Beberapa tahun yang lalu saya masih aktif di balapan liar. Hal beginian mah gampang atuh,” si sopir taksi curhat tentang ketangkasannya.
“Ok, sampai nanti,” si kakek kemudian terbirit-birit menuju hotel.
Dengan langkah seribunya, si kakek berlari kecil menuju resepsionis. Kali ini raut wajahnya tidak terlalu tegang dan cemas. Ia sudah agak tenang.
“Mbak, tolong carikan kamarnya Daffa nomor berapa ya?”
“Hm, mohon tunggu sebentar ya, pak.”
Si kakek mengeksplorasikan pandangannya keseluruh sudut ruangan, berharap secara kebetulan bertemu dengan Daffa di sana.
“Maaf, pak, bapak Daffa sudah check out sekitar setengah jam yang lalu,” resepsionis wanita itu mengabari berita buruk kepada si kakek dengan senyum yang merona. Kalimatnya itu tepat menusuk bagian hati si kakek. Perjalanan tiga jam yang ia tempuh berbuah kesia-siaan.
“Kenapa bisa begini? Ini pasti gara-gara Ramon,” gumam si kakek.
Perasaan lega si kakek kini bertransformasi kembali menjadi kekhawatiran yang melebihi sebelumnya. Ia sebenarnya tidak menyangka Daffa akan kembali, karena kemungkinan itu sangat kecil, menurutnya. Tapi kenyataan telah berbicara.
Ia langsung tancap gas keluar hotel menuju tepian jalan. Sayang, di sana tidak ada taksi yang sedang nongkrong. Saat ini, menunggu taksi baginya akan menjadi sesuatu yang sangat lama.
“Kek, kok masih disini? Ga jadi ke hotel?” seru seseorang entah dari mana.
“Oh, kamu, kok masih disini juga?” si kakek balik bertanya. Ternyata orang yang berbicara padanya adalah supir taksi tadi.
“Bukan ‘masih’ disini kek, tapi saya udah disini lagi. Barusan ngantarin orang di gedung sebelah.”
“Kebetulan sekali, ayo antar saya ke terminal,” tukas si kakek. “Seperti tadi, kita ngebut lagi ya.”
“Oke, boss.”
Mereka beranjak dari hotel dan menyisakan asap hitam yang mengepul. Perjalanan melawan waktu dan Daffa pun di mulai kembali.
**
Azan maghrib berkumandang, kota Jakarta kala itu dipenuhi manusia yang sedang dalam perjalanan menuju peristirahatan masing-masing. Gas karbon monoksida melalang buana mengiringi kendaraan yang terjebak kemacetan.
Di tengah keramaian itu, sebuah bus berhenti di tepian jalan. Seseorang keluar dari dalam. Ia mengenakan hodi biru yang menutupi kemeja putihnya. Rambutnya tidak tertata rapi, namun tidak terlalu awut-awutan pula. Matanya merah seperti darah, dan tajam seperti bilah pisau. Tangannya sedang memegang handphone, tengah melakukan panggilan.
“Ya, aku udah balik nih. Satu jam lagi kamu ke rumahku ya. Ajak Rendi juga,” tuturnya dengan datar.
Pria itu segera menaiki taksi menuju rumah. Perjalanan jauh pastinya membuat setiap sudut di tubuhnya terasa letih. Dengan suara sayup dia berkata, “Jadi seperti ini ya akhirnya, menyedihkan.”
Sesampai di rumah, tidak banyak yang ia lakukan. Ia menyandarkan tubuhnya di atas sofa berwarna hitam yang bertabrakan dengan corak garis-garis putih, melahirkan kesan liar. Di hadapannya terhampar jendela tanpa jeruji yang lumayan lebar dan menganga terbuka. Lalu di depannya, ada sebuah meja, di atasnya terdapat benda panjang yang dibungkus rapat dengan kain putih.
Ting.. Tung..
Suara bel bergema ke seisi rumah. Pria itu bergerak menuju pintu. Dengan raut yang beradaptasi dengan malam, kelam, ia membuka pintu. Dari sana ia perhatikan orang yang sedang berada di bibir pintu bagian luar. Dua orang yang tidak asing baginya, Vella dan Rendi, berkunjung ke rumahnya. Sesuai dengan instruksinya.
“Masuklah, ada yang ingin aku selesaikan dengan kalian,” ungkapnya.
“Ada apa sih, Daf?” tanya Vella kepada pria pemilik rumah itu, Daffa.
“Duduk dulu.”
Kedua tamunya itu masuk ke dalam rumah. Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela. Sementara Daffa kembali ke posisinya semula, berhadapan langsung dengan Vella, Rendi, dan jendela yang terkuak lebar.
“Sebenarnya aku bakal pulang besok, tapi karena ada sesuatu yang terus merongrong pikiranku, akhirnya aku putuskan pulang hari ini,” kata Daffa.
“Ada masalah apa, Daf? Tanya Rendi.
“Masalah aku dan kalian. Ramon menghubungiku tadi. Karena kabar dari dia lah aku putuskan untuk kembali hari ini,” kali ini nada bicaranya meninggi.
“Kami? Ada yang salah dari kami?” Rendi kebingungan. Ia tidak tahu apa yang salah dari dirinya dan Vella.
“Satu bulan aku bertugas di luar kota, apa aja yang udah kalian perbuat, hah?”
“Hei, apa maksudmu?”
Sejenak terlintas keheningan di obrolan mereka. Bukan karena mereka saling memahami satu sama lain, namun karena Daffa mulai kehilangan akal sehatnya. Benda panjang bersarungkan kain putih tadi kini telah berada di tangan Daffa, namun sudah dalam kondisi telanjang. Kilat lampu ruang tamu yang memantul dari benda itu terlihat menyeramkan. Tajamnya benda itu terasa ketika desis-desis angin bersinggungan dibagian ujungnya. Sebuah parang tajam, yang sepertinya baru di asah atau baru dibeli. Dengan amarah yang memuncak Daffa sepertinya siap mengayunkan parang itu ke sekitarnya.
“Ren, tega kamu ya khianati aku, setelah persahabatan yang kita lalui selama ini,” teriak Daffa geram sembari mencengkram kuat parangnya.
“Daf, dinginkan kepalamu dulu, aku bahkan gak tau duduk perkaranya,” ujar Rendi dengan suara tercekat.
“Iya Daf, ini ada apa? Aku gak ngerti hari ini banyak banget kejadian aneh. Mulai dari ketemu kakek kamu yang ngomongin hal-hal yang membuatku penasaran, terus sekarang kamu yang marah-marah ga jelas,” sambung Vella panik
“Ga usah mengalihkan pembicaraan, kakekku udah mati. Mau ngeyel apa lagi kamu pengkhianat?” Amarah di hatinya sudah tidak dapat di kontrol lagi. Iblis berhasil melunturkan akal sehatnya.
Emosi yang tidak dapat dikuasai lagi sukses membawa Daffa mengambil keputusan untuk membasmi sahabat dan kekasihnya itu. Parang yang dari tadi telah lama menunggu gilirannya beraksi, kini telah mencondong ke arah sasarannya. Dan benar saja, parang haus darah itu sukses mencabik tubuh seseorang di hadapannya.
“Aku belum terlambat, sukurlah,” suara seorang pria tua berseru melafalkan kalimat sukur walaupun dirinya tengah dihantam benda tajam. Kakek Ghoza yang sebelumnya menerobos dari arah jendela dan menjadikan tubuhnya sebagai santapan benda tajam, kini ia harus menerima sebuah sayatan yang menganga tercipta dibagian dadanya.
“Hei, siapa kamu?” Pekik Daffa. Ia tidak menyangka ayunannya akan menemui sasaran yang salah.
“Brengsek!” Kali ini giliran Rendi yang amarahnya memuncak. Dipukulnya Daffa hingga tersungkur lalu dihajarnya berulang kali agar tidak sanggup bergerak.
“Udah, udah, Ren,” pinta Vella sesengukan.
“Hah, mati aja sana!” Rendi berseru, kemudian ia tinggalkan Daffa yang terkapar lemas.
Kini, di hadapan Vella dan Rendi, seorang pria tua yang mengorbankan harta termahalnya, yaitu nyawanya, tengah memacu nafasnya dengan berat. Dua orang yang mengenalnya itu menatapnya dengan kepiluan.
“Ren, ambulan, cepat!” perintah Vella dengan suara yang mulai serak.
“Nggak! Cukup, cukup. Ini batas perjalanan saya,” dengan nafas tersenga sang kakek menolak niat baik itu.
“Tapi kek..”
“Tolong bacakan surat yang saya berikan. Rendi dan Daffa juga harus dengar,” potongnya. “semoga kalian tidak membenci Daffa.”
Dengan isak tangis yang tak terbendung, Vella mulai membacakan isi surat itu.
**
Semenjak di bangku SMA, aku telah mengenal dua sosok sahabat yang mengerti diriku seutuhnya. Mereka adalah laki-laki dan perempuan terhebat yang pernah kukenal. Disaat aku senang mereka mengiringi, dan disaat aku susah mereka mendampingi. Kami terikat di dalam ikatan persahabatan yang kokoh.
Persahabatan kami masih tetap berlangsung di jenjang perguruan tinggi. Alasannya cukup simpel, kami berada di universitas yang sama walaupun berbeda jurusan dan fakultas. Walaupun begitu, kami masih kerap bertemu dan bercengkrama layaknya ketika masih berpakaian putih abu-abu dulu.
Kedekatan yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama ini membuat benih-benih cinta timbul di antara aku dan sahabat perempuanku. Cukup unik memang, aku menyatakan perasaanku padanya melalui sebuah cerpen yang dilombakan. Walaupun jurusanku sama sekali tidak berkenaan dengan sastra, minat menulisku sangat tinggi, dan itu mengantarkanku menjadi juara. Cerpenku diposting di sebuah situs yang tidak asing lagi bagi penikmat karya sastra. Tentu saja dia membacanya, karena kami memiliki hobi yang sama, yaitu membaca atau pun menulis cerita. Setelah mengulik isi cerpenku, dia datang dengan senyumnya padaku dan mengatakan satu kata saja, “ya!”
Hubungan kami berjalan dengan lancar. Selain cantik, sikap polos, ramah dan jenakanya berpadu dan menjadikannya sebagai sosok yang amat sempurna di mataku. Sahabat laki-lakiku juga tidak mempersoalkan hubungan kami, malah dia sangat mendukung. Masih seperti dahulu, mereka memegang erat di saat aku terperosok, dan menarikku di saat aku terlalu jauh melangkah.
Akhirnya masa wisuda tiba, kami bertiga berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Ini terjadi bukan karena kami orang jenius, atau karena kami kutu buku. Bukan. Semata-mata karena kami bisa memanajemen waktu dengan baik. Buktinya? Kami bukan hanya berprestasi di akademik, melainkan mampu pula berbicara banyak di kegiatan keorganisasian dan perforuman.
Setelah itu, kami memulai karir kami dibidang masing-masing. Kedua sahabatku bekerja di perusahaan yang sama. Aku sangat bahagia, setidaknya ada yang menggantikanku untuk menjaga dan memantau kekasihku. Lalu bagaimana denganku? Aku bekerja di perusahaan yang berbeda, dan pangkatku juga di atas mereka. Mungkin ini karena nilai kelulusanku berhasil menjadi yang terbaik.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, di sinilah titik dimana aku akan melakukan sebuah kesalahan terfatal yang pernah aku lakukan disepanjang hidupku. Seorang teman SMA yang bekerja di perusahaan yang sama dengan kedua sahabatku, mulai melaporkan kejanggalan-kejanggalan yang dia temukan. Sering dia menghubungiku untuk memberitahukan perkembangan hubungan kedua sahabatku. Katanya, hubungan mereka semakin intim, layaknya dua orang yang mulai mencintai satu sama lain. Laporan-laporan seperti ini masih terus berlanjut ketika aku ditugaskan keluar kota. Kabar yang memanaskan telingaku selalu bergema di saat aku mengangkat telpon dari teman SMA itu. Kesabaranku mulai habis. Hatiku remuk, luluh lantah, tercabik-cabik, semua rasa sakit berpadu menjadi sebuah kebencian. “Mereka bukan sahabatku, mereka iblis,” itulah kalimat yang sering diucapkan oleh hatiku. Selama tugas di luar kota, mereka kerap menghubungiku, namun aku selalu mengabaikan panggilan mereka.
Tanggal 15 november 2014, masa penugasan di luar kota telah habis. Aku kembali ke Jakarta membawa seribu rasa yang berpolimerisasi menjadi hasrat membunuh yang bergejolak. Aku tidak bisa menahan kuasa untuk membiarkan kedekatan dua mantan sahabatku. Sebelum aku kembali, aku suruh mereka untuk menemuiku di malam hari ketika aku telah di rumah.
Malam semakin pekat, semakin kuat rasa benciku terhadap mereka. Ketika mereka tiba di rumahku, aku izinkan mereka duduk. Perbincangan kecil sempat terjadi, hingga akhirnya aku muntahkan semua uneg-uneg yang aku tahan selama ini. Sahabat laki-lakiku sempat mengelak. Namun belum sempat dia mengklarifikasi tuduhan dariku, suara hatiku yang telah dinodai iblis berhasil menggerakkan seluruh tubuhku. Parang yang aku beli khusus untuk malam itu, kuberikan kesempatan beraksi. Dengan penuh nafsu membunuh bersandingkan amarah yang kental, ku catukkan ujung parangku ke dada sahabat laki-lakiku. Dia mengerang kesakitan, namun aku tidak menghiraukannya yang telah menyayat hatiku. Selesai dengan dirinya, kukejar kekasihku yang mempermainkan perasaanku. Tubuh putihnya tak sungkan aku nodai dengan merahnya darah segar. Luka sayatan bergelimpangan di seluruh tubuhnya. Malam itu aku puas karena telah berhasil mengeluarkan kekesalan hatiku.
Esoknya, seperti normalnya, aku ditahan atas perbuatan keji yang kulakukan. Ketika di bui, orang tuaku dan orang tua kekasihku menjengukku. Mereka membeberkan sebuah kenyataan yang mengerikan. Fakta yang akan membuatku menyesal seumur hidup, bahkan mungkin hingga aku mati nanti. Ternyata, semua kedekatan sahabat-sahabatku itu semata-mata hanya karena ingin berbagi pendapat tentang hubungan mereka masing-masing. Sahabat laki-lakiku ingin meminta pendapat tentang resepsi pernikahannya dengan calon istrinya. Sayang dia gagal memberitahukanku tentang calon istrinya yang selama ini disembunyikannya karena ketika dia menelponku, aku selalu mengabaikannya. Dan untuk kekasihku, dia meminta pendapat dari sahabatku tentang kejutan yang ingin dia berikan padaku ketika aku kembali dari penugasan nantinya. Jika aku pikir kembali, aku terlalu bodoh telah termakan berita bodoh dari teman SMAku itu. Karena seharusnya wajar saja kedua sahabatku itu dekat. Dari dulu juga sudah begitu. Aku terlalu termakan api cemburu. kedua sahabatku itu bukan bahan bakar penyulut api, melainkan pelita yang menuntunku. Kini aku harus menikmati dinginnya penjara, dan kehilangan kehangatan perhatian sahabat-sahabatku. Semua karena kebodohanku.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa aku dibebaskan. Ini sangat aneh untuk ukuran kasus se-masif ini. Belakangan aku tahu ternyata masa tahananku dikurangi secara drastis. Itu karena keluarga sahabat-sahabatku mengikhlaskan kejadian nista itu dan memohonku untuk dikeluarkan.
Walaupun aku telah bebas, kini aku tidak punya muka lagi untuk bertemu keluargaku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengadu nasib di luar negri, tepatnya di Inggris. tiga puluh tahun aku telah menetap disana, aku pun menjadi orang sukses. Aku berhasil menjadi ilmuwan yang meciptakan teknologi-teknologi terdepan dan mencatatkan namaku sebagai orang indonesia yang berprestasi. Namun kejayaan itu tidak mampu menghapus luka dimasa lalu, dan aku pun hidup tanpa menikah hingga kini.
Suatu ketika muncul ide gila dari benakku. Khusus untuk proyek kali ini, aku menjalankannya sendiri dan bergerak secara rahasia. Proyek ini berjalan dengan sukses walaupun mengalami beberapa rintangan. Dan ditahun 2054, aku berhasil menciptakan mahakarya yang selalu diidamkan umat manusia. Mesin Waktu.
Aku berharap bisa memanfaatkan teori Time Paradox, dimana aku dapat kembali dan merubah takdir di masa lalu sehingga berdampak ke masa dimana aku berasal. Aku ingin mencegah tragedi pembunuhan 40 tahun yang lalu, agar kekasih dan sahabatku tetap hidup di masaku.
Awalnya aku lakukan percobaan untuk berpindah ke masa satu minggu yang lalu. Aku mencoba untuk bereksperimen tentang dampak perbuatan yang kulakukan di masa lalu terhadap masa depan. Dan hasilnya, jika aku kembali ke masa lalu kemudian melakukan hal kecil yang dapat mempengaruhi suatu kejadian, maka bisa saja membuat suatu kejadian lain menyimpang dari yang seharusnya terjadi. Misalnya, ada seorang pengangguran, tetapi aku yang mengetahui suatu info lowongan pekerjaan tidak memberitahukan orang itu tentang info itu. Maka jadilah dia pengangguran. Tetapi kemudian aku kembali ke masa lalu dan memberikan info kepada dia tentang lowongan pekerjaan itu, maka dia versi masa lalu akan mendapat pekerjaan. Kedua, hal-hal yang kulakukan di masa lalu hanya akan berpengaruh ke kehidupan masa lalu, namun tidak akan berpengaruh ke masa depan. Contohnya: orang yang sama dengan contoh pertama, di masa depan depan dia adalah pengangguran. Namun karena aku kembali ke masa lalu dan memberitahunya lowongan pekerjaan, dia versi masa lalu akan mendapat pekerjaan. Namun ketika aku kembali ke masa depan, dia masih dalam kondisi pengangguran. Kemudian yang terakhir, aku hanya bisa bertahan di masa lalu hanya selama 30 jam. Tidak terlalu lama memang.
Mengetahui hal ini, ada sedikit kekecewaan melintasi diriku. Time Paradox yang pernah diperdebatkan ternyata memang isapan jempol belaka. Dan kenyataannya teori yang berlaku adalah teori Parallel Universe, dimana aku dan diriku di masa lalu hidup di jalur kehidupan yang berbeda. Apapun yang kulakukan di masa lalu, hanya akan berdampak ke masa itu, dan tidak akan mengintervensi masa depanku. Kehidupan aku dan diriku di masa lalu identik, namun kami tak sama.
Walaupun kenyataan pahit itu menerpaku, aku tidak mengurungkan niatku untuk mengoperasikan mesin waktu. Aku ingin segera melihat senyuman dari seorang wanita yang sangat aku cintai.
Akhirnya aku pergi ke masa lalu. Setelah pejalanan waktu kutempuh, kulanjutkan perjalanan dari Inggris ke Indonesia. Semua yang aku lakukan hanyalah untuk menatap mata teduhnya Vella serta menyelamatkan diriku dari perasaan sesal yang menggerogotiku seumur hidup. Walaupun bukan untuk diriku yang sekarang, setidaknya itu yang bisa kuberikan kepada diriku di masa lalu.
Dan hari dimana aku bisa menyaksikan kepolosan, keramahan, dan kebaikan sosok yang kucintai itu pun tiba. Hari ini aku mendapatkannya kembali, walau hanya sesaat. Diriku yang selalu tenggelam di lautan bernama penyesalan, akulah Daffa. Wanita yang membuatku menjadi pria paling beruntung di dunia ini adalah Vella. Sahabat terbaikku yang selalu mengulurkan tangannya dengan ikhlas adalah Rendi. Dan teman SMA yang mengacaukan kehidupanku adalah Ramon.
Diriku di masa lalu, jagalah wanita sebaik Vella. Dia terlalu bersih untuk kau nodai. Vella, Bimbinglah aku selamanya agar bisa membedakan antara kebenaran dan kenistaan. Rendi, lindungilah sahabat-sahabatmu selalu dengan keikhalasanmu, aku bangga padamu.
Kau ada sebagai Pelita
Kau pergi sebagai Gulita
Cengkram aku selalu dalam kasihmu
Kan kujaga selalu senyummu
**
Tangis haru pecah membanjiri rumah yang terbenam duka itu. Sosok Daffa tua yang telah belajar dari kesalahan itu kini telah pergi dengan tenang, melepas rindu dan dosanya di masa lalu. Daffa, Vella, dan Rendi memeluk sosok masa depan itu erat-erat untuk terakhir kalinya. Mereka sangat berhutang kepadanya.
Sosok tak bernyawa itu tiba-tiba bersinar. Tubuhnya perlahan berubah menjadi kepingan-kepingan cahaya yang mulai hilang satu persatu. Jatah hidupnya di masa ini telah memasuki batasnya. Jasadnya kembali ke masa depan.
Dengan langkah tegap, ketiga insan yang barusan larut dalam duka, kini menatap masa depan dengan tegas. Keduanya berangkulan. Seisi rumah itu kehilangan aura negatifnya, tersubsitusikan oleh aura positif yang bersinar terang.
“Aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi, Vella. Dan aku akan selalu butuh dukunganmu wahai sahabatku, Rendi.”
Waktu tidak akan pernah memungkiri janjinya. Ia datang dan pergi membawa suka duka. Banyak senyum yang terbagi karenanya, namun tak sedikit keceriaan yang ia rampas. Letihmu tak akan pernah bisa menggapai lalunya. Hadapi dan terima takdir waktu. Di baliknya tersirat makna yang terselubung. Namun waktu sekali lagi tidak akan memungkirinya, ia akan berikan jawaban.
Waktu.
Waktu.
Waktu

0 comments:

Post a Comment