Rafflesia Biadab

Catatan: Cerpen ngawur yang ditulis secara asal-asalan.

Alkisah, di zaman modern, hiduplah sepasang pemuda berstatus sahabat karib. Si perempuan bernama Kimberly, dan sang pria bernama Aliando.
Mereka telah bersahabat semenjak 2 tahun lalu, sejak mereka dipertemukan di tempat kerja yang sama. Lambat laun, Aliando mulai jatuh cinta kepada Kimberly. Namun tidak ada yang tahu apakah kimberly memiliki perasaan yang sama pula. Aliando tidak tahu, saya pun tidak tahu. Maklum, saya orang ketiga pengamat.
Kimberly dan Aliando sering jalan bareng. Mereka sangat akrab. Saking dekatnya, teman-teman kantor kerap menjodoh-jodohkan mereka. Aliando tersipu malu. Kimberly mengulum senyum.
Suatu sore, kedua sahabat ini baru menyelesaikan belanja kecil-kecilan. Salah satu belanjaan Kimberly adalah bunga raflesia yang sudah difermentasi. Awalnya Aliando kegeeran, dia merasa Kimberly akan memberikan bunga itu padanya. Namun di tengah jalan, Kimberly meminta Aliando untuk menghentikan mobil.
"Al, berhenti di sini," ucap Kimberly. Nadanya serius. Tidak seperti lima menit yang lalu saat mereka masih tergelak bersama.
"Kita kan belum sampai di rumah," sahut Aliando.
"Ada seseorang yang ingin aku temui."
"Siapa? Cowo?" Selidik Aliando.
"Seseorang yang berharga. Ya, dia cowo," balas Kimberly, wajahnya berusaha tersenyum. Namun ada sedikit kegalauan yang menggurat di wajahnya.
KIimberly membuka pintu mobil. "Al, tolong kamu bawa barang-barangku ke rumah aku ya."
Aliando hanya menjawab dengan anggukan diiringi senyum. Senyum yang dipaksakan.
"Bunga itu, kamu bawa untuk dia?" Tanya Aliando kembali dari jendela mobil, sebelum benar-benar lenyap dari hadapan Komberly.
"Ya. Bunga ini mengingatkanku kepada dia. Makanya aku sengaja membeli ini untuk dia."
Aliando kini benar-benar paham dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Ada pelajaran yang dia petik hari itu. Jangan berlama-lama mengungkapkan perasaan karena akan ada lelaki lain yang akan menikung orang yang kau suka.
Dan ada satu kesimpulan pula yang dia dapatkan: dia kalah dalam kompetisi kali ini. Kimberly tidak bisa dia miliki untuk selamanya.
Kimberly kini menyusuri sebuah tempat gersang yang di kelilingi pagar kayu. Tempat itu dipenuhi batu-batu dan keramik yang disusun secara berpola. Kimberly berjongkok ketika dia melihat kuburan seseorang. Pada nisan itu tertulis nama: yaranaika-senpai.
"Bang Yar, sudah tiga tahun kamu pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Ikatan pertunangan kita tidak pernah berbuah menjadi ikatan pernikahan yang suci. Kamu pergi terlalu cepat."
"Tapi," sambung Kimberly lagi. "Saat ini aku sudah menemui laki-laki lain untuk menggantikanmu. Dia orangnya baik serta pengertian. Namanya Aliando. Orangnya ganteng, baik, serta tidak kutuan. Aku ingin bahagia bersamanya, walaupun hingga saat ini aku belum bisa melupakanmu seutuhnya."
Kimberly meletakkan bunga rafflesia di depan nisan mantan kekasihnya itu.
"Semoga kau tenang di alam sana, Bang. May the force be with you."
Senja mulai menurunkan tirainya. Langit tercemar oleh jingga yang pekat. Burung-burung menanti pintu malam. Pohon-pohon mulai berdesir dihempas angin malam. Saatnya pulang.
Ketika Kimberly pulang, dia memeriksa belanjaannya. Namun dia tidak menemukannya. Dia coba menelpon Aliando. Namun pria itu tidak menjawab. Khawatir terjadi apa-apa, dia segera melajukan motor ninjanya menuju rumah Aliando. Rumah laki-laki yang diam-diam dia cintai.
Pintu tertutup, namun ketika gagangnya dibuka, ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Kimberly masuk sambil menyebutkan kata Assalamualaikum.
Tak ada respon. Dia coba menuju kamar Aliando. Kamarnya pun tertutup rapat. Kimberly membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Aliando yang terbujur kaku sembari menggenggam sebotol racun tapir. Mulutnya berbusa. Matanya tak memunculkan bagian hitam lagi.
"Al, kamu kenapa?" Kimberly panik. Dicobanya untuk menyentuh nadi di tangan Aliando. Namun tak ada denyut yang dia rasakan. Dicobanya pula untuk meraba dada Aliando. Tak ada detakan yang bersisa. Normalnya,di drama korea, pada situasi seperti ini hal yang dilakukan adalah melakukan bantuan pernapasan. Namun Kimberly mengurungkan niatnya, karena mulut Aliando dipenuhi busa. Dia jijik.
Tidak jauh dari tempat Aliando terkapar, Kimberly menemukan secarik kertas. Kira-kira isinya begini: Kimberly sayang. Perasaanku telah hanyut pada hatimu. Hanya kau yang bisa menjadi motor semangatku. Kaulah yang selalu menyerbuki kesepianku. Aku bahagia pernah mencintaimu. Walaupun pada akhirnya cinta ini tak berbalas dan kau memilih laki-laki lain. Saat tadi sore kau mengatakan ingin bertemu seorang laki-laki lain, saat itu pula kekalahanku ditasbihkan. Aku seorang pecundang. Dan tanpa dirimu aku tidak berani tuk mengarungi kehidupan ini.
Kimberly mematut kata demi kata. Wajahnya meringis.
"Al, apa yang kamu lakukan? Kamu salah sangka," ucap Kimberly terisak.
Tanpa pikir panjang, kimberly memapah Aliando ke motor ninjanya. Kemudian dia lajukan motor itu menuju rumah sakit.
Esoknya, pemakaman Aliando dilangsungkan. Aliando tidak bisa diselamatkan. Nyawanya melayang.
Selang beberapa bulan, Kimberly sudah bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Dia sudab mulai move on dari Aliando. Dia tidak melakukannya sendiri. Ada laki-laki lain yang mulai mengisi kekosongan hatinya. Laki-laki itu hadir bagaikan malaikat penyelamat. Malaikat itu bernama Andra.
Tamat.

0 comments:

Post a Comment