“Kau sungguh menyukai hutan?”
“Iya, sungguh. Aku sangat menyukainya.”
Setiap kutanyakan hal yang sama, dia tidak pernah membalasnya dengan jawaban yang berbeda. ‘Suka’, selalu itu yang terlintas di bibirnya. Saat berkata demikian, matanya berbinar, memancarkan gugusan bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Tiga hari sudah aku berdiam di sini semenjak hari libur pertamaku, bersama papa yang sedang menjalankan proyeknya: membabat hutan yang kini berkoloni di hadapanku, kemudian area itu ditanami tanaman beton yang akan membuatnya lebih berisik dari semula.
Tiga hari pula aku telah bertemu dengan Lefiana, gadis yang selalu kulihat ketika bermain ke hutan. Tiap aku menatapnya, dia tersenyum, selalu. Bukan hanya padaku, senyum itu ditujukan pada setiap makhluk di sekitarnya. Dia tersenyum melihat hutan yang selalu bernyanyi untuknya.
Hari ini pun sama. Dia bermain bersama teman kecilnya. Bersama burung-burung yang berkicau indah. Bersama anggrek yang menari melingkar pepohonan. Sesekali dia tertawa, seakan pepohonan memainkan drama yang membuat hati senang.
“Rumahmu dimana?” tanyaku padanya.
“Di sini,” jawabnya, sambil melihat ke sana ke mari, tanpa berhenti pada satu sudut pandang pun. “Kamu?”
“Aku, di sana.” Aku menunjuk sebuah pondok kecil di dekat hutan, tidak terlalu jauh dari tempat kami mengobrol. Dia mengikuti telunjukku, lalu senyumnya sirna.
“Mereka ingin menghancurkan teman-temanku, kan?” ia bertanya dengan raut sedih. Muram bernaung di wajahnya.
“Iya. Nanti, tempat ini akan disulap menjadi tempat yang lebih baik lagi. Akan ada perumahan elit di sini,” jawabku semangat, berharap dia senang mendengar penjelasanku.
“Benarkah?”
“Iya, benar.”
“Tidak, kau bohong!” sanggahnya. “Tempat ini tidak akan seindah ketika dihuni pepohonan yang rindang.”
Aku terdiam, tak berucap sepatah kata pun. Aku tahu, dan seharusnya sudah mengerti bahwa penjelasanku tidak akan bernilai sedikit pun di hadapan Lefiana. Di hadapan gadis yang mencintai hutan lebih dari apa pun.
“Jika aku membujuk papaku untuk menghentikan penebangan, apakah kau mau tersenyum kembali? Tersenyum untukku dan selalu berada di sisiku selamanya?” tanyaku, mengharapkan dia menyetujuinya.
“Ya, aku mau.” Senyumnya kembali terbit, menerangi aku dan pepohonan yang dari tadi memandangnya. Senyum yang tak terhitung kebahagiaan yang terikat di sana.
Sepulangnya, aku berbicara pada papa, mencoba membujuknya agar menghentikan penebangan hutan. Namun papa tidak berkomentar banyak. Dia menolak, karena inilah pekerjaannya, dan ini adalah proyek besar.
Esoknya aku kembali menemui Lefiana. Seperti hari-hari sebelumnya, dia di sana, tidak pernah beranjak dari tempatnya berdiri dan bercengkerama dengan makhluk sekitarnya.
“Bagaimana, Faren? Kita bisa bermain di hutan ini selamanya, kan?” Lefiana bertanya padaku dengan riang, mengharapkan sebuah ‘iya’ mendarat dari bibirku.
Aku tidak langsung menjawab. Hening sebentar. Bagaimana bisa aku mengatakan ‘tidak’ padanya. Sebuah pernyataan yang akan memusnahkan senyuman seindah itu darinya. “Iya, kita akan bermain di sini, selamanya.”
Lefiana tertawa, lalu direngkuhnya pepohonan satu persatu. Dia tenggelam dalam keceriaan. Gembira atas kepalsuan yang kuciptakan, hanya demi senyumnya.
Beberapa hari kemudian, proyek itu dimulai. Hutan tempat aku biasanya bertemu dengan Lefiana, dibabat, dimusnahkan, dirontokkan, secara menyeluruh dan habis-habisan. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya memandang mereka satu persatu, tersingkir seperti debu yang tertiup angin. Hati kecilku berharap, ketika esok aku bermain ke hutan yang telah menjadi tanah rata, aku dapat bertemu Lefiana kembali. Berharap dia memberikan senyumannya kembali padaku, dan kepada pepohonan yang telah bertumbangan.
Tapi tidak, semua tidak seperti yang kuharapkan. Lefiana tidak ada di tempatnya. Dia tidak pernah muncul lagi, atau hanya sekadar memperdengarkan tertawa kecilnya. Dia menghilang, lenyap seperti hutan dan suara burung-burung yang bernyanyi di dalamnya. Senyum indah seelok pelangi itu tidak pernah muncul lagi.
Sudah dua hari, seminggu, bahkan sebulan aku kembali ke sana, namun Lefiana tidak pernah menampakkan sosoknya. Bahkan berbulan-bulan kemudian setelah proyek itu berangsur-angsur selesai, aku rutin mengunjunginya. Namun Lefiana tidak pernah tampak lagi. Hanya ada bebunyian tunggangan bermotor dan berisikan penduduk yang menyakitkan telinga. Tidak ada lagi pepohonan, kicauan burung, mau pun pelangi di bibir Lefiana.
0 comments:
Post a Comment