Janji Sahabat di Bulan Ramadhan


Perjalanan panjang diiringi kemacetan yang mengganas berhasil mewariskan sedikit kelelahan. Malam telah berkuasa, memamerkan sepotong bulan yang bertengger di puncak langit. Gemeresik dedaunan pohon yang bergesekan, berdesis sesaat. Kemudian, sirna dilindas bebunyian kendaraan yang melolong. Malam semakin larut, namun perjalanan mudik dari Jakarta menuju Surabaya belum usai. Kami masih terdampar di momentum bernama perjalanan panjang.
“Ayo, turun. Kita makan malam dulu. Perjalanan masih panjang.” Aku memarkirkan mobil. Di sebelahku ada istriku yang senantiasa terjaga dan menjadi partner mengobrol agar aku tidak takluk oleh rasa kantuk. Lalu, di belakang ada dua orang putraku yang masih duduk di bangku SD. Mereka lugu dan menggemaskan.
“Abang, Adek, dengerin tuh kata Papa,” sambung istriku. Wajahnya sedikit kantuk, namun tetap bercahaya.
Kami turun dari mobil yang terbujur kaku di parkiran. Hawa malam semakin dingin. Angin berhembus kian kencang. Dedaunan dan bungkus makanan ringan bergentayangan di atas tanah, disapu angin yang mulai nakal.
“Aduh..” 
Tiba-tiba terdengar suara rintihan. Aku menoleh ke belakang. Kudapati putraku tengah tersungkur. 
“Pa, si Abang nakal, nih. Ngedorong adek dari belakang,” ucap putraku, sembari menunjuk saudaranya.
“Salah sendiri kenapa jalanmu lama banget.” Sang kakak tak mau kalah. Dia meladeni tuduhan adiknya dengan sengit.
Mereka saling menatap. Lalu, mereka mulai bergelut.
Aku dan Istriku terpaksa melerai mereka. Kucoba untuk menahan mereka agar jiwa labil itu tidak berkuasa. Akhirnya, kami berhasil menenangkan perselisihan kanak-kanak ini.
Kami masuk ke rumah makan, lalu mengambil meja paling depan. Sambil menunggu makanan yang kami pesan tiba, kuberikan beberapa nasihat pada anak-anakku. Nasihat yang umum dari seorang ayah pada anaknya. Nasihat yang membangun.
“Kalian tahu arti dari persaudaraan?” ucapku, menatap kedua bola mata anak-anakku, secara bergantian.
Mereka terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, sang kakak bersuara. “Hubungan antar kakak dan adik.”
Lugu, polos, dan masih putih. Itulah anak-anak. Dan, tugas orang tualah melukis warna putih serta menata kepolosan itu.
“Bukan, nak. Bukan sesempit itu,” seruku. “Persaudaraan itu merupakan simbol persatuan. Persaudaraan akan menciptakan kedamaian. Persaudaraan akan merajut impian. Bahkan, persaudaraan tidak hanya mengenal hubungan darah. Maknanya sangat luas.”
Mereka termenung, tidak kuasa mencerna kata-kataku dengan lancar. Tentu saja, mereka masih terlalu cepat untuk memahaminya.
Aku berkata kembali, agar mereka lebih bisa memahami. “Intinya, kalian tidak boleh bertengkar. Akurlah, karena kalian itu adalah adik-kakak yang harus saling bahu-membahu.”
Kalimat terakhirku sepertinya diterima dengan baik oleh mereka. Mereka berangkulan, dan berbaikan seperti semula. Begitulah anak-anak, gampang bertengkar, dan begitu mudah untuk berbaikan. Seperti itulah saudara, saling memahami serta saling mendukung.
Tanpa kusadari, nasihat yang baru saja kusampaikan, tiba-tiba membuat visiku terlempa ke masa lalu. Kenangan lampau yang sempat terkubur oleh memori-memori masa kini, seketika mencuat. Kisah dua puluh tahun yang lalu, singgah kembali. Cerita lama yang berharga bernaung di malam yang gigil ini.
**
Bulan Ramadhan tiba. Libur telah membentang, menyuguhkan waktu bermain ekstra bagi anak sekolahan. Waktu emas yang sangat berharga bagiku dan dua orang teman dekatku. Tirta dan Gandi.
Gandi adalah seorang anak berbadan gemuk. Pipinya bulat, seperti ada telur itik yang terselip di sana. Ayahnya adalah pemilik rumah makan padang. Mungkin, inilah alasan mengapa ia gemuk. Ia telah disumpali rendang yang banyak.
Temanku yang satu lagi adalah Tirta. Ia berasal dari keluarga yang kaya raya. Kehidupannya serba berkecukupan. Orangnya suka memamerkan barang-barang mewah. Namun, dia tidak pernah pilih-pilih teman. Dia adalah anak yang baik.
Lalu yang terakhir adalah aku. Seorang anak yang berkemampuan biasa dari keluarga yang sangat biasa. Tidak ada yang spesial dariku.
Aku, Gani, dan Tirta telah berteman sejak kecil. Kami bukanlah teman satu sekolah. Awal kami bertemu yaitu di saat ramadhan, di sebuah masjid yang ramai jemaahnya. Semenjak itu, kami mulai sering bergaul dan semakin mengenal lebih dekat. Pergaulan anak SD yang amat erat.
“Lihat ini, mainan baru. kesatria baja hitam versi mini. Harganya lumayan mahal, lho,” ujar Tirta. Dia mulai memamerkan barangnya.
Barang baru, berarti kesenangan baru. Kepunyaan Tirta, berarti kepunyaan aku dan Gandi juga. Biasanya begitu. Namun, kali ini tampaknya berbeda.
“Tapi kalian tidak boleh menyentuhnya! Ini berbeda dengan mainan-mainan sebelumnya. Ini mainan favoritku,” sambung Tirta.
Mendengar pernyataannya, aku merasa gusar.
“Kalau tidak ingin meminjamkannya ke temanmu, sebaiknya tidak usah dipamerkan.”
“Pamer itu kan sudah menjadi kewajibanku. Ya bisa aja dengan kuperlihatkan barang bagus seperti ini, kalian mau menabung untuk membelinya,” sergap Tirta.
“Jangan mentang-mentang kaya, ya.”
“Kalau tidak mampu beli, jangan menyalahkan orang.”
Kami akhirnya bertengkar. Kekesalanku sudah memasuki titik tertinggi. Tidak bisa kukontrol lagi. Namun, sebelum pertengkaran berkembang lebih jauh, Gandi melerai kami.
 “Hei, jangan bertengkar. Masa’ kalian bertengkar hanya karena mainan? Ayo, dong, kita kan sahabat. Lagi pula saat ini kalian sedang berpuasa, kan? Tahanlah amarah itu.” Gandi menengahi. 
Aku tidak suka sifat pamer dan pelit. Dalam sorot mataku, kini, sosok Tirta menjadi sangat menyebalkan. Dan, aku tidak betah untuk berada di hadapannya.
“Aku pulang. Obrolan ini menyebalkan,” ucapku sembari melengos pergi.
Kuseret langkahku meninggalkan taman tempat kami biasa bertemu dan bermain. Sesaat, kupalingkan wajahku ke belakang. Di sana, masih berdiri Tirta dan Gandi yang menatapku dari kejauhan.
**
Satu minggu berlalu semenjak pertikaian aku dan Tirta. Kami tidak pernah bertemu kembali semenjak itu. Aku tidak pernah main ke taman lagi. Dan, aku sudah tidak peduli dengan Tirta dan semua barang-barang mewahnya.
Lalu, di pagi yang sunyi, suara ketukan pintu berdentum. Kubuka pintu itu, lalu kudapati Gandi yang berdiri di sana.
“Rama, ikut aku ke taman yuk,” ucapnya tanpa basa-basi.
“Ngapain?”
“Udah, ikut aja.”
Tanpa penolakan, kuikuti langkah Gandi. Aku berjalan dengan membatin. Menebak-nebak hal yang ingin dibicarakan, ataupun ditunjukkan oleh seorang Gandi.
Lalu, akhirnya, kutemui sosok Tirta di sana. Tengah terduduk di atas kursi panjang bersama dengan kesatria baja hitam mini yang digenggamnya.
Tirta memandangku. Tatapannya menancap lekat ke bola mataku. Ada getir yang singgah di bola matanya. Ada sendu yang menggurat di bibirnya.
“Tir, saatnya kamu bicara,” ucap Gandi memecah kebisuan.
Tirta menunduk. Bibirnya bergetar. Tampaknya, ia tengah berusaha menyusun kalimat.
“Rama, maafin aku ya. Mungkin aku udah keterlaluan. Maafin juga sikapku selama ini yang membuat hati orang tersakiti dan sama sekali tidak terpuji.”
Aku terkesiap. Keterkejutan menyambar seperti petir di siang bolong. Tirta, tiba-tiba berubah. Dia bersikap tidak seperti biasanya. Dia meminta maaf, dan mengakui kesalahannya. Aku tidak kuasa memalingkan wajah. Aku tidak sanggup untuk tidak memaafkannya.
“Ya. Kita lupakan saja masalah beberapa hari yang lalu. Aku udah memaafkanmu kok,” seruku.
Tirta mulai menggerakkan tangannya. Dia mengulurkan kedua tangannya yang menggenggam kesatria baja hitam.
“Ambil ini. Anggap ini sebagai permintaan maafku,” tukasnya.
Aku mematung. Kebingungan. Aku sangat menyukai kesatria baja hitam. Namun, ini bukan hakku. Dan, permintaan maaf tidaklah mewajibkan sebuah pengorbanan. Maaf hanya mensyaratkan sebuah keikhlasan.
“Tidak. Aku tidak bisa menerimanya. Aku sadar, ini bukanlah hal yang terpenting di antara kita,” jawabku.
“Lantas, apa yang lebih penting?”
“Persahabatan kita. Atau, lebih tepatnya jika kusebut sebagai persaudaraan?” ucapku. Aku memandangi Tirta dan Gandi bergantian.
Kami terbahak setelah itu. Kemudian, kami saling berangkulan. Kami menemukan kembali rumah kami. Sebuah rumah yang dibangun dengan persaudaraan. Persaudaraan tanpa ikatan darah, namun dibungkus dengan kesungguhan yang hakiki.
Dua minggu berlalu, kebersamaan itu tak berlangsung lebih lama. Sebuah kenyataan berbicara. Perpisahan bersabda tanpa belas kasih. Keluarga Tirta pindah. Artinya, kami bertiga tidak bisa bermain bersama lagi.
“Teman-teman, maaf ya aku harus pergi. Mulai detik ini kita akan berpisah,” ujar Tirta. Kantung matanya mulai berair. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar tak karuan.
“Tirta, kalau kamu pergi, nanti siapa dong yang traktir aku di kantin?” Gandi mulai berbicara, namun yang dilontarkannya adalah kalimat yang sama sekali tak berelasi dengan pembicaraan saat ini.
Tirta hanya membalas dengan senyum.
“Tir, kamu punya cita-cita, kan? Katakan, apa cita-citamu?” tukasku. Mataku menunjukkan keseriusan. Aku menatap Tirta erat-erat. Tatapan seorang pria. Tatapan penuh pertanggungjawaban.
“Arsitek. Kelak, aku akan menjadi arsitek yang hebat. Yang mendunia.” Raut wajahnya sangat tegas. Bara di matanya berkobar begitu kuat. Tak ada keraguan yang menjalar di sana.
“Baiklah. Kalau aku, kelak, aku akan menjadi seorang dokter yang baik dan mempedulikan orang-orang di sekitarku,” ucapku, tak mau kalah.
“Giliranku. Aku akan membuka restoran mewah, supaya aku bisa menyantap makanan enak setiap harinya,” Gandi ikut menyerocos. Kami pun tertawa mendengar perkataannya.
“Kelak, jika kita bertemu lagi, tunjukkan batang hidungmu sebagai seorang arsitek yang handal,” suaraku mengarah pada Tirta.
“Kalian juga. Jangan tunjukkan sosok kalian di hadapanku sebelum berhasil meraih cita-cita kalian.”
Kami saling berpandangan. Saling menyeruput senyum. Saling menerjemahkan kehangatan terakhir yang terangkum dalam perpisahan.
Dan, itulah obrolan terakhir kami. Obrolan yang penuh makna. Sebuah perpisahan yang menggores janji. Janji yang diikrarkan anak SD. Janji yang berusaha untuk diwujudkan oleh pria yang tidak mau dipecundangi janjinya sendiri.
**
“Pa, kok, melamun?”
Visi masa lalu buyar seketika. Suara istriku menyeretku kembali ke masa kini. Sekarang, aku kembali ke dunia nyata. Dunia di mana aku sedang terduduk di meja rumah makan bersama istri dan anak-anakku.
“Pa, kok orang itu dari tadi memperhatikan kita terus? Itu teman Papa, ya?” tukas istriku. Dia melirik ke belakang, ke arah orang yang dimaksudnya.
“Nggak tahu, Ma. Bentar, Papa lihat dulu.”
Ada seseorang di meja seberang. Seorang pria, bersama dengan keluarganya. Mereka tengah menikmati makanan yang baru saja terhidang, lengkap dengan kepulan asap yang menawarkan aroma sedap.
Pria itu berdiri, lalu menghampiri meja kami.
“Maaf, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” tanyaku. Sebuah tanya, namun bukan tanya yang total akan ketidaktahuan. Ada kecurigaan yang menggurat. Sebuah wajah yang tampak tak asing namun tidak mampu untuk kukenali.
“Rama, ya? Rama, kan?” Orang itu tampak antusias. Dia bersikap seolah seorang teman lama.
Aku tercenung. Kucoba untuk mengubrak-abrik lemari ingatanku. Berusaha untuk menyimpulkan identitas pria yang di hadapanku.
Lalu, lima detik kemudian...
“Tirta? Tirta, ya?” jawabku lebih keras. Lebih antusias lagi.
“Ah, kamu ternyata.”
Spontan, kami berangkulan. Sesosok teman lama yang kini ada di dalam dekapan. Wujud pembuktian dari janji. Sebuah jawaban dari takdir yang tak pernah terprediksikan pertunjukannya yang selalu mengejutkan.
“Aduh, aku kira kita nggak bisa ketemu lagi,” ucap Tirta padaku. Perasaan senang masih menggantung jelas di wajahnya.
“Aku juga tidak menyangka.”
“Oh, iya, bagaimana janji kita? Berhasil menjadi dokter, kah?” tanyanya.
“Berhasil. Sukses. Alhamdulillah,” jawabku mantap. “Bagaimana denganmu?”
Dia tidak berucap. Hanya menyunggingkan senyum. Kuterjemahkan sebagai jawaban positif.
“Oh, iya, kamu udah pernah ketemu Gandi, belum?” tanyaku.
“Belum. Tapi aku udah pernah kontak dengannya. Lewat media sosial. Dia berhasil mengelola restoran mewah, lho. Kapan-kapan aku mau mengunjunginya.”
Setelah itu, obrolan kami mengalir dengan lancar. Seakan tak pernah berpisah sebelumnya. Begitu karib. Malam yang panjang itu kami habiskan dengan nostalgia yang hangat. Kebersamaan yang kembali kami rajut, ditemani keluarga yang kini melengkapi kami.


Inilah sebuah jawaban dari janji para sahabat. Janji yang mutlak, yang tak mengenal kata ingkar.

0 comments:

Post a Comment