Kereta Harfiah

Kata adalah ekspresi. Kata adalah simbol. Kata adalah perasaan.

Kata adalah...  kata.

Manusia mempunyai beribu kata yang melembung di dalam hatinya. Tidak peduli seberapa besar mereka mencoba untuk menyingkirkan semua itu. Mereka tidak akan bisa. Kalau pun berkurang, hanya waktu yang mampu menghapus goresan kata demi kata itu, perlahan. Bahkan, seringnya, tidak akan pernah kata-kata itu enyah dengan sempurna dari relung hati manusia. Selamanya akan bercokol di sana.

Menumpahkan kata yang mengair ruah itu, sepantasnya, memang, itulah cara yang jitu untuk melepaskan belenggu. Kata itu, adalah kesedihan.

Hari ini masih sama seperti hari biasa. Layaknya kemarin, dua hari lalu, seminggu lalu, sebulan. Sama. Kereta berlalu dan meninggalkan waktu. Ada banyak manusia yang mengejar kereta, berpacu dengan waktu. Salah satunya aku, yang bepergian ke sekolah menaiki kereta, setiap hari.

Bangunan muncul dan lenyap satu persatu ketika jendela kereta memproyeksikannya ke mataku. Namun aku akan selalu mengingat bangunan-bangunan itu. Karena, walau sekejap, mereka telah terekam dalam ingatanku. Sama, seperti masa lalu. Sesingkat apa pun, jika perihnya masa lalu telah menoreh luka, tidaklah akan buyar dari benak.

Aku duduk di kursi, mematut layar laptop. Mataku mengikuti kata demi kata yang kuciptakan. Aku hanyut dalam duniaku, pada tulisanku. Cerita pendek yang kuciptakan, hasil tumpahan kesedihanku berhari-hari yang telah bersarang di batinku, membuat aku tidak menyadari sekitarku. Tidak, sampai aku menangkap sepasang mata tengah mengekor ke layar laptopku.

Aku menatap ke arah sepasang mata berkilau seperti bola perunggu. Pemilik mata itu adalah seorang gadis berparas cantik. Kulitnya putih seperti baru saja dihantam setumpuk tepung terigu. Senyumnya membingkai, bak lukisan pelangi yang di dalamnya ada roh peri yang menyejukkan jiwa.

“Halo,” sapa gadis itu sembari tersenyum.

“Ha.. halo juga.” Dengan gugup aku membalas gadis itu. Mataku belum mampu untuk lepas dari wajahnya. Bagaikan sihir yang mengikat arwahku padanya.

“Kamu menulis cerpen?” tanya gadis itu. Matanya mencengkeram perhatianku, erat.

“Iya, sekadar mengisi waktu,” jawabku, yang mulai mengalihkan pandangan dari matanya.

Gadis itu tidak bersuara kembali. Ada hening yang lama di sana. Bebunyian mendadak berubah menjadi gaib. Aku pun kembali mengetik tulisanku, dengan perasaan gugup. Tak terbiasa diperhatikan wanita.

Akhirnya, kereta berhenti, tepat di Stasiun Shinjuku. Kerumunan orang berbondong-bondong menuju bibir pintu. Aku dan gadis tadi beranjak dari tempat duduk kami, dan tidak berucap sepatah kata pun. Suasana membeku.

“Semoga besok kita bisa pergi bareng lagi.” Tiba-tiba, seutas suara berceletuk ke arahku. Ternyata, berasal dari bibir gadis di sebelahku tadi. Aku membalasnya dengan senyum, seadanya. Kebekuan pun mulai melumer.

“Haruna. Ingatlah namaku,” tukas gadis itu menyebutkan namanya.

“Hide. Panggil saja begitu,” seruku padanya.

Hari itu, pertama kalinya aku bertemu dengan Haruna. Dia memakai seragam SMA. Sepertinya seragam sekolah yang sedaerah dengan sekolahku. Seharusnya, aku sudah pernah melihatnya ketika bepergian ke sekolah. Namun tidak, baru kali ini aku bertemu dengannya.

Hari itu, pertama kali aku bertemu dengan Haruna. Seorang gadis yang memiliki mata berkilat dan ada bara yang berkobar di sana. Sekilas, batinku mengatakan, dia adalah gadis yang telah melewati banyak perjuangan. Mata itu, adalah mata yang tidak mengenal kata menyerah.

**

Waktu berlalu seperti kereta api yang mengalir di jalurnya. Hari demi hari telah kami lewati, antara aku dan Haruna. Hampir setiap pergi ke sekolah kami berjumpa. Yang dia lakukan adalah memperhatikanku menulis, kemudian membaca tulisanku ketika aku telah menyelesaikannya.

“Menulis adalah hal yang paling kamu sukai, ya?” Dengan lembut, Haruna bertanya padaku.

“Iya, aku sangat menyukainya,” jawabku. “Aku selalu menuangkan perasaanku pada tulisan.”

Haruna terdiam, dia menerawang ke atas, seakan ada bintang yang menancap di langit-langit kereta. “Sama seperti pertama kali kita bertemu, kah? Waktu itu wajahmu tampak muram, dan kamu benar-benar berkeluh kesah pada laptopmu.”

Sungguh, aku merasa kagum pada gadis ini. Dia bisa menafsirkan perasaan seseorang, semudah mencari harfiah pada kamus. “Iya, kamu sudah baca, kan, ceritanya?”

Mata kami bertabrakan. Bibir Haruna bergetar. Dia berusaha menahan kata-kata yang ingin dimuntahkannya. “Tidak apa-apa. Aku tidak sesedih hari itu lagi. Memang benar, saat itu perasaanku sangat terhenyak. Mengetahui bahwa tidak ada lagi sosok ayah dalam keluarga kami, itu sangatlah menyakitkan. Namun, entah mengapa semenjak aku bertemu denganmu, aku mulai bisa menghapus duka itu. Kau datang seperti bidadari yang bersedia meminjamkan sayap untukku sehingga aku mampu bangkit kembali.”

Haruna menunduk. Suara isakan melenguh dari bibirnya. Air matanya yang bening mulai membulir dan berjatuhan seperti aliran sungai. Kucoba untuk mengusap kepalanya, berharap itu akan membuatnya tenang. Entahlah, bagian mana dari kata-kataku yang telah membuatnya menangis. Aku tidak berani bersuara demi mendapatkan jawaban itu.

“Aku sangat senang. Kamu menganggapku telah berguna bagimu, hal itu sungguh menyenangkan. Selama ini aku tidak pernah memberikan apa pun bagi orang-orang di sekitarku. Aku hanya bisa menjadi beban.” Haruna masih terisak. Suaranya bergetar, namun masih terdengar jernih bagiku.

Aku menatap matanya rekat, “Jangan berkata demikian, tidak ada manusia yang tidak berguna bagi orang-orang sekitarnya. Tolong, jangan menangis. Itu akan membuat bara di matamu padam. Cahaya itulah yang membuatku semangat, ketika berbicara denganmu.”

Haruna menyeka matanya. Dia berusaha menghentikan tangisan harunya. Gerbong kereta api, saat itu, terasa seperti ruang bawah tanah yang sepi, dimana hanya ada aku dan Haruna yang tengah berbagi rasa dan kisah.

“Hide!”

“Ya?”

“Berjanjilah untuk selalu melangkah ke depan. Tidak ada hal yang tidak bisa ditaklukkan. Kamu memiliki bakat yang harus disyukuri. Menuangkan perasaanmu pada sebuah tulisan, itu sangatlah berharga. Teruslah menulis, itu akan menghapus lukamu perlahan,” ujar Haruna padaku. Matanya kembali menyala. Senyumnya bercahaya, menyapu segala duka dalam dadaku.

“Aku berjanji.”

“Tidak semua orang memiliki kesempatan di dunia ini. Sebagian manusia memiliki batasan. Bahkan waktu menjadi penghalang baginya untuk berguna bagi orang lain.”

“Maksudmu?” tanyaku, berusaha memahami perkataannya.

“Tidak. Bukan apa-apa,” jawabnya, masih dengan senyum yang menggantung di bibirnya.

Kami berjalan keluar kereta, menyusuri stasiun yang sesak akan lautan manusia. Lalu, di tengah lautan itu ada mentari. Haruna, dialah mentari. Dan aku adalah bayangan yang merayap di bawahnya.

“Uhuk.” Haruna terduduk. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya terpejam, dia menahan sakit.

“Hei, kamu baik-baik saja?” tanyaku panik. Tentu saja dia tidak sedang baik.

“Sudah. Tidak apa-apa. Aku sedikit sakit, tapi aku agak memaksakan untuk berangkat sekolah. Ini akan baik-baik saja. Percayalah.” Dia mengatakan semua itu dengan penuh keyakinan. Semua akan baik-baik saja, begitulah yang terdengar ketika dia menghadapkan senyumnya padaku. Aku tidak percaya, namun dia telah berkata demikian. Kupaksakan diriku untuk mempercayainya.

Kami berpisah di sebuah persimpangan yang memisahkan antara jalan menuju sekolahku dan sekolah Haruna. Masih terbawa perasaan khawatir, aku memandang ke arah Haruna. Memperhatikan punggungnya yang memancarkan sayap.

Hari itu, adalah hari terakhir aku melihat Haruna dan cahaya di matanya. Janji yang kami buat kemarin seakan menjadi pemaksaan dari Haruna padaku agar berjuang selalu menghadapi luka.

Kereta yang kutumpangi masih sama dengan hari biasanya. Hanyalah kereta yang berjalan dengan jalurnya. Sama. Yang berbeda, hanyalah orang yang berada di sampingku. Bukan seperti kemarin, saat Haruna selalu di sisiku.

0 comments:

Post a Comment