Gadis itu membuka pintu mobil dengan tangannya yang putih mulus tanpa kekusutan sedikit pun. Pundaknya yang kecil, yang telah bertahun-tahun kuamati, merengkuh aura panas di luar yang tak terjamah angin AC. Dia menatapku, hangat. Pendar di matanya tidak pernah sirna, mengerucutkan segala intensitas menjadi prioritas yang bercikal pada episentrum. Menyihir perhatianku pada bola matanya, tanpa bisa kupunahkan pupil matanya dari sinyal-sinyal yang bertransmisi di otak.
“Nanti malam makan bareng ya?” ucapnya padaku, masih dengan senyum yang bertengger di bibir.
“Sekalian tidur di apartemenku, oke?” balasku.
Dia tidak bersuara, hanya merespon dengan seulas senyum. Lebih dari sekadar jawaban, karena itulah superioritas dari senyuman seorang Veranda. Penuh arti. Penuh bobot. Penuh penekanan.
Veranda berjalan menyusuri anak tangga yang tidak terlalu tinggi. Membungkus semua perhatian lelaki pada dirinya. Veranda, seorang wanita yang dianugerahi pesona dan perfeksionitas tanpa batas. Tak bernoda, tanpa kelemahan. Model tercantik di sudut bumi tak akan mampu menandingi pikatnya. Rembulan di luar angkasa tak akan sanggup menyejajarkan sosoknya dengan seorang Veranda. Wanita yang telah mencuri duniaku. Menyedot waktu-waktuku, hanya demi dirinya. Namun semakin aku mendambakannya, semakin menumpuk sesak di rongga dadaku.
Sudah tujuh tahun berlalu semenjak aku mengenalnya dan menjalin hubungan tanpa harus mempedulikan asa dan kekhawatiran. Hubungan yang dapat menyatukan hati manapun tanpa harus tersisipi tanda tanya. Hubungan itu bernama persahabatan.
Bertahun-tahun aku mengenalnya, menyusup dalam waktunya. Mengenal dirinya lebih baik, mengetahui palung jiwanya. Kekariban yang kami junjung membuat perasaanku mulai bermetamorfosis. Ada rasa yang berubah. Ada gejolak yang menderu. Aku mulai mencintainya. Namun cinta yang penuh tanda tanya. Berbeda dengan sebuah persahabatan yang tidak mengenal tanda tanya, yang hanya memiliki titik dan tanda seru.
Aku takut. Aku frustasi. Aku bertanya, bertanya, dan terus melontarkan tanya yang diikuti tanya dan tidak pernah menusuk jawaban. Haruskah kusajikan cintaku padanya? Dapatkah dia menerima cinta itu? Aku tidak mengerti. Aku takut jika perasaan seperti itu dapat menghancurkan ikatan yang selama ini kami bangun. Aku frustasi berada di antara jujur dan menahan rasa.
Kuparkirkan mobilku di tepi sungai. Sungai yang kotor, penuh limbah yang mengaduk-aduk kesuciannya. Sorot mataku menembus air yang arusnya telah berhenti itu. Impuls sarafku berdenyut. Ya, tepat seperti inilah kemungkinannya. Saat sesuatu yang mengalir tanpa hambatan, mulai dicemari oleh benda-benda asing, besar kemungkinan alirannya akan terhenti dan tercemari. Aku makin tersudut.
Di langit, matahari telah berkuasa sepenuhnya meracuni cakrawala. Sinarnya menjarah setiap kotak-kotak bumi. Panas mulai menyengat dengan intens.
**
Veranda mengunyah gumpalan stik daging sapi dengan elegan. Pipinya yang lembut memperlihatkan gelombang-gelombang di saat makanan digigitnya dengan erat. Sementara aku, tidak terlalu fokus pada makananku. Veranda menyita waktuku.
“Kamu ke restoran mau makan atau ngeliatin aku makan?” tukas Veranda. Ia memergokiku yang tengah mengamatinya.
“Keduanya. Mengamatimu adalah bagian dari sesi makan malamku,” sergahku.
Veranda tertawa kecil, lalu mengambil mocktail yang berada di sebelah piringnya. Ia meneguk minuman itu. “Lakukan itu di kamarmu nanti. Sekarang, segeralah habiskan makananmu.”
Aku mengangguk kecil, lalu mulai menyuap makananku. Namun mataku tetap tidak bisa lepas dari pesonanya. Pesona yang merasuk kesadaran. Rona merah di wajah dan senyum yang selalu mengulas tajam. Tak satu pun detik yang bisa teralihkan dari memandang wajahnya. Racun.
Malam yang gaduh di restoran kami tinggalkan. Tubuh kami kini melesat di atas mobil, menuju apartemenku. Bukan hal baru dan asing, aku telah berulang kali membawa Veranda ke kediamanku. Namun tidak untuk wanita lain.
Mobil kuparkirkan, lalu kami keluar, berjalan menuju gedung besar yang bertengger di antara gedung yang terlihat mini jika dibandingkan dengan apartemenku ini. Langkah kaki kami menyusuri lorong. Lalu, tibalah kami di apartemenku. Sebuah kamar luas yang lengkap dengan furnitur dan peralatan seni mahal. Pengalokasian yang tak seberapa mengingat penghasilanku yang membanjir.
Aku meraih lemari pakaian, dan mulai menanggalkan kain yang membungkus tubuhku. Menukarnya dengan sehelai piyama. Veranda pun begitu. Di lemari pakaian ada beberapa pakaian Veranda yang diwariskannya ke sana.
“Malam ini ingin melakukan itu?” tukas Veranda.
“Bukankah itu yang selalu kita lakukan jika kamu kemari?” jawabku.
“Oh, apakah kamu hanya ingin tubuhku saja, sahabatku?” candanya.
“Tidak. Tentu aku menyukai dirimu sepenuhnya. Maksudku, bukan hanya tubuhmu.”
“Ya, ya. Aku tahu. Aku hanya bercanda. Kamu pakai pengaman, kan?”
“Tentu,” anggukku.
Malam yang panjang itu kami mulai dengan bercinta. Melakukan aktivitas yang sudah lumrah bagi kami. Bercinta tanpa ada rasa cinta satu sama lain. Terasa nikmat, namun sebenarnya hambar. Desahan demi desahan mengalun. Namun, itu hanya seperti sebuah formalitas dalam bercinta. Tidak ada kepuasan yang hakiki. Kami bukan sepasang kekasih. Kami hanya sahabat yang senang bercinta tanpa dilandasi cinta itu sendiri.
Satu jam berlangsung. Kami kelelahan.
“Seperti biasa, permainan yang memukau,” ujar Veranda.
Aku hanya tersenyum, menyeruput kesenangan yang tersisa. Kesenangan palsu, yang seharusnya kuverifikasi kebenarannya.
“Ver, ada yang ingin kubicarakan saat ini. Sebuah pembicaraan serius.”
“Pembicaraan serius? Tumben kamu ingin berserius-seriusan denganku.” Alis Veranda terangkat. Keningnya berkerut. Sebuah fenomena tak biasa baginya.
“Ya, sangat serius.”
“Baik, katakanlah.”
Mataku menjadi kaku. Getir merasuki, membuat mataku tak kuasa menusuk mata Veranda lekat-lekat. Namun, aku harus memberanikan diri. Aku harus melepaskan resah ini sepenuhnya.
“Kita telah bertahun-tahun menjalin persahabatan. Aku telah mengenalmu dengan baik, kamu pun begitu. Kita bahkan telah bercinta berpuluh kali. Bukankah itu yang biasa dilakukan sepasang kekasih? Namun, kita bukanlah dua orang yang menjalin ikatan itu. Tidakkah itu aneh?”
“Aku tidak mengerti. Katakan lebih spesifik, dong, Samuel.” Kening Veranda semakin berkerut.
“Kita telah melakukan hal yang terlampau jauh untuk ukuran sahabat. Kenapa... kenapa...” ucapku sedikit ragu. “Kenapa kita tidak pacaran saja? Atau kita bisa langsung menikah?”
Air muka Veranda mendadak berubah. Kerut di keningnya sirna, namun berganti keraguan. Keraguan yang terpusat.
“Apakah menurutmu aku melakukan semua ini karena bagimu aku melakukannya berlandaskan cinta?” tanya Veranda, berhati-hati.
“Ya, pikirku begitu.”
Veranda menjauhkan tatapannya dariku. Dia melayangkan fokus matanya pada langit malam yang membentang dari jendela yang gordennya terkuak setengah.
“Tidak semua yang kamu pikirkan adalah kebenaran.” Ia masih memandang langit. Semakin tak ingin dia melepaskan pandangannya dari pekat malam.
“Kebenaran yang seperti apa?”
“Aku melakukan ini semua karena kamu adalah sahabatku. Aku menghargaimu. Aku ingin melakukan semuanya demi persahabatan kita. Agar, semua ikatan berharga yang kita rajut tidak putus sia-sia. Aku melakukan itu semua agar kamu senang.” Kini, tatapannya sedikit sayu, seperti cahaya yang pudar dimakan malam.
“Jadi, kamu tidak senang telah melakukannya denganku? Kamu terpaksa?” tanyaku.
“Tidak. Aku sangat senang. Aku senang bisa berguna bagimu. Bagi sahabatku,” tandasnya.
“Lalu?”
“Itulah poin utamanya. Aku melakukannya atas nama persahabatan, dan ingin menjaga perasaan itu tetap sama. Aku tak ingin melangkah lebih jauh. Mungkin, lebih tepat lagi, aku tidak bisa melangkah lebih luas terhadap hubungan kita.”
“Kenapa?” Aku semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini. Kebingungan semakin menyentakku.
Veranda terdiam. Kali ini, dia menatap mataku. Dia ingin mengucapkan sebuah kebenaran. Sebuah rahasia. Sebuah fakta yang tak ingin aku ketahui darinya.
“Aku ini lesbian.”
Satu kalimat singkat itu cukup untuk mengubur perasaan yang tumbuh selama bertahun-tahun. Perasaan yang merekah asa dan harap yang terus membangunku untuk menatap maju. Kini, perasaan itu berhasil dihempaskan.
Sisa malam yang kami lalui tak lagi berkesan. Kami tak saling berbicara lagi. Dia mulai menutup matanya. Sementara aku, memandangi langit-langit kamar dengan perasaan hancur, kesal, dan marah.
Sesakit itukah kenyataan? Sepertinya, kadang menyimpan perasaan dan kenyataan akan terlihat lebih baik.
0 comments:
Post a Comment