Sang Penyelamat dan Sang Penjaga

           Setiap pagi, dari balik jendela cokelat tua, aku mengintip dalam keheningan. Mengamati ke seberang dengan sepasang mata yang masih kuyu. Namun, ketika kulihat seorang gadis dengan rona di pipinya yang menyembul seperti sepasang mentari senja kembar, perasaanku menyejuk seperti di siram air pegunungan. Ada desir kagum yang berhembus, walau sepantasnya tidak harus kurasakan. Kekaguman yang mendamba untuk bisa memandang bola matanya lekat-lekat, yang tidak pernah bisa kugapai.
            Namun, sekejap bunga melati mendermakan wewangian kemudian lenyap dihempas badai, seperti itulah perasaanku memandang gadis itu. Tepat ketika seorang pria menghampirinya, kemudian mereka pergi bersama. Gadis itu, setiap pagi meninggalkan rumahnya menuju kampus, bersama pria tadi. Hanya senyumnya yang membekas di benakku setelah itu.
            Mereka telah bersama semenjak beberapa tahun yang lalu, ketika mulai menduduki bangku perkuliahan. Sementara aku yang telah lama memperhatikan gadis itu, hanya berani menatapnya dari balik jendela kamar, sambil terbaring di tempat tidur. Memelototi pemandangan yang sama selama beberapa detik di setiap paginya tanpa setitik cahaya yang menyertai.
            Di kamar kusam berdinding beton ini, setiap hari aku berbaring merebahkan tubuh lemahku di atas kasur. Poster-poster penyanyi idolaku bertebaran di sekujur punggung dinding. Di lemari, terdapat setumpuk buku yang membentuk antrian panjang. Bukan gunung, pantai dan panorama yang menjadi latar pencuci mataku. Melainkan, semangat yang dipamerkan tokoh-tokoh di poster, serta keindahan dunia lain yang digambarkan penulis di dalam buku-buku itu. Mereka membawaku menuju sisi lain dunia yang belum kujamahi.
Ketika bangun tidur, aku melangkahkan kaki keluar kamar. Namun, pagi tidak pernah menjadi jaminan orang tuaku akan berada di rumah. Saat matahari belum sempat muncul ke permukaan, mereka telah berangkat ke kantor. Begitu hampir setiap harinya. Tapi, mereka sangat menyayangiku, dan aku tahu itu. Selarut apa pun mereka pulang, mereka selalu menampakkan wajahnya di hadapanku. Mereka selalu menawarkan janji-janji indah padaku, walaupun aku tahu tubuhku tidak akan mampu menyelam ke dalam mimpi.
Di saat aku ingin mencicipi aroma laut yang segar, serta merasakan tentramnya hutan yang senyap, aku hanya mampu berharap, dan aku tahu itu bukanlah keramahan yang akan kudapatkan. Kenyataannya, liangku tidak akan pernah jauh dari kamar atau pun rumah sakit. Jeratan selang infus selalu menemaniku kemana pun. Gadis yang setiap pagi berada di seberang rumahkulah yang membuatku mampu bertahan hingga saat ini. Hanya dengan memandangnya, sudah cukup bagiku untuk bertahan. Menguatkanku agar tetap meneruskan hidup yang aku pun tidak tahu apakah memiliki makna atau tidak. Dan, akankah perjalanan yang selalu diliputi ketiadaan asa ini mampu menemui ujung yang benderang, atau bahkan tidak ada cahaya sama sekali.
            Setiap hari minggu, gadis yang senyumnya selalu terngiang di ingatanku itu selalu bermain keluar rumah bersama adik laki-lakinya yang masih berusia kira-kira 10 tahun. Ada sebuah taman kecil di sebelah rumah mereka. Di sanalah mereka tertawa bersama, mendramakan sebuah realita tentang adik-kakak yang harmonis. Dan aku, dari kamar yang mengurungku seperti tawanan penjara seumur hidup, dengan aroma lavender yang menyeruak melintasi hidungku, sesekali tersenyum bahkan tertawa memperhatikan tingkah mereka.
             Namun, hari itu berbeda dengan minggu-minggu lainnya. Waktu senggang yang biasanya di akhiri dengan sebuah pelukan hangat dari sang kakak ke adik, tidak lagi bergema.
            Cuaca tak bersahabat. Awan mulai berkoloni menghitam dan terlihat sangat murung. Kilat petir mulai menjuntai di langit. Rintik hujan kecil-kecil berjatuhan.
Segerombolan anjing buas yang entah dari mana, mungkin turun dari langit bersamaan dengan petir yang mulai memekik di sore itu, berlari dengan tatapan membunuh yang kuat. Kala itu, hanya ada gadis berpipi merah dan adiknya yang di sana. Mereka menggigil ketakutan. Gigi silet anjing-anjing tadi mengampiri mereka dengan cepat. Sementara aku, masih menatap kaku, dicambuk keraguan: antara berdiam membalut diri dengan rasa aman, ataukah harus berlari ke arah mereka menjadi pahlawan tanpa kekuatan apa pun.
            Menjadi pecundang yang bersikap seperti pahlawan, itulah yang terpikirkan olehku.
            Selang infus yang selalu bercokol di tangan kulepas tanpa keraguan. Derap langkahku menerpa jalan, lalu aku menghambur dari balik pintu rumah. Rasa ngeri dan nyali bercampur menampar sekujur benakku. Logika dan intuisi tidak lagi berbatasan. Semua demi gadis yang kukagumi.
            “PERGIII!!!” Dengan bodohnya, aku berteriak ke arah anjing-anjing itu. Namun  bagaikan lalat yang melintas sesaat, aku tidak diacuhkan mereka. Mulut lapar anjing-anjing berbalut kulit tanpa daging itu semakin menggeragau ke arah dua orang mangsanya, yang kini menjadi tiga jika ditambah denganku.
            Sang adik dengah gagah berani membentengi kakaknya. Tangannya yang masih kecil dan lemah menghempas angin di hadapan anjing-anjing itu. Dia berharap segerombolan makhluk berbulu itu gentar dan segera berlalu. Namun, hal itu tiada guna. Anjing-anjing itu semakin ganas. Beberapa di antara mereka mulai menghunjamkan giginya ke arah si adik, sehingga tercabiklah salah satu tangannya dan mulai memuncratkan darah.
            Naluriku sebagai pecundang dan pahlawan bergejolak kembali. Sisi beraniku menang, logikaku kembali mengalah. Kuraih kayu panjang yang berada di sampingku, kemudian aku berlari ke arah mereka. Tongkat itu kuayunkan sekuat-kuatnya. Tetapi, usahaku pun tidak melahirkan kegetiran bagi mereka. Tanganku yang pucat selaras dengan batu nisan pun tidak luput dari jeratan gigi gergaji mereka. Salah satu tanganku putus.
            Sesaat kemudian, beberapa petugas keamanan, dengan tampang bodohnya menghampiri kami. Mereka menembakkan peluru bius ke punggung anjing-anjing ganas tadi.
            “Kalian baik-baik saja?” ujar salah satu dari mereka. Kumisnya yang menggantung di bawah hidung membuatku ingin menjambaknya, saking kesalnya aku terhadap keterlambatan mereka.
            “Kalian bawa saja anjing-anjing terkutuk itu,” ucapku kesal. Wajahku tidak mampu lagi menahan urat yang menembus kulitku.
            Petugas-petugas tadi lenyap, bersamaan dengan rasa kesalku. Kini, hanya ada kekhawatiran yang melanda hatiku.
            “Tangan kananmu, itu parah sekali. Kamu sudah tidak bisa menggunakannya lagi, kan?” tanyaku pada si adik. Dia mengangguk pelan diiringi bulir air mata yang mulai mengular di pipinya.
            Tangan kiriku telah usak setengah dimakan anjing buas tadi. Sementara, tangan kananku masih utuh.
            “Tunggu di sini sebentar. Aku akan segera kembali,” tukasku pada dua orang kakak-adik itu.
            Kemudian, aku kembali ke rumah, mencari sesuatu yang tajam dan bisa digunakan untuk memotong dengan cepat. Aku menemukan golok di gudang. Lalu kubawa, dan kembali ke taman.
            Di hadapan dua orang tadi, golok yang tak lagi mengkilat namun tajamnya masih nyata, kutebaskan ke tangan kananku. Darah mengalir deras, namun kututupi dengan pakaianku sebisanya. Dan tanganku telah terpisah dari tubuhku.
            “Ini, ambillah. Gunakan tangan ini,” tawarku pada si adik.
            Dia mengambil tangan itu dengan rasa haru yang tidak terbendung. Tangisnya makin keras, namun tidak lagi sendu.
            Sang gadis masih tercengang. Setelah diserang oleh anjing buas, lalu melihat aku yang merelakan tanganku putus, adalah kejadian yang komplit untuk membuat mulutnya menganga. “Tanganmu..”
            “Tidak masalah.” Aku lekas memotong perkataannya.
“Siapa namamu?” tukas sang gadis kepadaku.
            “Salvador. Sang penyelamat. Itulah harapan orang tuaku atas namaku.”
            “Aku Hilga Diana,” serunya, tersenyum di hadapanku.
            “Guardian. Jika digabungkan, namamu sekilas terdengar seperti guardian. Sang penjaga.” Pemikiran singkatku melahirkan makna baru untuk namanya. Dia mengangguk, rona di pipinya kian memerah.
Langkah kakiku berbalik menuju rumah. Sambil tersenyum aku berucap, “Jagalah tanganku baik-baik. Dan suatu saat nanti, kuharap kamu menemukan sesuatu yang dapat kamu jaga dengan tulus.”
            Hari itu pertama kalinya aku berbicara dengannya. Momen ketika aku mengetahui namanya.  Serta, memberikan pengorbanan pertamaku padanya. Pada gadis yang kucintai dalam diam.
            Di waktu berikutnya, aku masih melakukan rutinitasku seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda. Semua sama: terbangun dari lelap, kemudian memandang keluar jendela dan menyaksikan cahaya yang memancar dari wajah Diana. Tidak masalah, kejadian kemarin telah membekas di benakku. Kepingan memori itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Membayangkan ketika akhirnya aku berhasil berbicara dengannya, adalah saat-saat yang berharga. Di saat aku mati kelak, aku bisa menutup mata dengan tenang sambil memeluk kenangan itu.
            Pernah suatu ketika aku bertanya pada mama, “apa arti kehidupan bagi manusia, Ma?”
            Mama terdiam. Sepertinya dia memikirkan jawaban terbaik versinya. Setelah kami saling mematut selama satu menit, akhirnya dia bersuara. “Merajut kenangan indah. Dengan kenangan itu, manusia akan bangkit walaupun bongkahan batu merajam sekuat apa pun. Dan kenangan itu akan dibawa manusia hingga menghembuskan napas terakhir.”
            Jawaban mama masih melekat di ingatanku. Benar, ketika manusia telah memiliki kenangan indah, sekecil apa pun itu, hal itulah yang bisa membuat mereka bahagia.
            Hari minggu pagi adalah waktu yang paling kusukai. Di saat itu, rumah terasa lebih hangat dibandingkan  hari lainnya. Tawa keluargaku bergema, membuat rumah terasa bernyawa.
            Sudah beberapa minggu semenjak aku berkenalan dengan Diana. Namun, aku belum pernah berbicara dengannya lagi untuk kedua kalinya. Masih seperti biasanya, aku hanya melihatnya sekilas di pagi hari. Dan sepertinya hal itu akan kulakukan seumur hidup.
                                                                                   
***

            Hari ini, mentari senja kembar di pipi Diana tidak terlihat di seberang rumahku. Tidak seperti biasanya. Sudah tiga hari dia tidak muncul dari balik pintu rumahnya.
Ketika malam tiba, aku bertanya pada mama, “Ma, apakah Mama tahu gadis yang tinggal di seberang rumah kita?”
            “Ya, tahu. Diana, kan?”
            “Benar. Salva sudah tiga hari tidak melihatnya. Apakah terjadi sesuatu?”
            “Tiga hari lalu, sesuatu terjadi dengannya. Dia dan teman laki-lakinya mengalami kecelakaan. Malangnya, temannya meninggal. Sementara dia masih bisa diselamatkan. Tapi kakinya terpaksa diamputasi. Begitulah yang mama dengar dari orang tuanya.”
            Mataku semakin sayu. Kantuk yang menggelayut di pelupuk dan kenyataan buruk yang dialami Diana membuat mataku menahan beban yang berat. Aku benar-benar sedih. Walaupun dia bukan siapa-siapa.
            “Besok hari libur kan, ma? Bisakah Mama menemani Salva ke sana?”
            “Dengan senang hati.” Mama menerbitkan senyum. Kegelisahanku sedikit terhapus.
            Esoknya, aku dan mama mengunjungi Diana di rumah sakit. Aroma rumah sakit adalah hal yang biasa bagiku. Aku bahkan berkata, “ah, rumah keduaku,” ketika memasuki rumah sakit.
            Aku melihat beberapa pasien berjalan di luar kamar, mungkin melepas rasa suntuk mereka. Ada pula yang menggunakan kursi roda. Wajah mereka semua sama: pucat. Namun, dibalik kepucatan itu, ada sinar yang menggelombang walaupun sezarah. Sinar itu bernama harapan. Dan harapan itu muncul karena orang-orang yang selalu berada di sisi mereka.
            Aku tahu, yang harus kulakukan saat ini adalah berada di samping Diana. Mencoba membuatnya bangkit dari lembah yang bernama keterpurukkan.
            Aku telah sampai di depan kamar Diana. Ketika baru beberapa detik kuketuk pintunya dengan kakiku, karena tanganku telah hilang, ibunya muncul dari balik pintu. Dia tersenyum ramah, lalu mempersilahkan kami masuk.
            Di atas ranjang, kulihat Diana tengah terduduk, memandang dinding dengan tatapan kosong. Bahkan, aku tidak berani mengatakan itu sebuah tatapan. Pandangannya tertutup. Terhalang keputus asaan.
            “Selamat pagi, Diana. Masih ingat denganku, kan?” Aku menyapanya selembut mungkin, memulai percakapan.
            Dia masih belum sadar akan kehadiranku. Beberapa saat kemudian ibunya menepuk pundaknya. Dia terkesiap. Pandangannya lalu mengarah padaku. Dia menatapku datar, tidak ada senyum dan rona di wajahnya. Tidak seperti Diana biasanya.
            “Salvador? Kamu menjengukku?”
            “Ya. Aku sangat khawatir ketika mendengar kabarmu.”
            Biasanya, manusia dengan bodohnya akan bertanya,  “kau baik-baik saja?” Sayangnya aku tidak. Aku tidak akan mengatakan kalimat bodoh dan kejam seperti itu.
            Diana tidak berucap lagi. Dia terdiam. Lalu, tidak lama kemudian, pelupuk matanya tak sanggup lagi menahan air mata. Pipinya mulai dibanjiri air mata.
            “Semua karena aku. Aku bersalah sepenuhnya atas kecelakaan ini. Kalau aku tidak ngotot minta diantar ketika hujan, Corry pasti tidak akan...”
            “Berhenti menyalahi takdir. Kamu ingin mengutuk takdir yang telah merencanakan semua ini? Manusia tidak berhak melakukannya!” potongku segera.
            Diana tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tertunduk. Air mata masih membasahi pipinya.
            “Dia pacarmu, kan? Pastinya dia adalah orang yang berharga bagimu. Dia pun pasti berpikir demikian. Jika dia mengetahui kamu menangis, meratap, dan menyalahi takdir, dia pasti akan sangat menyesali dirinya yang pergi duluan meninggalkanmu. Jadi, berhentilah. Kumohon.”
            Diana mengangkat wajahnya, dia memandangku. “Dia bukan pacarku. Tapi, dia adalah sahabat yang sangat berharga bagiku. Dan aku tidak menyangka dia meninggalkanku karena kesalahanku.”
            Aku mendekat ke sebelah Diana. “Boleh aku duduk di tempat tidurmu?”
            Dia mengangguk. Kemudian aku mendaratkan pinggulku di tempat tidur.
            “Sejak kecil aku mengidap penyakit mematikan. Tubuhku lemah dan rentan terkena berbagai penyakit. Karena itu, aku tidak pernah keluar rumah. Bahkan, rumah sakit pun sudah menjadi rumah keduaku. Jika ingin belajar, aku mendatangkan guru ke rumah. Jika ingin memandang matahari terbenam, aku cukup melihat video sambil berbaring di tempat tidur. Semua itu kulakukan di rumah. Betapa menyedihkannya diriku, bukan?”
            Diana tercenung. Dia menelan kata-kataku perlahan.
            “Oleh karena itu,” Lanjutku. “Jangan pernah menganggap takdir menipumu, ataupun mencurangimu. Takdir tidak pernah mengorbankan dirimu sebagai orang yang harus disalahkan. Karena kamu memang tidak salah. Takdir hanya memilihmu sebagai jalan untuk memperlihatkan kehendaknya. Kembalilah tersenyum. Aku sangat ingin melihat senyum tulusmu di pagi hari, seperti yang biasa kudapati setiap hari.”
            “Kamu mengintipku?” tanyanya. Perkataannya membuat pipiku memerah.
            “E.. Eh, tidak. Aku hanya tidak sengaja.”
            Aku masih dalam keadaan gugup, tiba-tiba Diana memelukku. Tangannya mendekapku erat.
            “Maafkan aku karena tidak menyadarinya. Seharusnya aku tahu kalau kamu selalu memperhatikan aku. Dan, seharusnya kamu lebih berani untuk menyapaku. Seharusnya kita sudah saling mengenal dan berbicara satu sama lain sejak lama.”
            “Maafkan aku. Aku akan berusaha.”
            Diana melepaskan pelukannya dariku. Dia mengusap air matanya.
            “Terimakasih sudah berkunjung dan menyemangatiku. Ini adalah kado terindah di hari ulang tahunku,” ucapnya. Kali ini, senyumannya telah kembali mengukir di bibirnya. Dan matahari kembar pun telah terbit di pipinya.
            Aku terdiam sejenak. Memikirkan bahwa ada kado yang lebih layak lagi untuk kuberikan pada Diana. Sebuah kado dari seseorang yang mengorbankan jiwa dan raganya pada seorang wanita yang dikaguminya. Atau, bisa kusebutkan, wanita yang dicintainya.
            “Tidak. Aku belum memberikan kado apa pun. Ada kado yang lebih penting yang akan kuberikan untukmu. Sebuah kado yang tak ternilai harganya.”
            Aku keluar dari ruangan itu, lalu mencari seseorang yang tepat untuk menjadi perantara kadoku.
            Tidak lama kemudian, aku kembali ke kamar Diana bersama seseorang berjas putih. Aku membawa dokter sebagai perantara.
            Diana tercengang. Dia tidak tahu apa yang akan kuberikan, dan apa yang akan kulakukan bersama seorang dokter.
            “Mulai besok, kamu sudah bisa berjalan kembali. Aku akan memotong kedua kakiku, dan menyerahkannya padamu. Aku ingin kamu berjalan dengan kakiku.”
            Diana terkejut. “Tidak. Aku tidak bisa menerimanya.”
            “Kumohon. Ini adalah keinginanku. Dan takdir juga tidak menolaknya,” ucapku memohon.
            “Lalu bagaimana dengamu?”
            “Jangan khawatir. Aku tidak memerlukannya. Aku hanya butuh senyumanmu. Dengan melihat dirimu, itu sudah cukup untuk menambah semangat hidupku.”
            Diana tidak berkata lagi. Dia tak lagi menolak.
            Kemudian, aku memotong kakiku dan dokter melekatkannya pada Diana.
            Kini Diana sudah bisa berjalan kembali. Melangkah bersama kakiku. Dan membawa kakiku ke tempat yang belum pernah kutuju.

***

            Diana mengunjungiku setiap hari. Ketika dia telah menyelesaikan kuliahnya, dia akan pergi ke kamarku. Kadang dia membawakanku masakan buatannya. Lalu kami mengobrol bersama. Menghabiskan waktu bersama. Aku tidak menyangka takdir membawaku ke tempat yang sangat indah. Bahkan lebih indah dari taman bunga yang selalu kulihat di youtube.
            Jika aku mati kelak, aku tidak akan menyesali hidupku. Dan benar, aku sangat bahagia saat ini. Di saat kematian semakin dekat padaku.
            Keadaan tubuhku semakin memburuk. Dokter berkata demikian. Sudah beberapa hari aku terbaring di rumah sakit. Tubuhku terkapar lemah, seakan ototku sudah punah dari tubuhku.
            Mengetahui kondisiku, Diana menjadi khawatir. Dia tidak pernah luput dari pandangan mataku setiap harinya. Bahkan ketika aku di rumah sakit.
            Suatu ketika, dokter datang bersama kalimat yang sudah kunantikan sejak lama. “Umurmu sudah tidak lama lagi. Dan kematian bisa datang kapan saja.”
            Ketika dokter mengucapkan kalimat itu, orang tuaku dan Diana terkesiap. Mereka tidak bisa menerima perkataan itu. Berulang kali mereka menyuruh dokter untuk mengubah perkataannya. Namun beberapa kali pula dokter mengucapkan kalimat yang sama.
            “Sial. Akhirnya saat-saat seperti ini datang juga.” Aku mengucapkan kalimat itu tanpa rasa takut, menyesal, atau pun khawatir sedikit pun. Aku sudah siap kapan pun malaikat maut merampas nyawa dari ragaku.
            Orang tuaku menangis. Diana menangis. Orang-orang yang kucintai menangis. Aku pun merasa sedih. Bukan sedih karena diriku sendiri, tapi karena mereka yang akan merasa kehilanganku.
            Diana menatapku lekat-lekat. Matanya masih berkaca-kaca, seperti kolam yang riaknya tak henti-henti.
            “Aku tidak ingin kehilanganmu.”
            “Kamu akan kehilangan diriku. Dan semua harus menerima itu. Tidak ada yang abadi dan berjalan sesuai keinginan manusia,” ucapku meyakinkan.
            “Tapi tidak secepat itu. Akhirnya kita bisa berbicara dan mendukung satu sama lain. Aku tidak mau kehilangan orang yang kucintai secepat mawar mekar yang dihempas angin.” Diana mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang sama sekali tidak pernah kusangka.
Dia... Mencintaiku.
“Kamu mencintaiku?
“Tentu saja! Setelah semua pengorbananmu, perhatianmu, dan kasih sayang yang kamu curahkan padaku, tidak mungkin aku tidak mencintaimu.” Diana terisak. Dia terlihat sangat hancur dihantam kenyataan pahit.
Jika aku bisa berkunjung dan mengetuk pintu rumah malaikat maut, aku ingin berkata, “malaikat, izinkan aku untuk hidup di dunia ini lebih lama lagi.” Sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi.
“Untuk terakhir kalinya aku minta maaf padamu. Aku tidak bisa berada di sisimu selamanya. Namun setidaknya, aku telah menitipkan kakiku padamu. Yang akan membawa keinginanku untuk menjelajahi dunia ini. Dan, yang akan selalu berada di sisimu sebagai wujud pengorbananku. Sebuah pengorbanan yang kusebut cinta.”
Diana menerjang dokter yang berada di sebelahnya. Dia memegang sang dokter erat-erat, lalu bertanya, “apakah kepala Salvador baik-baik saja?”
“Iya, baik-baik saja. Hanya tubuhnya yang terserang penyakit. Namun, jika terus dibiarkan, tidak lama lagi kepalanya pun akan dijamahi penyakit mematikan itu,” ucap dokter menegaskan.
“Kalau begitu potong kepalanya!” Diana meminta dokter melakukan sesuatu yang di luar dugaanku.
“Hei. Apa yang ingin kamu lakukan dengan kepalaku?” tanyaku.
“Aku tidak peduli bagian tubuh mana pun yang bersamaku, asalkan aku masih bisa berbicara denganmu, aku akan sangat senang. Dan aku sangat menginginkannya.”
Kesungguhan Diana mengucapkannya benar-benar tulus dari hatinya. Perasaannya telah sampai padaku. Seperti semanggi berwarna pelangi yang terhembus angin dan akhirnya mendarat di tanah gersang. Cinta yang dia sampaikan padaku membuatku bangkit dan ingin berusaha sekeras mungkin.
“Lakukan, dokter. Aku tidak peduli walaupun aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa melihat dengan kedua bola mataku, asalkan aku bisa berada di sisi Diana, aku tidak mempermasalahkannya.”
Dokter menatap wajah orang tuaku. Orang tuaku tidak menolak. Akhirnya, pemotongan leherku pun dimulai. Aku tidak membutuhkan tubuh yang hanya bisa membebaniku. Kedua bola mata sudah cukup untuk melengkapi hidupku, agar bisa memandang senyum Diana setiap hari.
Kemudian, aku hidup bersama Diana. Waktu kami lalui seperti perahu yang berjalan di atas air yang tidak pernah berhenti mengalir. Semua terasa indah, hanya karena kebersamaan.
Setiap pagi aku terbangun, Diana telah berada di sampingku, lalu menciumku dengan lembut. Dia membuatkanku masakan yang enak, lalu menyuapiku. Dia membacakanku cerita yang menurutnya indah sehingga aku sadar bahwa tidak ada cerita atau pun kisah di dunia ini yang bisa menandingi indahnya kisah cintaku dan Diana.
Diana telah menjadi malaikat penjagaku.
            Pengorbanan telah membawa kami pada cinta. Kasih sayang telah menghantarkan kami pada kesetiaan. Tidak ada yang lebih indah dari saat seorang manusia hidup bersama orang yang dia cintai. Terlebih, ketika dia telah melewati berbagai rintangan.
            Cinta menyapu segala hitam yang menjadi penghalang.





0 comments:

Post a Comment