Gadis berambut hitam lurus itu menyematkan senyumnya lekat-lekat . Pipinya yang putih terlihat seperti es krim vanilla yang dibubuhi stroberi, ketika wajahnya dirambat rona, lamat-lamat. Tubuhnya semampai. Berbeda dengan 10 tahun lalu, ketika dia masih kecil dan sering merengek ketika terjatuh. Kini dia telah remaja. Sudah tahu asa dan cinta.
“Seorang pria menyatakan cintanya padaku, Kak Arbre,” serunya padaku dengan riang.
“Apa kau menerimanya?”
“Tentu saja. Aku terkejut, ternyata kami memiliki perasaan yang sama.”
Aku terdiam. Setitik senyum menyembul di bibirku. Perasaanku tampaknya belum tersampaikan dan harus menemui tembok besar. Sama seperti sebelum-sebelumnya.
Gadis itu masuk ke rumah. Aku merebahkan tubuhku di pangkuan pepohonan, mencoba kembali tertidur. Kelihatannya aku akan terlelap kembali, seperti sebelum aku bertemu dengan gadis itu. Tertidur selama beratus tahun.
0 comments:
Post a Comment