Angin selalu mencari tempat terendah untuk disinggahi bersama pintalan sulur kenangan. Desiran yang membisu menerpa hangat ke tubuh pria itu, menerjang rasa rindu yang mengalir deras di nadinya. Terik mentari tak pernah sirna membakar angan-angan, membuat dirinya setia akan takdir yang senantiasa mempertemukan antara impian dan kenyataan.
Mata pria itu berkaca-kaca, ia memandang sore yang kelabu tertutup ombak awan yang membelah barisan cakrawala. Setiap kali kaki-kaki berceloteh di punggung padang rumput tempatnya berdiri, dia menoleh ke arah suara sembari menyerukan kalimat yang tidak pernah luput dari bibirnya, “apakah itu kau?”
Namun, sebanyak ia berharap, sebanyak itu pula ia ditampar kekecewaan yang tak pernah berbalas dengan harapan. Kelopaknya berguguran, lalu diterbangkan angin dengan harapan perasaannya tersampaikan pada seseorang yang dirindukannya.
“Untuk apa aku kembali lagi? Jika aku tak bisa memandang wajahnya yang penuh dengan kelembutan dan kehangatan yang bisa melelehkan kebekuan hatiku, untuk apa aku berdiri di sini? Apakah ini sebuah kesia-siaan?” ia bergumam, menumpahkan pertanyaan-pertanyaan yang selalu diteriakkannya pada langit yang membisu tanpa ada seutas jawaban pun yang bergema.
Ketika fajar tiba dengan pendar cahaya yang menyala mengusir kesunyian malam, ia menatap jalanan kecil di tepian sungai yang selalu dihantam tapak sepatu orang-orang yang berlari pagi. Dia tetap berucap, “apakah itu kau?” namun kekecewaan tak pernah luput dari hatinya. Orang yang dirindukannya belum kunjung ia temui.
Kadang, kala kupu-kupu menghampirinya dengan kepakan sayapnya yang menyemburkan keping-keping ratapan malam, pria itu menyambutnya dengan ramah. Ia usapkan jemarinya yang lembut di sekeliling sayap kupu-kupu itu. Lalu, ia ajak kupu-kupu itu bercerita. Sang kupu-kupu dengan senantiasa mengisahkan perjalanannya selama beterbangan kian kemari, menyempatkan dirinya singgah ke tempat-tempat yang meninggalkan jejak kenangan pada kehidupan. Kupu-kupu itu tampak riang. Namun, bagi sang pria, kisah-kisah yang disampaikan kupu-kupu hanyalah ilusi yang tak akan pernah disaksikan oleh kedua matanya. Kadang ia iri pada si kupu-kupu.
Tak jarang pula, ketika rasa rindu membuncah, pria itu bertanya pada sang kupu-kupu, “Hei, kau telah menginjakkan kaki-kaki kecilmu itu ke setiap sudut dunia ini. Pernahkah kau bertemu dengan gadis yang kucintai?”
Kupu-kupu itu murung, merasa sedih karena jawabannya hanya akan berbuah kekecewaan pada sang pria. “Maaf, aku belum pernah bertemu dengannya. Namun, ketika saat itu tiba, akan kusampaikan kabarnya padamu.”
Rindu tiba di saat pertemuan berakhir. Rindu akan selalu tumbuh di saat manusia menyadari betapa berartinya kesempatan. Sayangnya, pria itu tak diberkati banyak kesempatan, walau ia mencintai gadis pujaannya di setiap detik waktu yang terseret dengan sayup-sayup.
Ia masih ingat, beberapa tahun lalu ia pernah merasakan detik paling berbunga di sepanjang hidupnya. Saat itu, ia mengungkapkan cintanya pada gadis yang disukainya. Dan, butiran hujan yang membasahinya kala itu terasa seperti lembaran sinar mentari yang berjatuhan menumbuk bahunya bersama dengan kehangatan musim semi. Cintanya bersambut. Gadis itu mencintainya pula.
Tak lama setelah mereka merajut kisah manis yang akan menjadi penghuni memori kehidupan kedua pasangan itu, mereka harus menghadapi sebuah perpisahan yang menjadi destinasi terakhir akan kisah manis yang tak akan pernah terulang kembali. Sekitar dua tahun lalu, pria itu pergi meninggalkan gadis yang dicintainya. Bukan karena kemauan, atau pun hasrat yang terlintas sesaat, namun bom bernama waktu telah memasuki fase meledak dan menarik pria itu menuju petualangan barunya.
Pria itu pergi, meninggalkan goresan duka bagi gadis yang mencintainya, dan juga yang sangat ia cintai seutuhnya.
Kini, ia kembali lagi. Tetapi, kembalinya ia tak akan pernah menjadi obat atas perpisahan itu. Ia kembali tanpa bisa memeluk gadis itu lagi.
“Hei, angin. Terbangkanlah aku menuju gubuk tempat dimana seharusnya aku berdiri,” pinta pria itu.
“Lebih baik kau jernihkan pikiranmu. Itu tidak mungkin!” tukas sang angin mengabaikan permohonan pria itu.
Ia terus berharap. Ia terus bertanya. Kekecewaan, rasa sakit, kerinduan, semua perasaan bertubi-tubi menamparnya hingga menusuk api kecil yang sempat berkobar di dadanya.
Pada sore yang lengang tanpa sapaan koloni burung-burung yang biasanya singgah, di padang rumput tempat sehari-hari pria itu berdiri, setitik harapan turun dari langit menembus kawanan awan yang menguning disaput cahaya petang. Dari kejauhan ia melihat sesosok orang yang tak pernah ia kira akan ditemuinya kembali. Gadis yang dicintainya.
“Nadhira, kaukah itu?” gumamnya. Air mata merayap perlahan di pematang pipinya.
Ia ingin berteriak, memekikkan nama gadis itu sekeras mungkin. Namun, keinginannya tidak akan pernah terwujud. Pekikkan dari sekuntum bunga Yellow Camellia yang kelopaknya menguning selaras dengan warna langit tak akan pernah sampai ke telinga gadis yang pipinya memerah disiram cahaya mentari senja.
Gadis itu berjalan di sekitar rerumputan yang menyerbakkan aroma hujan tadi siang yang masih tersisa. Kaki-kaki kecilnya menapaki tanah yang gembur. Ia menghampiri pria yang kini berwujud bunga itu. Pipinya memerah.
“Yellow Camellia, lambang kerinduan.” Ia bergumam, wajahnya merona.
Pria yang menatapnya dari bawah, dengan tubuh kecilnya yang sesekali tertekuk di terpa angin sore, hanya bisa meratapi kemustahilan. Walau jarak mereka begitu dekat, hanya sepuluh centimeter, namun ia tidak mampu memeluk gadis yang dirindukannya itu. Butir air mengalir di kelopak bunganya, sisa hujan tadi siang, atau bisa juga sebuah air mata kerinduan.
Rintik-rintik air mulai berjatuhan, membasahi sekujur tubuh pria itu. Hujankah? Bukan. Air mata kerinduan. Air mata yang berderai dari kelopak mata sayu milik gadis tadi.
“Mengapa ketika aku melihat bunga ini, tiba-tiba bayangannya muncul di benakku?” Gadis itu terisak. Suaranya samar-samar beriringan dengan lenguhan arus sungai.
Sang pria tak mampu berucap apa pun. Jika saat ini ia berwujud manusia, dia pasti akan memeluk gadis itu tanpa sepatah kata pun. Hanya tangisan yang mampu diserukannya. Sayangnya, ia hanya bisa meratapi kerinduan itu dengan tangisan yang hanya mampu didengar kawanan angin yang singgah sebentar, atau pun kumbang-kumbang yang tak pernah peduli dengan teriakan duka bunga yang kesepian.
“Alvan, aku sangat merindukanmu. Mengapa kau meninggalkanku di saat aku mulai merajut namamu di relung hatiku?” Gadis itu tak kuasa memendam perasaannya lagi. Kerinduannya begitu pekat, hingga langit pun tak mampu membendung rintik hujan yang mulai berjatuhan.
Gadis itu mengeruk tanah yang menopangi tubuh pria yang berwujud bunga. Lalu, ia angkat gundukan tanah yang di atasnya berdiri kokoh bunga Yellow Camellia. “Pulanglah bersamaku. Rumah adalah tempat ternyaman untuk kau tinggali.”
Gadis itu pulang, bersama dengan bunga yang memunculkan kembali kenangan lama. Walau ia tak pernah tahu bahwa bunga yang di genggamnya adalah sosok pria yang pernah dan akan selalu dicintainya, namun ia merasa ada banyak kenangan yang tersampaikan dari bunga itu. Ia merasa Alvan selalu di sisinya saat bersama bunga itu.
Bunga yang melambangkan kerinduan itu diletakkan sang gadis di atas meja yang bersebelahan dengan tempat tidurnya. Ketika fajar tiba dan ia terbangun, ia bisa memandangi bunga itu. Aroma yang tak asing baginya pun menyeruak, menyemangati paginya yang akan dilewati dengan pelangi kehidupan. Baginya, Alvan akan selalu berada di sisinya, di sepanjang alur kehidupan yang ditapakinya.
Penyesalan yang pernah melintasi perasaan Alvan pun kini punah tak bersisa. Baginya, kesempatan untuk bisa bereinkarnasi walau hanya menjadi sekuntum bunga adalah anugerah termanis yang diberikan Tuhan padanya. Ia tak mempermasalahkan walaupun kini tidak bisa memeluk tubuh hangat Nadhira lagi. Baginya, memandang wajah bahagia Nadhira dengan senyum yang selalu melelehkan kebekuan hatinya adalah hal terindah di sisa kehidupan keduanya.
0 comments:
Post a Comment