Bencana di Langit Pagi

Pagi telah terbit. Biasanya, di saat seperti ini, hanya terdengar kecipak air dari kolam di belakang rumah karena cucuran air dari tempat yang lebih tinggi. Begitu sunyi. Tenteram. Dan, damai. Namun, hari ini adalah pengecualian. Pagi ini bukanlah kedamaian. Pagi ini adalah pergulatan. Batin dan logika, keduanya melebur menjadi satu. Meremukkan kesabaranku.
Di depan pintu rumah, bukan dua-tiga orang yang berdatangan. Jumlah yang tak biasa, orang-orang sekampung.
Aku tepat berada di bibir pintu, berhadapan dengan orang-orang bertampang gusar. Emosi mereka tampak meletup-letup. Ada problema. Ada ketidakjelasan. Mereka menuntut sesuatu. Namun, aku lebih tidak mengerti, mengapa rumahku menjadi target ketidakpuasan mereka.
Mamak, lelaki tertua dari saudara ibuku, mengambil tempat terdepan di barisan tak berketeraturan itu. Wajahnya tenang.
“Fandi, kamu harus ikut ke rumah Mamak. Kamu harus menjelaskan permasalahan ini pada Mamak dan para pemangku adat,” ucap Mamak padaku.
“Masalah apa, Mak?” tanyaku kebingungan.
“Maria. Dialah pangkal masalahnya. Dan, dia berujar bahwa kamulah biang dari permasalahan ini.”
Dari kerumunan ombak manusia, seseorang berjalan menghampiri Mamak. Dia menunduk. Matanya sayu, menguncup perlahan-lahan. Kedua tangannya mengulur ke depan, memeluk perutnya yang.... membuncit.
“Tidak baik kita berbicara di sini. Sekarang kamu harus ke rumah Mamak,” tukas pria baruh baya itu.
“Tapi, Mak..”
“Fandi!” sela Mamak. Suaranya mengeras dan lebih tegas.Aku pun tidak bisa berucap lagi. Kuturuti keinginannya.
Setelah masuk ke dalam rumah dan mengganti pakaian, aku berjalan bersama Mamak, Maria, dan orang-orang sekampung. Benar-benar seperti ombak manusia yang sudah tidak sabar mengamuk di lautan lepas.
**
“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Mak? Aku sungguh tidak mengerti akar permasalahannya,” ucapku berhati-hati. Saat itu, aku duduk di rumah mamak. Para pemangku adat pun telah lengkap di sana. Serta, Maria yang masih membungkus perut buncitnya dengan kedua tangannya.
“Ceritakan, Mar,” sahut Mamak.
Maria menggigil. Matanya tak bercahaya. Kegetiran bergelombang di bola matanya.
“Lima bulan yang lalu. Semua berawal semenjak itu.” Dia mulai bersuara. Serak. “Saat itu aku dan Fandi berteman sangat dekat.”
Aku tidak mengerti dengan definisi berteman sangat dekat. Seingatku, saat itu Marialah yang berusaha mendekatiku. Sementara, aku malah merasa risih karena kedekatan itu. Tidak cocok jika dikatakan teman dekat. Aku keberatan.
“Ketika kami telah benar-benar dekat, bencana itu pun datang. Kami khilaf. Aku dinodai oleh Fandi. Aku hamil.” Suara Maria terdengar seperti  petir di siang bolong nan cerah. Menyentak, namun mustahil.
“Apa-apaan ini? Jangan asal bicara kamu!” bentakku, tidak terima dengan tuduhannya.
Mamak dan pemangku adat menatapku beramai-ramai. Tatapan menuduh. Mata yang mengintimidasi.
“Dia tidak asal bicara. Dia punya bukti. Lihatlah perutnya, membuncit.” Mamak menunjuk perut Maria yang menonjol.
“Itu tidak benar, Mamak. Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak pernah menyentuh dia.”
“Semua ada buktinya. Sudah jelas. Kamu tidak bisa mengelak. Orang-orang sekampung tahu bahwa kamu dan Maria beberapa waktu lalu sempat berteman dekat.” Mamak semakin menegaskan kalimatnya. Pembelaanku seakan seperti genggaman pasir yang diterbangkan puting beliung. Tak berarti apa-apa.
“Ini gila! Aku tidak percaya. Sekarang, bukalah bajumu, dan tunjukkan apakah gundukan itu benar-benar perutmu yang membuncit ataukah kain yang kau bungkus sehingga membuat perutmu besar. Buka bajumu!” Suaraku membentak. Aku benar-benar murka.
Kekonyolan apa ini? Selama ini aku selalu berperilaku baik. Aku tidak pernah melewatkan kegiatan sosial. Aku selalu meramaikan masjid kampung. Sebuah fitnah seperti ini adalah sebuah coretan menghinakan bagi seseorang yang dikenal baik sepertiku di mata masyarakat. Aku tidak terima.
“Aku tidak mau,” seru Maria.
“Lakukan, kau takut kebohonganmu terbongkar, kan?” ujarku.
“Hentikan, Fandi,” sela Mamak. Matanya nanar. “Jangan seenaknya melakukan hal yang tidak ingin dilakukan oleh orang lain. Kamu ingin merusak privasinya, hah?”
“Privasi apa? Dia telah memfitnahku.”
Mamak menghela napas. Tangannya memijit pelipisnya yang mulai berkerut. Kumisnya berayun-ayun, diterpa napas dan angin yang mengalir dari jendela yang berada di belakangnya.
“Sekarang mengakulah, Fandi. Maria telah memperlihatkan perut buncitnya. Dan, dia telah menjelaskan kronologinya. Kamulah penyebab kehamilan dirinya.” Kali ini, salah seorang pemangku adat yang berbicara.
Aku kehilangan akal. Aku telah menceritakan kebenaran. Aku telah menjabarkan kepastian. Namun, semuanya dilempar dengan kejam, dan tak satu pun kata-kataku yang dicerna. Mereka tidak mempercayai fakta yang kuberikan. Malah, bualan Maria menjadi hal yang absolut di mata mereka.
“Berpikirlah, wahai orang-orang yang dituakan. Bukan kebenaran yang diucapkan oleh mulut busuk Maria ini. Banyak ketidakjelasan dari pernyataanya,” tukasku lebih tegas.
“Tapi orang-orang sekampung mempercayai pengakuan Maria.”
“Lantas, haruskah kalian mempercayainya juga?” tanyaku.
Mereka terdiam, saling berpandangan satu sama lain. Kemudian bersuara kembali, “tentu saja. Suara masyarakat juga suara kami pula.”
Baik. Aku tidak tahan lagi. ini seperti garam yang dicampurkan ke dalam teh. Asing dan tak masuk akal.
“Kalian gila! Dunia tak waras! Bagaimana bisa seorang pria bisa menghamili pria? Tidakkah kalian berpikir?” Aku bertanya sekali lagi. Pertanyaan terakhir. Pertanyaan yang kusangka tidak akan bisa mereka jawab dengan bantahan lagi.
Mariadi masih menunduk. Matanya tetap tertutup. Entahlah, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Mungkin, jika orang-orang mempercayainya, dalam hatinya, dia akan berteriak dengan keras.
“Tapi orang-orang di luar mempercayai penjelasan dari Maria. Kami juga harus percaya,” Mamak dan pemangku adat serentak menjawab. Mereka sepakat dengan kebodohan.

Aku tidak menjawab lagi. Aku pasrah. Dengan mataku yang setengah terpejam, aku bisa melihat senyum kemenangan mengukir di bibir Maria, atau lebih tepat kusebut Mariadi. Senyum penuh kenistaan.



Cerpen ini gue bikin dalam rangka tantangan menulis   dari Kampus Fiksi. 

Pesan moral: Jangan jadi manusia yang bodoh. Jangan gampang mempercayai isu. Apalagi mempercayai isu yang berbau kemustahilan. Jika kamu mempercayainya dengan mudah, itu bisa memperlihatkan kualitasmu yang rendah di mata orang. Saat ini banyak tersebar kabar, berita, dan informasi yang masih kabur kejelasannya. Namun, tetap saja banyak orang yang mempercayai. Ingatlah, saat ini pun banyak orang yang sengaja menumbalkan harga dirinya demi menjadikan bualannya menjadi sesuatu yang bisa dipercayai orang lain. Orang-orang seperti ini adalah orang yang ingin menyebarkan fitnah. Lawanlah keburukan dengan logika dan ilmu.

0 comments:

Post a Comment